Amrul Jihadi
Program Studi Agroekoteknologi, Fakultas Pertanian, Universitas Mataram, Indonesia

Published : 2 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

Fluktuasi Populasi dan Tingkat Kerusakan Akibat Serangan Thrips (Thysanoptera) pada Terong (Solanum Melongena L.) di Lingkungan Greenhouse Muhammad Akram Holis; Hery Hariyanto; Amrul Jihadi
Jurnal Pertanian Khairun Vol 5 No 1: (Juni, 2026)
Publisher : Universitas Khairun

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33387/jpk.v5i1.12506

Abstract

Eggplant (Solanum melongena L.) is a horticultural commodity with high economic value that is widely cultivated in greenhouse environments. Although the microclimate conditions in greenhouses can be adjusted, thrips (Thysanoptera) attacks remain a problem because they can damage plants and reduce production yields. This study aims to identify thrips species that attack eggplant plants, analyze population dynamics, and determine the level of damage caused by thrips attacks in greenhouses. The study was conducted using a survey method with direct observation techniques on 30 sample plants selected by purposive systematic sampling and indirectly using yellow sticky traps. Population observations were carried out by counting nymphs and adults on sample plants and counting the number of thrips individuals in yellow sticky traps, while the level of damage was analyzed based on the intensity of attacks during eight weeks of observation. The results showed that there were four thrips species found, namely Thrips palmi, Frankliniella occidentalis, Thrips tabaci, and Frankliniella intonsa with a total population of 5,245 individuals. Thrips palmi was the species with the highest population, with 1,628 individuals (31.04%), followed by F. occidentalis with 1,512 individuals (28.83%). The thrips population increased from the beginning of observations, peaking in the fourth week before gradually declining. Attack intensity fluctuated, with the lowest average attack rate of 8.42% in the first week and the highest at 10.20% in the third week.
Pengaruh Pemangkasan Rejuvenasi dan Aplikasi ZPT Majemuk terhadap Pertumbuhan Tunas dan Pembungaan Cabai Rawit (Capsicum frutescens L.) pada Fase Produksi Lanjut: Effect of Rejuvenation Pruning and Compound Plant Growth Regulator (PGR) Application on Shoot Growth and Flowering of Cayenne Pepper (Capsicum frutescens L.) during the Late Production Phase Afifah Farida Jufri; Nurrachman Nurrachman; Anjar Pranggawan Azhari; Amrul Jihadi; Suprayanti Martia Dewi
Gontor Agrotech Science Journal Vol. 12 No. 01 (2026): Juni 2026
Publisher : University of Darussalam Gontor, Ponorogo, East Java Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21111/agrotech.v12i01.5

Abstract

Peningkatan konsumsi cabai rawit di Indonesia tidak diimbangi dengan ketersediaan produksi yang stabil, sehingga memicu fluktuasi harga. Kondisi ini menjadi tantangan dalam keberlanjutan produksi sehingga diperlukan inovasi teknologi untuk menjaga ketersediaan cabai rawit sepanjang tahun.  Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi pengaruh pemangkasan rejuvenasi yang dikombinasikan dengan pemberian ZPT majemuk terhadap pertumbuhan tunas dan pembungaan cabai rawit (Capsicum frutescens L.) pada fase produksi lanjut. Penelitian dilaksanakan di Desa Rembige, Kota Mataram pada tanaman cabai rawit varietas Ori 212 umur 35 MST. Rancangan percobaan yang digunakan yaitu Rancangan Acak Kelompok dua faktor, yaitu posisi pemangkasan rejuvenasi (10 cm di bawah dan diatas cabang Y) dan konsentrasi ZPT majemuk (0, 2, 4 ml/L). Setiap unit percobaan dilakukan 3 kali pengulangan dan setiap ulangan dilakukan pengamatan pada 5 tanaman contoh. Variabel yang diamati adalah waktu muncul tunas, jumlah tunas, panjang tunas, periode berbunga dan jumlah bunga. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pemangkasan 10 cm di atas cabang Y menghasilkan jumlah tunas lebih banyak dibandingkan pemangkasan di bawah cabang Y, namun tidak berpengaruh nyata terhadap waktu muncul tunas dan jumlah tunas pada 10 hari setelah pemangkasan (HSP). Terjadi peningkatan panjang tunas secara signifikan pada 35 HSP pada konsentrasi 2ml/L dan 4 ml/L.  Selain itu, kedua perlakuan berpengaruh nyata terhadap periode berbunga dan jumlah bunga. Pemangkasan 10 cm di atas cabang Y serta pemberian ZPT 2–4 ml/L mempercepat pembungaan dan meningkatkan jumlah bunga, sehingga berpotensi memperpanjang fase produktif tanaman. Namun, keberhasilan perlakuan ini dipengaruhi oleh kondisi lingkungan, terutama tingginya curah hujan dan kelembaban yang meningkatkan risiko infeksi patogen.