Although previous studies have examined critical reading primarily through tests, self-reports, and instructional interventions, limited research has explored how critical reading is manifested in undergraduate research proposals. Furthermore, little is known about the reading behaviors that underpin students' critical engagement with scholarly sources. Drawing on Wang and Gierl's (2011) conceptualisation of critical reading as a higher-order cognitive process, complemented by Paul and Elder's (2007) critical thinking framework, this study investigates critical reading skills and associated reading behaviors reflected in undergraduate research proposals. A qualitative content analysis was conducted on 30 undergraduate research proposals submitted by final-year psychology students at a public university in Malang, Indonesia. Participants were purposively selected from students who had completed their thesis proposal examinations during the 2021–2022 academic year. To enhance methodological triangulation, semi-structured interviews were conducted with 10 participants whose proposals were included in the analysis. The findings revealed two major patterns. First, students demonstrated relatively strong interpretive skills, particularly in identifying relevant sources and understanding explicit textual meaning. However, higher-order critical reading skills, including argument analysis, evaluation of conflicting evidence, inference, and synthesis, remained underdeveloped. Second, students seldom employed strategic reading behaviors such as note-taking, re-reading, cross-textual comparison, thematic organization, or visual mapping to support critical engagement with scholarly literature. These findings challenge the assumption that effective source use necessarily reflects well-developed critical reading competence. By linking textual evidence with students' reported reading behaviors, this study offers a more comprehensive understanding of critical reading in academic writing and highlights the need for explicit instruction, structured scaffolding, and targeted supervisory feedback to foster higher-order academic literacy. Meskipun berbagai penelitian sebelumnya telah mengkaji membaca kritis melalui tes, laporan, dan intervensi pembelajaran, masih sedikit penelitian yang mengeksplorasi bagaimana kemampuan tersebut tercermin dalam proposal skripsi. Selain itu, perilaku membaca yang mendasari keterlibatan kritis mahasiswa terhadap sumber-sumber ilmiah juga belum banyak dipahami. Berlandaskan konseptualisasi membaca kritis sebagai proses kognitif tingkat tinggi yang dikemukakan oleh Wang dan Gierl (2011), serta didukung oleh kerangka berpikir kritis dari Paul dan Elder (2007), penelitian ini bertujuan mengidentifikasi keterampilan membaca kritis dan perilaku membaca yang tercermin dalam proposal penelitian mahasiswa. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode analisis isi terhadap 30 proposal penelitian skripsi mahasiswa Psikologi semester akhir di sebuah perguruan tinggi negeri di Malang, Indonesia. Partisipan dipilih secara purposif, yaitu mahasiswa yang telah menyelesaikan ujian proposal skripsi pada tahun akademik 2021–2022. Untuk memperkuat triangulasi data, dilakukan wawancara semi-terstruktur terhadap 10 mahasiswa yang proposalnya dianalisis. Hasil penelitian menunjukkan dua temuan utama. Pertama, mahasiswa menunjukkan kemampuan yang relatif baik dalam menginterpretasikan informasi, terutama dalam mengidentifikasi sumber yang relevan dan memahami makna eksplisit dari bacaan. Namun, keterampilan membaca kritis tingkat tinggi, seperti menganalisis argumen, mengevaluasi bukti yang saling bertentangan, menarik inferensi, dan menyintesis informasi, masih belum berkembang secara optimal. Kedua, mahasiswa jarang menerapkan strategi membaca yang mendukung keterlibatan kritis terhadap literatur ilmiah, seperti membuat catatan, membaca ulang, membandingkan informasi antar sumber, mengorganisasi tema, dan memvisualisasikan hubungan antarkajian. Temuan ini menunjukkan bahwa kemampuan menggunakan sumber rujukan secara efektif belum tentu mencerminkan kemampuan membaca kritis yang matang. Dengan menghubungkan bukti tekstual dalam proposal penelitian dengan perilaku membaca yang dilaporkan mahasiswa, penelitian ini memberikan pemahaman yang lebih komprehensif mengenai praktik membaca kritis dalam penulisan akademik serta menegaskan pentingnya pembelajaran membaca kritis yang eksplisit, scaffolding yang terstruktur, dan umpan balik pembimbing yang terarah untuk mengembangkan literasi akademik tingkat tinggi.