Iwan Priyoga
Institut Teknologi Nasional Yogyakarta

Published : 2 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

Peningkatan Kualitas Permukiman Melalui Pendekatan Edukatif-Partisipatif Dalam Penerapan Rumah Sehat Di Desa Murtigading Iwan Priyoga; Dwi Kunto Nurkukuh
Suluh Abdi Vol. 8 No. 1 (2026): Suluh Abdi
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian Kepada Masyarakat (LPPM), Universitas Muhammadiyah Palembang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32502/suluhabd.v8i1.1919

Abstract

Kualitas permukiman merupakan indikator penting dalam pembangunan wilayah berkelanjutan, di mana rumah sehat menjadi komponen utama dalam mendukung kesehatan lingkungan dan kesejahteraan masyarakat. Permasalahan yang sering dijumpai pada kawasan perdesaan-perkotaan adalah belum optimalnya pemahaman masyarakat terhadap prinsip rumah sehat, meskipun infrastruktur dasar permukiman relatif telah berkembang. Kegiatan pengabdian ini bertujuan meningkatkan pemahaman dan kapasitas masyarakat dalam menerapkan prinsip rumah sehat di Desa Murtigading, Kecamatan Sanden, Kabupaten Bantul. Metode yang digunakan adalah pendekatan edukatif-partisipatif melalui identifikasi kondisi eksisting, penyusunan materi berbasis regulasi, serta penyuluhan dan diskusi interaktif. Kegiatan melibatkan ±25 peserta. Hasil evaluasi menunjukkan peningkatan pemahaman, dengan sekitar 80% peserta memahami pentingnya ventilasi, 72% pencahayaan alami, dan 68% sanitasi serta pengelolaan limbah domestik. Selain itu, terjadi perubahan persepsi bahwa rumah sehat tidak hanya ditentukan oleh kekuatan bangunan, tetapi juga oleh aspek kesehatan lingkungan. Kendala utama adalah keterbatasan ekonomi dalam perbaikan hunian. Oleh karena itu, pendekatan edukatif-partisipatif yang disertai rekomendasi teknis sederhana menjadi strategi yang efektif. Kegiatan ini berkontribusi sebagai praktik baik (best practice) yang dapat direplikasi pada wilayah dengan karakteristik serupa
Spatial transformation of Magelang City Square: Local–Colonial power relations from an urban morphological perspective Iwan Priyoga; Dwi Kunto Nurkukuh; Abdullah
ARTEKS : Jurnal Teknik Arsitektur Vol 11 No 2 (2026): ARTEKS : Jurnal Teknik Arsitektur | April 2026 ~ June 2026
Publisher : Program Studi Arsitektur Fakultas Teknik Universitas Katolik Widya Mandira

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30822/arteks.v11i2.5003

Abstract

Urban spatial transformation in Indonesia is inseparable from the enduring influence of colonialism, which has significantly contributed to the reconfiguration of urban spatial structure, functional organization, and spatial meaning. The Alun-alun, as a fundamental component of Javanese urban form, has experienced substantial transformation through the continuous negotiation between indigenous value systems and colonial interventions in spatial governance. This study seeks to investigate the spatial transformation of the Magelang Alun-Alun, to analyze the dynamics of local–colonial power relations embedded within its spatial restructuring, and to interpret the evolving meanings of space through an urban morphological lens. This research is situated within a qualitative-historical framework, utilizing archival investigation, field-based observation, and semi-structured interviews as primary methods of data collection. The analytical process is structured through spatial-historical analysis, examination of power relations, and biographical interpretation of space, enabling the identification of multilayered transformations in both spatial configuration and spatial meaning. The findings reveal that the Magelang Alun-Alun has undergone a significant transition from a cosmologically oriented space, reflecting the integration of indigenous authority systems and spiritual cosmology, into a more formally structured administrative space under colonial governance. This transformation not only redefined the physical spatial organization but also reconstructed the functional role and symbolic meaning of the Alun-Alun as an instrument of power representation and territorial control. Nevertheless, certain indigenous spatial elements persisted despite colonial restructuring, resulting in a hybridized spatial configuration that reflects both continuity and change. This study demonstrates that the Magelang Alun-Alun can be interpreted as a palimpsestic urban space, in which multiple historical layers coexist and interact to produce complex spatial meanings. The contribution of this research lies in the integration of urban morphological analysis with the study of power relations and spatial meaning, thereby offering a more comprehensive and critical understanding of colonial urban spatial transformation processes.