Tubagus Erwin
Program Studi Keperawatan, Fakultas Kesehatan, Universitas Mitra Indonesia

Published : 3 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 3 Documents
Search

Lemon aromatherapy for chemotherapy-induced nausea and vomiting in breast cancer patients Marta Ulina Simbolon; Sri Maryuni; Tubagus Erwin
JOURNAL OF Medical Surgical Concerns Vol. 6 No. 2 (2026): June Edition 2026
Publisher : Published by: Indonesian Public Health-Observer Information Forum (IPHORR) Kerjasama dengan Himpunan Perawat Medikal Bedah Indonesia (HIPMEBI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56922/msc.v6i2.3360

Abstract

Background: Chemotherapy-induced nausea and vomiting remain distressing adverse effects of breast cancer treatment and may compromise hydration, nutritional intake, quality of life, and treatment adherence. Lemon aromatherapy is a simple non-pharmacological intervention that may complement standard antiemetic care. Purpose: To evaluate changes in nausea and vomiting severity following lemon aromatherapy among breast cancer patients undergoing chemotherapy. Method: This pre-experimental study used a one-group pretest-posttest design. Twenty breast cancer patients receiving chemotherapy were recruited through purposive sampling. Nausea and vomiting severity was measured using a Numeric Rating Scale before and after inhaled lemon aromatherapy administered approximately two hours after chemotherapy for 5-10 minutes. Preintervention and postintervention scores were compared using the Wilcoxon signed-rank test. Results: The mean nausea and vomiting severity score decreased from 8.15 ± 1.50 before the intervention to 4.00 ± 0.97 afterward. The Wilcoxon signed-rank test showed a statistically significant change between the two assessments (p < 0.001). Conclusion: Nausea and vomiting severity was lower after lemon aromatherapy in this small pre-experimental sample. Lemon aromatherapy may be considered as an adjunct to standard antiemetic care, although controlled studies are needed to establish its independent effect.
PERBANDINGAN ISOMETRIC HANDGRIP EXERCISE DAN JALAN KAKI 30 MENIT TERHADAP TEKANAN DARAH PADA PASIEN HIPERTENSI DI WILAYAH KERJA PUSKESMAS KEDATON BANDAR LAMPUNG 2026 Zafira Zalsa Della; Tubagus Erwin; Anggie Stiexs
Jurnal Kesehatan Tambusai Vol. 7 No. 2 (2026): JUNI 2026
Publisher : Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/jkt.v7i2.56909

Abstract

Hipertensi merupakan salah satu penyebab utama kematian prematur akibat penyakit kardiovaskular dan termasuk masalah kesehatan kronis yang memerlukan pengobatan jangka panjang. Selain terapi farmakologis, intervensi nonfarmakologis seperti isometric handgrip exercise dan jalan kaki diketahui efektif dalam membantu menurunkan tekanan darah, namun perbandingan efektivitas keduanya masih terbatas. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui perbandingan efektivitas isometric handgrip exercise dan jalan kaki selama 30 menit terhadap penurunan tekanan darah pada penderita hipertensi di wilayah kerja Puskesmas Kedaton Kota Bandar Lampung tahun 2026. Jenis penelitian ini adalah kuantitatif dengan desain pre-experimental menggunakan pendekatan two group pretest-posttest design. Populasi penelitian adalah penderita hipertensi di wilayah kerja Puskesmas Kedaton, dengan jumlah sampel sebanyak 30 responden yang dipilih menggunakan teknik purposive sampling berdasarkan kriteria inklusi dan eksklusi. Hasil uji statistik menunjukkan bahwa tidak terdapat perbedaan yang signifikan antara kedua intervensi terhadap penurunan tekanan darah, dengan nilai p pada tekanan sistolik sebesar 0,412 dan diastolik sebesar 0,137 (p > 0,05). Disimpulkan bahwa tidak terdapat perbedaan efektivitas antara isometric handgrip exercise dan jalan kaki 30 menit dalam menurunkan tekanan darah. Meskipun demikian, kedua intervensi terbukti efektif sebagai terapi nonfarmakologis, dengan isometric handgrip exercise menunjukkan kecenderungan hasil yang lebih baik. Oleh karena itu, integrasi kedua metode ini disarankan dalam program pelayanan kesehatan untuk membantu mengontrol tekanan darah dan mencegah komplikasi kardiovaskular.
PENGARUH PEMBERIAN POSISI HEAD UP 30 DERAJAT TERHADAP SATURASI OKSIGEN PADA PASIEN STROKE DI RAWAT INAP RSUD JEND. A. YANI KOTA METRO 2026 Sheilla Cristina; Tubagus Erwin; Fitri Anita
Jurnal Kesehatan Tambusai Vol. 7 No. 2 (2026): JUNI 2026
Publisher : Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/jkt.v7i2.56922

Abstract

Stroke merupakan gangguan fungsi saraf akibat terganggunya aliran darah ke otak yang berdampak pada penurunan perfusi dan oksigenasi jaringan serebral. Kondisi ini dapat menyebabkan penurunan saturasi oksigen yang berpotensi memperburuk status neurologis pasien. Oleh karena itu, diperlukan intervensi yang tepat, baik farmakologis maupun non-farmakologis. Salah satu intervensi non-farmakologis yang dapat dilakukan adalah pemberian posisi Head Up 30 derajat untuk membantu meningkatkan oksigenasi. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh posisi Head Up 30 derajat terhadap saturasi oksigen pada pasien stroke di ruang rawat inap RSUD Jend. A. Yani Kota Metro. Penelitian menggunakan desain kuantitatif dengan pendekatan pre-experimental one group pretest-posttest. Populasi berjumlah 236 pasien stroke, dengan sampel sebanyak 15 responden yang diambil menggunakan teknik accidental sampling. Pengukuran saturasi oksigen dilakukan sebelum dan sesudah intervensi menggunakan pulse oximetry. Analisis data meliputi uji normalitas dan uji paired t-test. Hasil penelitian menunjukkan bahwa rata-rata saturasi oksigen sebelum intervensi adalah 93,67%, sedangkan setelah pemberian posisi Head Up 30 derajat meningkat menjadi 96,47%. Uji paired t-test menunjukkan nilai p-value < 0,05 yang berarti terdapat pengaruh signifikan antara pemberian posisi Head Up 30 derajat dengan peningkatan saturasi oksigen pada pasien stroke. Simpulannya, posisi Head Up 30 derajat efektif dalam meningkatkan saturasi oksigen pada pasien stroke dan dapat dijadikan sebagai intervensi non-farmakologis dalam perawatan pasien di ruang rawat inap.