Keluhan muskuloskeletal merupakan salah satu masalah kesehatan kerja yang sering dialami pekerja sektor laundry akibat paparan suhu lingkungan yang tinggi. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis hubungan antara suhu lingkungan kerja dan keluhan muskuloskeletal pada karyawan laundry di Kota Bandung. Desain penelitian menggunakan pendekatan kuantitatif korelasional dengan rancangan cross-sectional. Sampel terdiri dari 50 karyawan Laundry Club yang dipilih menggunakan teknik purposive sampling sesuai kriteria inklusi. Pengukuran suhu lingkungan kerja dilakukan menggunakan thermometer digital setiap satu jam pada rentang waktu 08.00–20.00 selama tiga hari berturut-turut, kemudian dihitung nilai rata-rata hariannya. Keluhan muskuloskeletal dinilai menggunakan Nordic Musculoskeletal Questionnaire (NMQ) versi Bahasa Indonesia yang memiliki validitas dan reliabilitas baik. Data dianalisis menggunakan uji Chi-Square dengan tingkat signifikansi 0,05 dan dilengkapi ukuran efek Cramer’s V untuk menentukan kekuatan hubungan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sebagian besar responden bekerja pada paparan suhu berisiko (>28°C). Terdapat hubungan signifikan antara suhu lingkungan kerja dan keluhan muskuloskeletal (χ² = 34,74; p < 0,001). Nilai Cramer’s V sebesar 0,834 menunjukkan bahwa kekuatan hubungan berada pada kategori sangat kuat, menandakan bahwa paparan suhu tinggi berkontribusi besar terhadap terjadinya keluhan muskuloskeletal. Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa suhu lingkungan kerja panas merupakan faktor penting yang meningkatkan risiko keluhan muskuloskeletal pada pekerja laundry, sehingga pengelolaan suhu kerja yang ergonomis perlu menjadi prioritas dalam upaya pencegahan masalah kesehatan kerja.