Diabetes melitus tipe 2 merupakan penyakit metabolik kronis dengan prevalensi yang terus meningkat, termasuk di Kabupaten Sumbawa Barat. Rendahnya kepatuhan diet dan masih dominannya edukasi gizi yang bersifat generik menyebabkan pengendalian glikemik pasien belum optimal. Di sisi lain, Kabupaten Sumbawa Barat memiliki potensi pangan lokal berupa gula aren Tongo yang mengandung inulin, mineral, dan senyawa bioaktif dengan indeks glikemik relatif lebih rendah dibandingkan gula pasir. Penelitian ini bertujuan untuk mengeksplorasi integrasi gula aren Tongo sebagai pemanis alternatif dalam edukasi gizi terstruktur bagi pasien diabetes melitus tipe 2, serta mengidentifikasi faktor pendukung dan penghambat implementasinya. Penelitian menggunakan desain kualitatif dengan pendekatan participatory action research yang melibatkan pasien, keluarga, dan tenaga kesehatan di fasilitas kesehatan primer. Intervensi edukasi yang dikaji meliputi penyuluhan mengenai indeks glikemik dan inulin, demonstrasi penggunaan gula aren Tongo, serta distribusi booklet edukasi dan alat bantu takaran. Pengumpulan data dilakukan melalui wawancara mendalam, diskusi kelompok terarah, dan observasi partisipatif, kemudian dianalisis menggunakan teknik analisis tematik. Hasil kajian menunjukkan bahwa integrasi gula aren Tongo dalam edukasi gizi dipersepsikan mampu meningkatkan literasi gizi, self-efficacy, dan kepatuhan diet. Para partisipan melaporkan adanya penurunan konsumsi gula pasir serta perbaikan subjektif pada kontrol glikemik, meskipun tidak dilakukan pengukuran klinis terhadap parameter seperti HbA1c. Selain memberikan manfaat kesehatan, pendekatan ini juga dinilai mendukung pemberdayaan ekonomi masyarakat lokal melalui optimalisasi komoditas unggulan daerah. Temuan ini menegaskan pentingnya pengembangan edukasi gizi berbasis kearifan lokal sebagai strategi inovatif dalam pengelolaan diabetes melitus tipe 2 di fasilitas kesehatan primer.