Claim Missing Document
Check
Articles

Found 12 Documents
Search

Problematika Guru Pai sebagai Konselor dalam Rangka Optimalisasi Layanan BK Di Sekolah Adiansyah .
Jurnal Consulenza : Jurnal Bimbingan Konseling dan Psikologi Vol 5 No 1 (2022): Maret
Publisher : Program Studi Bimbingan dan Konseling FKIP Universitas Islam Jember

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56013/jcbkp.v5i1.1265

Abstract

Education is expected to be a good community personality forming agent and full of responsibility through the role of BK teachers. In the process of implementation, education is faced with the complexity of problems, one of which is related to the lack of availability of BK teachers. So that this kind of condition forces in many schools / madrasahs still make PAI teachers as BK teachers and will eventually cause problems. This research is a library research in digging and getting an overview of the problems of PAI teachers as counselors in order to optimize BK services in schools. The problems experienced come from internal and external factors. Internal problems include perception and understanding considering that BK services are not the work of PAI teachers, BK services are considered as additional tasks, the lack of knowledge of PAI teachers in mastering the field of BK science. External problems include the lack of understanding of parents towards BK services, BK Services are only complementary as if it can be done by anyone, BK teachers are considered school police so that learners feel afraid of BK teachers. Keywords: Problematics;Islamic Religious Education Teacher; Counselors
BUDAYA PARTISIPASI DAN RESISTENSI KOMUNITAS KEAGAMAAN DI MEDIA SOSIAL M. Fadhil Yarda Gafallo; Adibrata Iriansyah; Adiansyah
Jurnal Studi Komunikasi dan Media Vol 26 No 1 (2022): JURNAL STUDI KOMUNIKASI DAN MEDIA
Publisher : BPSDMP Kominfo Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17933/jskm.2022.4902

Abstract

Isu keagamaan merupakan isu yang sering diperbincangkan di tengah masyarakat sosial religius seperti Indonesia.. Isu yang mendapat perhatian ialah penetapan hari Raya Idul Adha tahun 2022. Pemerintah Indonesia menetapan hari Raya Idul Adha berdasarkan dua metode yaitu rukyat dan hisab. Pada tanggal 29 Juni 2022 Kementerian Agama RI melakukan Telekonferensi Sidang Isbat pada akun Instagram @kemenag_ri. Hasil Sidang Isbat  menunjukkan perbedaan tanggal dari yang sudah tertera di kalender dari semula tanggal 9 Juli 2022 menjadi 10 Juli 2022. Keputusan tersebut mendapat komentar langsung oleh pengguna Instagram. Hal ini menunjukkan adanya partisipasi komunitas keagamaan dan penolakan yang terjadi dalam menyikapi hasil Sidang Isbat. Penelitian ini menggunakan metode netnografi sebagai upaya mendalami interaksi yang terbangun pada komunitas keagamaan. Pengumpulan data  menggunakan teknik observasi daring non partisipatif pada arsip komentar Instagram @kemenag_ri. Data yang terkumpul selanjutnya dianalisis berdasarkan aktivitas afiliasi, ekspresi, kolaborasi dan sirkulasi. Dari total keseluruhan komentar terdapat 85 aktivitas partisipasi dengan 71 pernyataan penolakan dan 14 komentar menerima hasil Sidang Isbat.  Penelitian ini menemukan aktivitas partisipasi komunitas keagamaan pada tayangan Telekonferensi Sidang Isbat @kemanag_ri menghasilkan ragam penolakan. Sikap penolakan dilatar belakangi empat aspek. Pertama adalah aspek agama, kedua aspek sosial dan aspek ketiga yaitu politik serta aspek keempat adalah aspek kebijakan.
Bimbingan Kelompok dalam Setting Kegiatan Learning and Camping untuk Membangun Penyesuaian Diri Mahasiswa Baru Adiansyah Adiansyah; Yurike Kinanthy Karamoy; Dwi Gusti Wulandari; Weny Ridayana
Jurnal Bimbingan dan Konseling Ar-Rahman Vol 9, No 1 (2023): June
Publisher : UPT Publikasi dan Pengelolaan Jurnal Universitas Islam Kalimantan MAB Banjarmasin

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31602/jbkr.v9i1.10135

Abstract

The first year of college is a difficult time for new students. In addition to orientation activities, other activities are also possible so that students are able to adjust to academic life in higher education through student organizations, one of which is learning and camping  activities organized by HMPS Study Program. The research was conducted on  learning and camping activities with qualitative methods with  the  aim  of exploring information related to how group guidance in setting learning and camping activities to build new student adjustment in the BKI IAIN Pontianak study program with the hope that it can be an additional reference in enriching references in the field of counseling guidance.  Data collection  maximizes in-depth interviews and participant observation and maximizes documentation for BKI students  from 2019/  2020 to 2022/2023. As a result, after participating  in learning and camping  activities, new students who initially felt inferior, anxious and even stressed little by little were able to adjust to learning patterns and life in the college environment so that they could show positive results in both academic and non-academic fields. _____________________________________________________________ Tahun pertama perkuliahan sebagai masa yang sulit bagi mahasiswa baru. Mahasiswa baru diberikan kegiatan orientasi sebagai upaya untuk memperkenalkan sistem pembelajaran diperguruan tinggi. Selain kegiatan orientasi, kegiatan lain juga dimungkinkan dapat dilakukan agar mahasiswa mampu menyesuaikan diri dengan kehidupan akademik di perguruan tinggi melalui organisasi kemahasiswaan salah satunya kegiatan learning and camping yang diselenggarakan oleh HMPS Prodi. Penelitian dilakukan pada kegiatan learning and camping dengan metode kualitatif dengan tujuan menggali informasi terkait bagaimana bimbingan kelompok dalam setting kegiatan learning and camping untuk membangun penyesuaian diri mahasiswa baru pada prodi BKI IAIN Pontianak dengan harapan dapat menjadi tambahan rujukan dalam memperkaya referensi bidang bimbingan konseling. Pengumpulan data memaksimalkan wawancara mendalam atau in-depth interview dan participant observation serta memaksimalkan dokumentasi pada mahasiswa BKI angkatan 2019/2020 s/d 2022/2023. Alhasil setelah mengikuti kegiatan learning and camping mahasiswa baru yang awalnya merasa minder, cemas bahkan stres sedikit demi sedikit mampu menyesuaikan diri dengan pola pembelajaran dan kehidupan di lingkungan perguruan tinggi sehingga dapat menunjukkan hasil yang positif baik pada bidang akademik maupun non akademik. 
PENGUATAN LITERASI DIGITAL PADA APARATUR SIPIL NEGARA UNTUK MEMBERIKAN PELAYANAN PUBLIK BERBASIS DIGITAL Adibrata Iriansyah; M. Fadhil Yarda Gafallo; Pipit Widiatmaka; Adiansyah Adiansyah; Taufik Akbar
Jurnal Manajemen Kepegawaian Vol 17 No 1 (2023): Jurnal Kebijakan dan Manajemen PNS
Publisher : Badan Kepegawaian Negara | The National Civil Service Agency

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.61133/pns.v17i1.409

Abstract

Perkembangan teknologi digital berimplikasi pada pelayanan publik yang harus cepat dan berbasis digital sehingga Aparatur Sipil Negara dapat menguasai dan menggunakan teknologi ddigital. Namun fenomena yang terjadi di lapangan banyak Aparatur Sipil Negara yang tidak bisa menggunakan teknologi digital sehingga pelayanan publik menjadi terkendala. Penelitian ini memiliki tujuan untuk mengetahui penguatan beserta kendalanya dalam aparatur sipil negara untuk memberikan pelayanan publik yang berbasis digital. Studi kepustakaan digunakan sebagai metode pengumpulan data dan analisis dilakukan dengan metode interaktif. Penguatan literasi digital pada Aparatur Sipil Negara dapat dilakukan dengan berbagai kegiatan (klasikal dan non klasikal), apabila melihat kebijakan yang sudah diatur di dalam Peraturan Lembaga Administrasi Negara Nomor 5 Tahun 2018 tentang Pengembangan Kompetensi Pegawai Aparatur Sipil Negara dan Peraturan Lembaga Administrasi Negara Nomor 10 Tahun 2018 tentang Pengembangan Kompetensi Pegawai Negeri Sipil sudah tergolong efektif. Penyelenggaraan pelatihan terlihat sebatas formalitas sehingga berjalan kurang maksimal. Peserta pelatihan penguatan literasi digital bagi Aparatur Sipil Negara mengukuti kegiatan karena tuntutan aturan dan dalam rangka mendapat angka kredit untuk kenaikan pangkat. Selain itu, banyak peserta pelatihan atau penguatan literasi digital (Aparatur Sipil Negara) dalam mengikuti kegiatan juga hanya sebatas formalitas saja, karena tuntutan aturan sebagai seorang Aparatur Sipil Negara dan hanya untuk mendapatkan angka kredit saja (untuk kenaikan pangkat), sehingga hal ini berimplikasi kompetensi yang dimiliki Aparatur Sipil Negara tidak maksimal dan sulit untuk mengoperasikan fasilitas pelayanan yang ada di e-Government dan pelayanan publik berbasis digital tidak maksimal.
NILAI-NILAI DAKWAH PADA SALAM BUDAYA DAYAK KALIMANTAN BARAT (ADIL KATALINO BACURAMIN KASARUGA BASENGAT KA JUBATA) Adiansyah, Adiansyah; Widiatmaka, Pipit; Sari, Pilga Ayong; Nurrahmi, Hesty; Patmawati, Patmawati
ORASI: Jurnal Dakwah dan Komunikasi Vol 14, No 1 (2023): Juli 2023
Publisher : IAIN Syekh Nurjati Cirebon

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24235/orasi.v14i1.11381

Abstract

Indonesia merupakan Negara kepulauan yang memiliki kaya akan budaya. Setiap budaya memiliki filosofi sendiri dalam menjaga kedamaian dan kerukunan bermasyarakat salah satunya masyarakat dayak yang ada di Kalimantan barat. Masyarakat dayak Kalimantan Barat memiliki sebuah semboyan berupa salam budaya Adil Ka' Talino, Bacuramin Ka' Saruga, Basengat Ka' Jubata. Selaras dengan itu, Islam sebagai Agama dakwah juga memiliki tujuan membentuk masyarakat yang damai melalui misi amar maruf nahy munkar. Berangkat dari hal tersebut peneliti tertarik untuk menggali nilai-nilai dakwah yang ada pada salam budaya dayak Kalimantan Barat melalui pendekatan kepustakaan (Library Research). Setelah melakukan telaah pustaka, peneliti menemukan bahwasanya salam budaya dayak memiliki aspek keadilan, orientasi kehidupan setelah mati yakni syurga serta memiliki aspek kepasrahan. Aspek-aspek tersebut termuat pada nilai-nilai dakwah yaitu tauhid, syariah dan muamalah. Penulis berharap dengan adanya hasil telaah ini, menjadi upaya awal untuk menambah dan memperkaya referensi untuk memahami setiap budaya terkhusus dalam rangka menciptakan kerukunan di masyarakat pada ruang lingkup lokal, nasional bahkan regional.
Internalization of Multicultural-Based Religious Guidance in Building Religious Moderation in Lembang Adiansyah Adiansyah; M. Fadhil Yarda Gafallo Fadhil Yarda Gafallo; Abdul Aziz Azis; M. Sufyan Tsauri Sufyan Tsauri
Jurnal Al-Hikmah Vol. 21 No. 1 (2023): Ilmu Dakwah dan Pengembangan Masyarakat
Publisher : Fakultas Dakwah UIN Kiai Haji Achmad Siddiq Jember

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35719/alhikmah.v21i1.144

Abstract

The existence of Islam emerged amidst the multicultural population of the Arab nation. Similar to the diversity that the Arab nation possesses, Indonesia is classified as a multicultural society, which means that it has cultural, ethnic, linguistic, and religious diversity. Each island has different cultures, ethnicities, languages, and even religions, making it a non-material wealth owned by the Indonesian nation. On the other hand, diversity can also become a potential conflict, thus requiring preventive efforts to avoid conflicts that can occur at any time, such as what happened in Lembang Village, Sanggau Ledo District. Researchers noted that there were at least two ethnic conflicts that occurred in late 1996 and 1999, which resulted in many casualties. Regardless of the conflicts that have occurred, currently, the community in Lembang Village is living with social, cultural, and religious stability, and it has been 24 years since any conflict was recorded. Through qualitative research, the researchers sought to explore how the internalization of multicultural-based religious guidance can build religious moderation in Lembang Village. As a result, the researchers found two patterns of da'wah that were applied. Firstly, emphasizing normative-contextual communication between three major Islamic organizations, namely Nahdlatul Ulama, Muhammadiyah, and Jama'ah Tabligh. Secondly, providing religious guidance that contains the material of aqidah, akhlaq, worship, and muamalah through the Majelis Taklim and TPQ institutions so that the people of Lembang Village can live harmoniously and move further away from the terminology of "conflict"
Dinamika Bimbingan Konseling Islam pada Ruang Lingkup Dakwah dan Tarbiyah Adiansyah Adiansyah
Prophetic : Professional, Empathy, Islamic Counseling Journal Vol. 6 No. 1 (2023): Prophetic : Professional, Empathy, Islamic Counseling Journal
Publisher : UIN Siber Syekh Nurjati Cirebon

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24235/prophetic.v6i1.14755

Abstract

Sejalan dengan perkembangan yang cukup pesat, Bimbingan Konseling di Indonesia memunculkan keunikan dan kekhasan serta corak baru. Munculnya corak yang beragam menjadi alasan bagi penulis untuk mengurai dan mendeskripsikan dinamika Bimbingan Konseling Islam melalui telaah pada ruang lingkup Dakwah dan Tarbiyah. Penelitian dilakukan dengan menggunakan metode studi kepustakaan yang dimulai dengan mengidentifikasi kata kunci dan mengumpulkan serta membaca berbagai referensi dilanjutkan dengan mencatat poin penting yang berhubungan dengan tema penelitian kemudian menyusun serta menyimpulkan hasil. Setelah informasi yang dibutuhkan terkumpul, informasi tersebut disusun dan diurutkan sesuai sub tema pembahasan. Informasi yang sudah tersusun kemudian dikemas dan dinarasikan kembali menjadi kesatuan yang utuh sehingga menghasilkan sebuah konsep yang komprehensif. Bimbingan Konseling Islam bertransformasi menjadi Bimbingan Penyuluhan Islam (BPI), Bimbingan Konseling Islam (BKI) serta Bimbingan Konseling Pendidikan Islam (BKPI). Profil utama lulusan BKI dapat menjadi sebagai konselor dan Penyuluh Agama serta kompetensi tambahan sebagai motivator, trainer, peneliti, praktisi dan akademisi.
NILAI-NILAI DAKWAH PADA SALAM BUDAYA DAYAK KALIMANTAN BARAT (ADIL KATALINO BACURAMIN KASARUGA BASENGAT KA JUBATA) Adiansyah Adiansyah; Pipit Widiatmaka; Pilga Ayong Sari; Hesty Nurrahmi; Patmawati Patmawati
ORASI: Jurnal Dakwah dan Komunikasi Vol. 14 No. 1 (2023): Juli 2023
Publisher : UIN Siber Syekh Nurjati Cirebon

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24235/orasi.v14i1.11381

Abstract

Indonesia merupakan Negara kepulauan yang memiliki kaya akan budaya. Setiap budaya memiliki filosofi sendiri dalam menjaga kedamaian dan kerukunan bermasyarakat salah satunya masyarakat dayak yang ada di Kalimantan barat. Masyarakat dayak Kalimantan Barat memiliki sebuah semboyan berupa salam budaya Adil Ka' Talino, Bacuramin Ka' Saruga, Basengat Ka' Jubata. Selaras dengan itu, Islam sebagai Agama dakwah juga memiliki tujuan membentuk masyarakat yang damai melalui misi amar maruf nahy munkar. Berangkat dari hal tersebut peneliti tertarik untuk menggali nilai-nilai dakwah yang ada pada salam budaya dayak Kalimantan Barat melalui pendekatan kepustakaan (Library Research). Setelah melakukan telaah pustaka, peneliti menemukan bahwasanya salam budaya dayak memiliki aspek keadilan, orientasi kehidupan setelah mati yakni syurga serta memiliki aspek kepasrahan. Aspek-aspek tersebut termuat pada nilai-nilai dakwah yaitu tauhid, syariah dan muamalah. Penulis berharap dengan adanya hasil telaah ini, menjadi upaya awal untuk menambah dan memperkaya referensi untuk memahami setiap budaya terkhusus dalam rangka menciptakan kerukunan di masyarakat pada ruang lingkup lokal, nasional bahkan regional.
Rekonstruksi peran Kiai dalam konseling Indigenous Pesantren untuk mendukung kesehatan mental Santri Muhammad Khalil Gunawan; Adiansyah Adiansyah
Counsellia: Jurnal Bimbingan dan Konseling Vol. 16 No. 1 (2026): In Press
Publisher : Universitas PGRI Madiun

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25273/counsellia.v16i1.25114

Abstract

Peningkatan kompleksitas permasalahan kesehatan mental santri menuntut pengembangan model pendampingan yang tetap berakar pada budaya pesantren sekaligus responsif terhadap kebutuhan psikologis kontemporer. Penelitian ini bertujuan merekonstruksi peran kiai sebagai indigenous counselor dalam mendukung kesehatan mental santri melalui perspektif indigenous Islamic counseling. Penelitian menggunakan pendekatan Integrative Literature Review dengan mengacu pada pedoman PRISMA 2020. Artikel diperoleh dari Google Scholar, Garuda, Crossref, dan Scopus berdasarkan kriteria inklusi yang telah ditetapkan, kemudian dianalisis melalui proses reduksi data, pengkodean tematik, sintesis komparatif, dan interpretasi kritis. Hasil penelitian menunjukkan bahwa budaya pesantren berfungsi sebagai faktor protektif sekaligus faktor risiko bagi kesehatan mental, bergantung pada kualitas hubungan pertolongan yang berkembang di dalamnya. Indigenous Islamic counseling menjadi mekanisme yang mengintegrasikan spiritualitas, dukungan sosial, dan relasi kiai dengan santri dalam membangun resiliensi serta kesejahteraan psikologis santri. Berdasarkan sintesis tersebut, penelitian ini merekonstruksi peran kiai ke dalam empat fungsi yang saling terintegrasi, yaitu pedagogis, spiritual, psikososial, dan terapeutik. Temuan ini menghasilkan model konseptual yang menempatkan kiai sebagai aktor utama layanan kesehatan mental berbasis budaya pesantren serta memberikan landasan bagi pengembangan praktik dan kebijakan indigenous Islamic counseling yang lebih kontekstual dan ilmiah.Abstract: The increasing complexity of students' mental health challenges in Islamic boarding schools (pesantren) requires a counseling model that remains rooted in pesantren culture while responding to contemporary psychological needs. This study aims to reconstruct the role of the kiai as an indigenous counselor in supporting students' mental health through the perspective of indigenous Islamic counseling. An Integrative Literature Review was conducted following the PRISMA 2020 guidelines. Relevant studies were retrieved from Google Scholar, Garuda, Crossref, and Scopus using predefined inclusion criteria and analyzed through data reduction, thematic coding, comparative synthesis, and critical interpretation. The findings indicate that pesantren culture functions as both a protective and a risk factor for mental health, depending on the quality of helping relationships developed within the community. Indigenous Islamic counseling serves as the mechanism that integrates spirituality, social support, and kiai-student relationships to strengthen resilience and psychological well-being. The study reconstructs the role of the kiai into four integrated functions: pedagogical, spiritual, psychosocial, and therapeutic. These findings produce a conceptual model positioning the kiai as the central actor in culture-based mental health services in pesantren while providing a foundation for developing contextual and evidence-informed indigenous Islamic counseling practices and policies.
MUSLIM FAMILY RESILIENCE AMONG THE SAMBAS MALAY COMMUNITY ON TOURISM-AFFECTED LEMUKUTAN ISLAND: INTEGRATING DA'WAH AND ISLAMIC GUIDANCE AND COUNSELING PERSPECTIVES Risma Azizah Maulani; Adiansyah; Hesty Nur Rahmi; Saripaini; Nindya Juwita Utimadini
J-MD Jurnal Manajemen Dakwah Vol. 7 No. 1 (2026): JMD
Publisher : Program Studi Manajemen Dakwah, FUAD, IAIN Pontianak

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24260/9m6v3013

Abstract

The development of tourism in the small archipelago has brought gradual but consistent social changes to the structure of family relationships, the division of domestic roles, and the daily interaction patterns of local communities. This study aims to analyze how Sambas Malay Muslim families in tourism-affected archipelago communities build and practice family resilience through relational, religious, and adaptive strategies in daily life. Using a qualitative approach with a case study design, the research was conducted on Lemukutan Island, Bengkayang Regency, West Kalimantan, with subjects of Sambas Malay Muslim families who have inhabited the island for generations. Data were obtained through in-depth interviews and limited observations, then analyzed using thematic analysis with a culturally and religiously sensitive approach. The findings show that the resilience of the Sambas Malay Muslim family does not manifest itself as a reactive response to acute crises, but rather as a non-confrontational social practice that is lived consistently through three dimensions: management of internal family relationships based on spiritual routines and intergenerational bonds, adjustment of interactions with tourists through structured and value-limited strategies of openness, and maintenance of family stability through the implementation of values Islam and social care across generations. The contribution of these findings lies in the designation that the resilience of Muslim families in the context of tourism is not a product of external intervention, but rather a system of layered social practices rooted in the cultural and spiritual capital of communities that have accumulated long before the wave of tourism arrives.