Peningkatan kompleksitas permasalahan kesehatan mental santri menuntut pengembangan model pendampingan yang tetap berakar pada budaya pesantren sekaligus responsif terhadap kebutuhan psikologis kontemporer. Penelitian ini bertujuan merekonstruksi peran kiai sebagai indigenous counselor dalam mendukung kesehatan mental santri melalui perspektif indigenous Islamic counseling. Penelitian menggunakan pendekatan Integrative Literature Review dengan mengacu pada pedoman PRISMA 2020. Artikel diperoleh dari Google Scholar, Garuda, Crossref, dan Scopus berdasarkan kriteria inklusi yang telah ditetapkan, kemudian dianalisis melalui proses reduksi data, pengkodean tematik, sintesis komparatif, dan interpretasi kritis. Hasil penelitian menunjukkan bahwa budaya pesantren berfungsi sebagai faktor protektif sekaligus faktor risiko bagi kesehatan mental, bergantung pada kualitas hubungan pertolongan yang berkembang di dalamnya. Indigenous Islamic counseling menjadi mekanisme yang mengintegrasikan spiritualitas, dukungan sosial, dan relasi kiai dengan santri dalam membangun resiliensi serta kesejahteraan psikologis santri. Berdasarkan sintesis tersebut, penelitian ini merekonstruksi peran kiai ke dalam empat fungsi yang saling terintegrasi, yaitu pedagogis, spiritual, psikososial, dan terapeutik. Temuan ini menghasilkan model konseptual yang menempatkan kiai sebagai aktor utama layanan kesehatan mental berbasis budaya pesantren serta memberikan landasan bagi pengembangan praktik dan kebijakan indigenous Islamic counseling yang lebih kontekstual dan ilmiah.Abstract: The increasing complexity of students' mental health challenges in Islamic boarding schools (pesantren) requires a counseling model that remains rooted in pesantren culture while responding to contemporary psychological needs. This study aims to reconstruct the role of the kiai as an indigenous counselor in supporting students' mental health through the perspective of indigenous Islamic counseling. An Integrative Literature Review was conducted following the PRISMA 2020 guidelines. Relevant studies were retrieved from Google Scholar, Garuda, Crossref, and Scopus using predefined inclusion criteria and analyzed through data reduction, thematic coding, comparative synthesis, and critical interpretation. The findings indicate that pesantren culture functions as both a protective and a risk factor for mental health, depending on the quality of helping relationships developed within the community. Indigenous Islamic counseling serves as the mechanism that integrates spirituality, social support, and kiai-student relationships to strengthen resilience and psychological well-being. The study reconstructs the role of the kiai into four integrated functions: pedagogical, spiritual, psychosocial, and therapeutic. These findings produce a conceptual model positioning the kiai as the central actor in culture-based mental health services in pesantren while providing a foundation for developing contextual and evidence-informed indigenous Islamic counseling practices and policies.