Claim Missing Document
Check
Articles

Found 3 Documents
Search

Bacterial Patterns, Causes, and Antibiotic Resistance in Neonatal Sepsis Cases at Yarsi Hospital and its Review from an Islamic Perspective Amelia Fernanda; Elsye Souvriyanti; Endah Purnamasari; Siti Nur Riani
Eduvest - Journal of Universal Studies Vol. 6 No. 5 (2026): Eduvest - Journal of Universal Studies
Publisher : Green Publisher Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59188/eduvest.v6i5.53153

Abstract

Neonatal sepsis is a major cause of newborn morbidity and mortality, especially in developing countries. This systemic bacterial infection can progress rapidly and become fatal without early and appropriate treatment. Effective empirical antibiotic therapy depends critically on the local pattern of causative bacteria and the level of antibiotic resistance within each hospital. This research aims to identify the pattern of bacteria causing neonatal sepsis and analyze bacterial resistance to certain antibiotics based on medical record data, culture results, and antibiotic resistance tests from blood specimens of neonates suspected of having sepsis who were treated at YARSI Hospital during the period 2022-2024. Data was collected by observing and recording medical records of neonatal sepsis patients treated at YARSI Hospital from January 2022 to December 2024. Data analysis was performed in stages using SPSS and Microsoft Excel. The results showed that neonatal sepsis most often occurred in male neonates, was born prematurely, and was dominated by Gram-negative bacteria, especially Klebsiella pneumoniae. Gram-negative bacteria exhibited widespread resistance to first-line antibiotics, while sensitivity to certain antibiotics such as amikacin, tigecycline, and carbapenems was still found. Most cases fell into the multidrug-resistant (MDR) category, indicating a significant challenge in empirical therapy, although no statistically significant association was found between bacterial type and MDR levels. These findings underscore the importance of blood culture and antibiotic sensitivity testing as the basis for appropriate therapy, in line with Islamic values of preserving life, the continuation of generations, and the rational use of antibiotics.
Hubungan Pengetahuan Ibu Tentang Perkembangan Motorik Dengan Kemampuan Motorik Balita di Posyandu Duku Kelurahan Pengadegan Jakarta Selatan dan Tinjauannya Menurut Pandangan Islam Diajeng Banowati; Elita Donanti; Sri Hastuti Andayani; Siti Nur Riani
Cerdika: Jurnal Ilmiah Indonesia Vol. 6 No. 3 (2026): Cerdika: Jurnal Ilmiah Indonesia
Publisher : Publikasi Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59141/cerdika.v6i3.2994

Abstract

Latar Belakang: Periode balita merupakan fase krusial dalam proses perkembangan motorik kasar dan halus. Pengetahuan ibu mengenai perkembangan anak sangat penting untuk dapat memberikan stimulasi yang tepat sesuai tahapan usianya. Peneliatian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara tingkat pengetahuan ibu tentang perkembangan motorik dengan kemampuan motorik balita di Posyandu Duku, Kelurahan Pengadegan, Jakarta Selatan serta tinjauannya dalam perspektif Islam. Metode: Penelitian ini menggunakan desain analitik kuantitatif dengan pendekatan cross-sectional. Sampel penelitian berjumlah 40 ibu dan balita  yang dipilih menggunakan teknik quota sampling. Instrumen penelitian menggunakan kuesioner untuk menilai pengetahuan ibu serta kuesioner pra-skrining perkembangan (KPSP) untuk menilai kemampuan motorik balita. Analisis data dilakukan secara univariat dan bivariat menggunakan uji korelasi Spearman Rank. Hasil: Hasil penelitian menunjukkan bahwa sebagian besar ibu memiliki tingkat pengetahuan cukup (45,0%) dan sebagian besar balita memiliki kemampuan motorik sesuai usianya (72,5%). Hasil uji statistik menunjukkan adanya hubungan yang signifikan antara pengetahuan ibu dengan kemampuan motorik balita dengan nilai P < 0,001 dan koefisien kolerasi r = 0,527.  Perspektif islam menegaskan bahwa ibu adalah “madrasatul ula” (sekolah pertama bagi anak) yang berperan penting dalam menjaga kualitas generasi (hifz al-nasl). Simpulan: pada penelitian ini didapatkan hasil hubungan yang signifikan antara pengetahuan ibu dan kemampuan motorik balita. Ibu diharapkan terus meningkatkan pengetahuan melalui penyuluhan kesehatan maupun sumber informasi digital terpercaya serta memberikan stimulasi secara konsisten kepada balitanya.
Hubungan Status Gizi terhadap Kemampuan Motorik Balita di Posyandu Duku Kelurahan Pengadegan, Jakarta Selatan dan Tinjauannya Menurut Pandangan Islam Dhery Ramha Dwika Putri; Elita Donanti; Sri Hastuti Andayani; Siti Nur Riani
Cerdika: Jurnal Ilmiah Indonesia Vol. 6 No. 3 (2026): Cerdika: Jurnal Ilmiah Indonesia
Publisher : Publikasi Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59141/cerdika.v6i3.3001

Abstract

Latar Belakang: Status gizi merupakan faktor penting yang berpengaruh terhadap tumbuh kembang anak, termasuk kemampuan motorik. Balita berada pada masa golden age sehingga membutuhkan kecukupan gizi dan stimulasi agar perkembangan motorik halus maupun kasar berjalan optimal. Di Posyandu Duku Kelurahan Pengadegan, sebagian besar balita memiliki status gizi baik, namun masih ditemukan balita dengan penyimpangan perkembangan motorik. Hal ini menunjukkan perlunya kajian mengenai pengaruh status gizi terhadap kemampuan motorik balita. Tujuan Penelitian: Mengetahui hubungan antara status gizi dan kemampuan motorik anak balita di Posyandu Duku Kelurahan Pengadegan, Jakarta Selatan serta tinjauannya dalam perspektif Islam. Metode: Penelitian ini merupakan penelitian kuantitatif observasional dengan desain cross sectional. Populasi penelitian adalah seluruh balita usia 12–59 bulan di Posyandu Duku. Sampel berjumlah 40 responden yang diperoleh dengan metode quota sampling. Instrumen penelitian meliputi pengukuran antropometri (BB/U dan TB/U) untuk menilai status gizi serta Kuesioner Pra Skrining Perkembangan (KPSP) untuk menilai kemampuan motorik balita. Analisis data dilakukan menggunakan uji korelasi Spearman Rank. Hasil: Hasil penelitian menunjukkan bahwa sebagian besar balita memiliki status gizi baik (82,5%) dan kemampuan motorik sesuai (72,5%). Uji Spearman Rank menunjukkan nilai koefisien korelasi r = –0,103 dengan p = 0,528 (p > 0,05), sehingga dapat disimpulkan bahwa tidak terdapat hubungan signifikan antara status gizi dan kemampuan motorik balita. Kesimpulan: Penelitian ini menyimpulkan bahwa tidak terdapat hubungan antara status gizi dengan kemampuan motorik balita di Posyandu Duku Kelurahan Pengadegan, Jakarta Selatan. Perkembangan motorik balita diduga lebih dipengaruhi oleh faktor lain seperti stimulasi orang tua, lingkungan, dan pola asuh.