Claim Missing Document
Check
Articles

Found 1 Documents
Search

Perkawinan yang Dijodohkan vs. Perkawinan karena Cinta: Dilema Pasangan Suami-Istri di Indonesia Modern Frans Dwiansyah; Laudya Cynthia Fung; Kendy Tri Wijaya Sihombing; William Chawi Sembiring; Nuah Zeffanya Sembiring; Bisru Hafi
Jurnal Intelek Insan Cendikia Vol. 3 No. 06 (2026): JUNI 2026
Publisher : PT. Intelek Cendikiawan Nusantara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penelitian ini membahas perbandingan antara dua metode pemilihan pasangan yang paling umum di Indonesia, yaitu arranged marriage (perjodohan) dan love marriage (menikah atas dasar pilihan sendiri). Fokus utama penelitian ini adalah untuk melihat mana di antara keduanya yang memiliki ketahanan lebih kuat dan apa saja faktor yang membuat sebuah pernikahan bisa bertahan lama di tengah perubahan zaman. Masalah ini menjadi penting karena data dari Mahkamah Agung tahun 2025 menunjukkan adanya kenaikan angka perceraian sebesar 12% dari tahun sebelumnya, di mana sebagian besar kasus terjadi pada usia pernikahan di bawah lima tahun. Berdasarkan data temuan, penelitian ini mengungkapkan hasil yang cukup mengejutkan bagi banyak orang: pasangan yang melalui proses perjodohan ternyata memiliki tingkat perceraian yang jauh lebih rendah, yakni sekitar 29%, jika dibandingkan dengan pasangan love marriage yang mencapai 71%. Hal ini disebabkan oleh beberapa faktor kunci, seperti adanya dukungan penuh dari keluarga besar yang berperan sebagai mediator saat terjadi konflik dan adanya kesamaan nilai-nilai latar belakang antara kedua pihak. Selain itu, pasangan perjodohan cenderung memiliki ekspektasi yang lebih realistis sejak awal sehingga mereka tidak mudah kecewa jika menghadapi masalah rumah tangga. Namun, keberhasilan perjodohan ini sangat bergantung pada proses pilihannya; model yang paling ideal adalah “Demokratis Penuh”, di mana orang tua hanya memfasilitasi dan keputusan akhir tetap berada di tangan anak. Di sisi lain, bagi pasangan love marriage, kunci ketahanannya terletak pada kualitas komunikasi, rasa saling memiliki, dan keterbukaan agar rasa cinta tidak menurun seiring berjalannya waktu. Sebagai kesimpulan, penelitian ini menunjukkan bahwa dukungan sosial dan persiapan mental yang matang sebelum menikah jauh lebih menentukan masa depan pernikahan daripada sekadar cara bagaimana pasangan tersebut bertemu.