Yany Puspita Sari
Akademi Kebidanan Betang Asi Raya

Published : 1 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 1 Documents
Search

Gambaran Pengetahuan Ibu Pekerja Dalam Pemberian Asi  Eksklusif Pada Bayi Umur 0-6 Bulan Di Puskesmas Kayon Kota Palangka Raya Yany Puspita Sari; Lensi Natalia Tambunan; Harta
Journal of Health and Medical Science Vol. 2 No. 1 (2026): Journal of Health and Medical Science
Publisher : CV. Doki Course and Training

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.61994/jhms.v2i1.1753

Abstract

ASI eksklusif merupakan kebutuhan penting bagi bayi selama enam bulan pertama kehidupan, karena berperan dalam pertumbuhan, perkembangan, dan peningkatan daya tahan tubuh. Namun, praktik ASI eksklusif pada ibu bekerja sering terkendala oleh tuntutan pekerjaan, kurangnya fasilitas laktasi, serta keterbatasan pengetahuan mengenai manajemen ASI. Di wilayah Puskesmas Kayon Kota Palangka Raya, ibu bekerja menjadi kelompok yang memerlukan perhatian khusus dalam aspek edukasi ASI eksklusif. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui gambaran tingkat pengetahuan ibu bekerja tentang ASI eksklusif pada bayi usia 0–6 bulan di wilayah kerja Puskesmas Kayon Kota Palangka Raya. Penelitian menggunakan metode deskriptif kuantitatif dengan sampel sebanyak 44 ibu bekerja yang memiliki bayi usia 0–6 bulan. Teknik pengambilan sampel menggunakan purposive sampling. Data dikumpulkan melalui kuesioner berisi 32 pertanyaan terkait pengetahuan ASI eksklusif dan dianalisis secara deskriptif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sebagian besar responden berada pada usia 21–35 tahun (63,64%), bekerja di sektor swasta (43,18%), dan memperoleh informasi dari tenaga kesehatan (59,09%). Tingkat pengetahuan responden berada pada kategori baik sebesar 93,18%, dan 6,82% berada pada kategori cukup.Pengetahuan ibu bekerja tentang ASI eksklusif tergolong sangat baik. Edukasi dari tenaga kesehatan dan akses informasi memainkan peran penting dalam peningkatan pengetahuan tersebut. Upaya edukasi yang berkelanjutan tetap diperlukan agar praktik ASI eksklusif dapat diterapkan secara optimal.