Devia Augustria Thaher
Universitas Kristen Maranatha

Published : 1 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 1 Documents
Search

Representasi Identitas Sosial Melalui Roujingo dalam Anime Tensei Shitara Slime Datta Ken: Perspektif Sosiolinguistik Devia Augustria Thaher; Melinda Dirgandini
Janaru Saja Jurnal Program Studi Sastra Jepang Vol. 15 No. 1 (2026): Mei 2026
Publisher : Program Studi Sastra Jepang, Universitas Komputer Indonesia Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.34010/js.v15i1.18328

Abstract

Abstract Roujingo, the elderly language in Japanese fiction, is part of yakuwarigo or role language. Roujingo is frequently employed in fictional works to portray characters with certain stereotypes, such as advanced age or high social status. This study aims to examine the use of roujingo in the anime Tensei Shitara Slime Datta Ken through a sociolinguistic approach, applying three of Fishman's seven sociolinguistic dimensions as cited in Malabar (2015), namely speaker identity, interlocutor identity, and the location of speech events. The data consist of six sets of dialogues from Season 3, episodes 1, 2, 3, and 20, collected using the observation and note-taking technique. The analysis reveals that the use of roujingo in this anime not only reflects age or social status but also functions as a marker of authority, power hierarchy, and character construction including characters who appear visually young but are actually of advanced age, as seen in the characters Luminous Valentine and Veldora. This study also highlights the distinction between the use of roujingo in anime and its use in Japanese social reality, where this linguistic style is rarely found in everyday conversation. This research is expected to contribute to understanding the relationship between language, stereotypes, and social dynamics in fictional media. Keywords: anime, roujingo; yakuwarigo; sociolinguistics; Kinsui  Abstrak Roujingo, bahasa lansia dalam fiksi Jepang, merupakan bagian dari yakuwarigo atau bahasa peran. Roujingo, sering digunakan dalam karya fiksi untuk menggambarkan karakter dengan stereotip tertentu, seperti usia lanjut atau status sosial yang tinggi. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji penggunaan roujingo dalam anime Tensei Shitara Slime Datta Ken melalui pendekatan sosiolinguistik, menggunakan tiga dari teori tujuh dimensi sosiolinguistik Fishman dalam (Malabar, 2015), yaitu identitas penutur, identitas petutur dan lokasi peristiwa tutur. Data berupa enam set dialog dari Season 3 episode 1, 2, 3, dan 20 yang dikumpulkan melalui teknik simak catat. Analisis mengungkapkan bahwa penggunaan roujingo dalam anime ini tidak hanya mencerminkan usia atau status sosial tetapi juga berperan sebagai penanda kewibawaan, hierarki kekuasaan dan konstruksi karakter termasuk pada tokoh yang secara visual tampak muda namun sesungguhnya berusia lanjut, seperti nampak pada tokoh Luminous Valentine dan Veldora. Penelitian ini juga menyoroti perbedaan antara penggunaan roujingo dalam anime dan penggunaannya dalam realitas sosial Jepang, di mana gaya linguistik ini jarang ditemukan dalam percakapan sehari-hari. Penelitian ini diharapkan berkontribusi dalam memahami hubungan antara bahasa, stereotip, dan dinamika sosial dalam media fiksi.  Kata kunci: anime, roujingo; yakuwarigo; sosiolinguistik; Kinsui