Kulit buah kakao dipilih karena merupakan limbah pertanian melimpah yang kaya akan komponen lignoselulosa (selulosa, lignin, dan pektin) dengan gugus fungsional aktif seperti hidroksil, karboksil, dan fenolik yang berpotensi mengikat ion logam berat. Biosorben dipreparasi melalui proses pengeringan, penghalusan, pengayakan, aktivasi menggunakan HNO₃serta sonikasi untuk meningkatkan kemampuan biosorpsinya. Penelitian ini mengkaji efektivitas kulit buah kakao sebagai biosorben ramah lingkungan untuk menurunkan kadar logam berat Nikel (Ni) dan Merkuri (Hg) pada air limpasan tambang. Latar belakang penelitian didasari oleh meningkatnya pencemaran air akibat aktivitas pertambangan dan industri, khususnya oleh logam berat yang bersifat toksik, tidak dapat terdegradasi, dan berbahaya bagi lingkungan serta kesehatan manusia. Biosorben kulit buah kakao diaktivasi dengan HNO3 0,6 M. Biosorben dengan 20 gram dengan waktu kontak 60 menit mampu menyerap logam Ni dan Hg pada limbah limpasan tambang dari konsentrasi awal limbah yaitu 0.6050 mg/L untuk Ni dan 0.5000 mg/L untuk Hg. Sehingga diperoleh penyerapan terbesar dengan penambahan biosorben sebanyak 20 gram dengan waktu kontak 60 menit pada logam Ni dengan menyerap sebesar 0,5412 mg/L sehingga diperoleh efektifitas sebesar 89,45% dan untuk logam Hg penyerapan terbesar dengan penambahan biosorben sebanyak 20 gram dengan waktu kontak 60 menit dengan menyerap sebesar 0.4717 mg/L sehingga diperoleh efektifitas sebesar 94.34%. Penelitian ini menunjukkan bahwa kulit buah kakao efektif digunakan sebagai biosorben logam berat Ni dan Hg, serta memiliki potensi besar untuk diaplikasikan sebagai alternatif teknologi pengolahan limbah cair tambang yang ekonomis, sederhana, dan berkelanjutan. Penelitian ini juga mendukung pemanfaatan limbah pertanian sebagai solusi lingkungan dalam pengendalian pencemaran logam berat. Kata kunci: Biosorben, Limbah, Kulit buah kakao, lignoselulosa