Claim Missing Document
Check
Articles

Found 4 Documents
Search

Hubungan Pengetahuan Ibu Tentang Perkembangan Motorik Dengan Kemampuan Motorik Balita di Posyandu Duku Kelurahan Pengadegan Jakarta Selatan dan Tinjauannya Menurut Pandangan Islam Diajeng Banowati; Elita Donanti; Sri Hastuti Andayani; Siti Nur Riani
Cerdika: Jurnal Ilmiah Indonesia Vol. 6 No. 3 (2026): Cerdika: Jurnal Ilmiah Indonesia
Publisher : Publikasi Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59141/cerdika.v6i3.2994

Abstract

Latar Belakang: Periode balita merupakan fase krusial dalam proses perkembangan motorik kasar dan halus. Pengetahuan ibu mengenai perkembangan anak sangat penting untuk dapat memberikan stimulasi yang tepat sesuai tahapan usianya. Peneliatian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara tingkat pengetahuan ibu tentang perkembangan motorik dengan kemampuan motorik balita di Posyandu Duku, Kelurahan Pengadegan, Jakarta Selatan serta tinjauannya dalam perspektif Islam. Metode: Penelitian ini menggunakan desain analitik kuantitatif dengan pendekatan cross-sectional. Sampel penelitian berjumlah 40 ibu dan balita  yang dipilih menggunakan teknik quota sampling. Instrumen penelitian menggunakan kuesioner untuk menilai pengetahuan ibu serta kuesioner pra-skrining perkembangan (KPSP) untuk menilai kemampuan motorik balita. Analisis data dilakukan secara univariat dan bivariat menggunakan uji korelasi Spearman Rank. Hasil: Hasil penelitian menunjukkan bahwa sebagian besar ibu memiliki tingkat pengetahuan cukup (45,0%) dan sebagian besar balita memiliki kemampuan motorik sesuai usianya (72,5%). Hasil uji statistik menunjukkan adanya hubungan yang signifikan antara pengetahuan ibu dengan kemampuan motorik balita dengan nilai P < 0,001 dan koefisien kolerasi r = 0,527.  Perspektif islam menegaskan bahwa ibu adalah “madrasatul ula” (sekolah pertama bagi anak) yang berperan penting dalam menjaga kualitas generasi (hifz al-nasl). Simpulan: pada penelitian ini didapatkan hasil hubungan yang signifikan antara pengetahuan ibu dan kemampuan motorik balita. Ibu diharapkan terus meningkatkan pengetahuan melalui penyuluhan kesehatan maupun sumber informasi digital terpercaya serta memberikan stimulasi secara konsisten kepada balitanya.
Hubungan Status Gizi terhadap Kemampuan Motorik Balita di Posyandu Duku Kelurahan Pengadegan, Jakarta Selatan dan Tinjauannya Menurut Pandangan Islam Dhery Ramha Dwika Putri; Elita Donanti; Sri Hastuti Andayani; Siti Nur Riani
Cerdika: Jurnal Ilmiah Indonesia Vol. 6 No. 3 (2026): Cerdika: Jurnal Ilmiah Indonesia
Publisher : Publikasi Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59141/cerdika.v6i3.3001

Abstract

Latar Belakang: Status gizi merupakan faktor penting yang berpengaruh terhadap tumbuh kembang anak, termasuk kemampuan motorik. Balita berada pada masa golden age sehingga membutuhkan kecukupan gizi dan stimulasi agar perkembangan motorik halus maupun kasar berjalan optimal. Di Posyandu Duku Kelurahan Pengadegan, sebagian besar balita memiliki status gizi baik, namun masih ditemukan balita dengan penyimpangan perkembangan motorik. Hal ini menunjukkan perlunya kajian mengenai pengaruh status gizi terhadap kemampuan motorik balita. Tujuan Penelitian: Mengetahui hubungan antara status gizi dan kemampuan motorik anak balita di Posyandu Duku Kelurahan Pengadegan, Jakarta Selatan serta tinjauannya dalam perspektif Islam. Metode: Penelitian ini merupakan penelitian kuantitatif observasional dengan desain cross sectional. Populasi penelitian adalah seluruh balita usia 12–59 bulan di Posyandu Duku. Sampel berjumlah 40 responden yang diperoleh dengan metode quota sampling. Instrumen penelitian meliputi pengukuran antropometri (BB/U dan TB/U) untuk menilai status gizi serta Kuesioner Pra Skrining Perkembangan (KPSP) untuk menilai kemampuan motorik balita. Analisis data dilakukan menggunakan uji korelasi Spearman Rank. Hasil: Hasil penelitian menunjukkan bahwa sebagian besar balita memiliki status gizi baik (82,5%) dan kemampuan motorik sesuai (72,5%). Uji Spearman Rank menunjukkan nilai koefisien korelasi r = –0,103 dengan p = 0,528 (p > 0,05), sehingga dapat disimpulkan bahwa tidak terdapat hubungan signifikan antara status gizi dan kemampuan motorik balita. Kesimpulan: Penelitian ini menyimpulkan bahwa tidak terdapat hubungan antara status gizi dengan kemampuan motorik balita di Posyandu Duku Kelurahan Pengadegan, Jakarta Selatan. Perkembangan motorik balita diduga lebih dipengaruhi oleh faktor lain seperti stimulasi orang tua, lingkungan, dan pola asuh.
The Relationship Between Nutritional Status and Age at Menarche Among Adolescent Girls at SD Islam Al Azhar 19 Sentra Primer and SMP Islam Al Azhar 22 Sentra Primer Najwa Alifia Fakhreza; Sri Hastuti Andayani; Tuty Herawaty
Jurnal Indonesia Sosial Sains Vol. 7 No. 3 (2026): Jurnal Indonesia Sosial Sains
Publisher : CV. Publikasi Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59141/jiss.v7i3.2262

Abstract

Menarche, the first menstruation, is a key indicator of biological maturity in girls. The age at menarche varies due to factors such as genetics, environment, physical activity, socioeconomic conditions, and nutritional status. Proper nutrition is crucial for sexual maturation because it affects reproductive hormones. Poor nutrition can delay menarche, whereas overnutrition or obesity may lead to earlier menarche due to increased estrogen levels associated with higher body fat. This research aims to assess the relationship between nutritional status and age at menarche among students at SD Islam Al Azhar 19 Sentra Primer and SMP Islam Al Azhar 22 Sentra Primer. This analytical-descriptive study used a cross-sectional approach with 211 respondents selected through purposive sampling. Nutritional status was measured using anthropometric data (height and weight) and body mass index (BMI) calculation. Age at menarche was obtained through structured interviews. Statistical analysis was conducted to test the relationship between nutritional status and age at menarche, with significance set at p < 0.05. Most respondents had normal nutritional status, and the majority experienced menarche between the ages of 10–11 years. Statistical analysis revealed a significant relationship between nutritional status and age at menarche (p < 0.001), with normal nutritional status correlating with menarche at expected physiological ages. A significant relationship exists between nutritional status and age at menarche. Adequate nutrition is vital for timely menarche, and monitoring nutritional status while promoting balanced diets is essential for supporting adolescent growth, development, and reproductive health.
The Relationship Between Nutritional Status and Sexual Maturity of Students at Al-Irsyad Al-Islamiyyah II Elementary School, Bekasi Salsabila Putri Anandita; Sri Hastuti Andayani; Tuty Herawaty
Jurnal Indonesia Sosial Sains Vol. 7 No. 3 (2026): Jurnal Indonesia Sosial Sains
Publisher : CV. Publikasi Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59141/jiss.v7i3.2263

Abstract

Puberty is a transitional period to adulthood characterized by physical, cognitive, and psychosocial changes. One of the indicators is sexual maturity and reproductive ability, which are influenced by various factors, including nutritional status. Nutritional imbalances can accelerate or delay sexual maturity. This study aims to determine the relationship between nutritional status and sexual maturity in students of SD Al-Irsyad Al-Islamiyyah II Bekasi. The design of this study is quantitative, with an analytical descriptive approach using a cross-sectional method. The sample consisted of 60 students in grades 4, 5, and 6, obtained using a total sampling technique. Nutritional status was measured using the Body Mass Index (BMI) based on the CDC 2000 growth chart, while sexual maturity was assessed using the Tanner staging questionnaire. The data were analyzed using the Chi-square test and Fisher’s exact test. The results showed a significant relationship between nutritional status and sexual maturity in male students, with a p-value = 0.023, and a p-value = 0.036 in the female group. Both results indicate that there is a significant relationship between nutritional status and sexual maturity in boys and girls.