Nurul Shofiah
Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim Malang

Published : 5 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 5 Documents
Search

PENERAPAN METODE INKUIRI DALAM PEMILIHAN TOPIK TULISAN AKADEMIK Zulmy Faqihuddin Putera; Nurul Shofiah; Tutuk Widiowati
PRASI Vol. 18 No. 01 (2023)
Publisher : Universitas Pendidikan Ganesha

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23887/prasi.v18i01.60389

Abstract

The aim of this research is to explain the procedure for applying the inquiry method in the research topic selection process and to present students' perceptions of inquiry-based learning in research topic selection. The method used is classroom action research. The research data source is 24 seventh-semester students of D4 Civil Engineering at the State Polytechnic of Malang. The research instruments are observation guidelines and a questionnaire on student responses. The results show that (1) the inquiry learning procedure on research topic selection material has six stages: orientation, problem formulation, hypothesis formulation, data collection, conclusion formulation, and reflection, and (2) students' perceptions of inquiry learning indicate a positive effect on determining research topics. Thus, inquiry-based learning in the research topic selection process is recommended as a means to enhance students' academic writing skills because this method combines activity-oriented learning and logical arguments. Keywords : Inquiry, research topic, topic selection, learning.   Abstrak Tujuan penelitian ini untuk menjelaskan prosedur penerapan metode inkuiri dalam proses pemilihan topik penelitian serta memaparkan persepsi mahasiswa terhadap pemebelajaran inkuiri pada pemilihan topik penelitian. Metode yang digunakan adalah penelitian tindakan kelas. Sumber data penelitian yakni 24 mahasiswa semester tujuh D4 Teknik Sipil Politeknik Negeri Malang. Instrumen penelitian berupa pedoman observasi dan kuisioner tentang respon mahasiswa. Adapun hasil penelitian menunjukkan bahwa (1) prosedur pembelajaran inkuiri  pada materi pemilihan topik penelitian memiliki enam tahapan yaitu orientasi, merumuskan masalah, merumuskan hipotesis, mengumpulkan data, merumuskan kesimpulan dan refleksi dan (2) persepsi mahasiswa terhadap pembelajaran menunjukkan secara positif dapat membantu menentukan topik penelitian. Dengan demikian, pembelajaran inkuiri dalam proses pemilihan topik penelitian disarankan sebagai sarana untuk meningkatkan keterampilan penulisan akademik mahasiswa karena metode tersebut menggabungkan pembelajaran berorientasi aktivitas dan argumen logis.
KETERAMPILAN MENULIS KRITIS UNTUK MEMPERSIAPKAN MAHASISWA PADA PENULISAN AKADEMIK PROFESIONAL (THE USE OF CRITICAL WRITING SKILLS TO PREPARE STUDENTS FOR PROFESSIONAL ACADEMIC WRITING) Nurul Shofiah; Rizka Amaliah; Zulmy Faqihuddin Putera
JURNAL BAHASA, SASTRA, DAN PEMBELAJARANNYA Vol 13, No 2 (2023): JURNAL BAHASA, SASTRA, DAN PEMBELAJARANNYA (JBSP)
Publisher : Universitas Lambung Mangkurat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20527/jbsp.v13i2.15534

Abstract

 AbstractThe use of critical writing skills to prepare students for professional academic writing. Writing academic texts needs to consider critical thinking positions. Critical thinking is a way to see things proportionally and objectively. Students have good critical thinking skills to do good writing. In writing academic texts, students tend to have difficulty integrating various reference sources into a unified whole to support arguments and ideas in writing, especially in the background, tend to be disorganized and incoherent, have difficulty finding previous research that supports the problem, and choose theory as a framework. This study aims to use critical writing skills to prepare students for professional academic writing. The presentation uses a literature review approach. The database or dataset used for literature research is the Google Scholar in Perish or Publish (PoP) application. Articles that are relevant to the research objectives 31 articles. The findings show that, first, descriptive writing involves describing information and phenomena in detail without argumentation. In contrast, critical writing involves analyzing and linking various pieces of information to understand the problem or topic chosen, learning to gain multiperspective understanding. Second, to prepare students for professional academic writing, an understanding of critical writing skills is needed, namely paraphrasing, explaining, concluding, analyzing, and synthesizing in writing academic texts. Third, the need to provide real feedback from lecturers and colleagues to increase self-confidence, as well as to habituate patterns of critical writing skills.Keywords: writing, critical writing, academic text, academic writing AbstrakKeterampilan menulis kritis untuk mempersiapkan mahasiswa pada penulisan akademik profesional. Menulis teks akademik perlu mempertimbangkan posisi berpikir kritis. Berpikir kritis adalah cara untuk melihat sesuatu secara proporsional dan objektif. Mahasiswa dapat dikatakan memiliki pemikiran kritis yang baik sehingga mampu membuat tulisan yang baik. Dalam menulis teks akademik, mahasiswa cenderung mengalami kesulitan mengintegrasikan berbagai sumber referensi menjadi satu kesatuan yang utuh untuk mendukung argumentasi, gagasan, dalam tulisan terutama di latar belakang, cenderung tidak teratur dan tidak koheren, kesulitan menemukan penelitian sebelumnya yang mendukung masalah, dan memilih teori sebagai kerangka berpikir. Tulisan ini bermaksud untuk memahami bagaimana meningkatkan kualitas penulisan teks akademik dengan mengasah kemampuan berpikir kritis. Tujuan dari penelitian ini yakni menjelaskan pentingnya kerampilan menulis kritis untuk mempersiapkan mahasiswa dalam penulisan akademik secara professional. Pemaparan menggunakan pendekatan tinjauan literatur. Basis data atau dataset yang digunakan untuk penelitian literatur adalah aplikasi Google Scholar in Perish or Publish (PoP). Artikel yang relevan dengan tujuan penelitian sebanyak 31 artikel. Hasil temuan menunjukkan bahwa, pertama, menulis deskriptif melibatkan kegiatan mendeskripsikan informasi dan fenomena secara mendetail tanpa disertai argumentasi, sedangkan penulisan kritis melibatkan analisis dan menghubungkan  berbagai informasi untuk memahami masalah atau topik yang dipilih, serta belajar untuk mendapatkan pemahaman multiperspektif. Kedua, mempersiapkan mahasiswa untuk penulisan akademik profesional, diperlukan pemahaman keterampilan menulis kritis, yaitu parafrase, menjelaskan, menyimpulkan, menganalisis, dan menyintesis dalam menulis teks akademik. Ketiga, perlunya pemberian umpan balik nyata dari dosen dan rekan untuk meningkatkan rasa percaya diri, serta pembiasan pola keterampilan menulis kritis.Kata-kata kunci: menulis; tulisan kritis; teks akademik, penulisan akademik
Critical writing patterns and learning strategies among vocational college students: Evidence from thesis writing Zulmy Faqihuddin Putera; Suyono Suyono; Ahmad Rofiuddin; Titik Harsiati; Nurul Shofiah
Jurnal Pendidikan Vokasi Vol. 15 No. 2 (2025)
Publisher : ADGVI & Graduate School of Universitas Negeri Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21831/jpv.v15i2.76100

Abstract

Developing critical writing skills remains a persistent challenge for vocational college students whose learning environments emphasize practical and technical competencies over academic discourse. Research specifically examining how vocational students demonstrate critical thinking in thesis writing is still limited. This study investigates (1) the patterns of critical writing that emerge in students’ thesis reports and (2) students’ perceptions of the strategies they use when engaging in critical writing. A qualitative design combining content analysis and thematic analysis was applied. Data were collected from 22 final thesis reports from 12 study programs and reflective statements and interviews with 10 Diploma-4 students. The analytical framework was adapted from Paul and Elder’s substantive writing skills. The findings show that vocational students demonstrate strengths in explanation and basic analysis; however, more advanced cognitive skills—such as synthesis, evaluation, and argument construction—remain weak. Students rarely develop counterarguments, critically examine opposing views, or integrate sources into coherent reasoning. Thematic analysis further reveals that students perceive critical writing as fulfilling structure and format rather than as a process of reasoning, evaluation, and synthesis. Difficulties are concentrated in topic delimitation, literature review, paraphrasing, and maintaining academic integrity, while supervisor feedback becomes the primary driver of writing progress. Overall, the study highlights a gap between students’ high motivation and their limited epistemic awareness of academic argumentation. These results emphasize the need for explicit instruction, structured scaffolding, and feedback focused on argument development rather than formatting. The study contributes to the literature by offering detailed insights into how critical writing develops within vocational higher education contexts and by proposing practical directions for instructional improvement.
Mapping Critical Reading Profiles in Undergraduate Research Proposals: A Study of Final-Year Psychology Students Nurul Shofiah; Zulmy Putera
Tabasa: Jurnal Bahasa, Sastra Indonesia, dan Pengajarannya Vol. 7 No. 02 (2026)
Publisher : UIN Raden Mas Said Surakarta, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22515/tabasa.v7i02.14716

Abstract

Although previous studies have examined critical reading primarily through tests, self-reports, and instructional interventions, limited research has explored how critical reading is manifested in undergraduate research proposals. Furthermore, little is known about the reading behaviors that underpin students' critical engagement with scholarly sources. Drawing on Wang and Gierl's (2011) conceptualisation of critical reading as a higher-order cognitive process, complemented by Paul and Elder's (2007) critical thinking framework, this study investigates critical reading skills and associated reading behaviors reflected in undergraduate research proposals. A qualitative content analysis was conducted on 30 undergraduate research proposals submitted by final-year psychology students at a public university in Malang, Indonesia. Participants were purposively selected from students who had completed their thesis proposal examinations during the 2021–2022 academic year. To enhance methodological triangulation, semi-structured interviews were conducted with 10 participants whose proposals were included in the analysis. The findings revealed two major patterns. First, students demonstrated relatively strong interpretive skills, particularly in identifying relevant sources and understanding explicit textual meaning. However, higher-order critical reading skills, including argument analysis, evaluation of conflicting evidence, inference, and synthesis, remained underdeveloped. Second, students seldom employed strategic reading behaviors such as note-taking, re-reading, cross-textual comparison, thematic organization, or visual mapping to support critical engagement with scholarly literature. These findings challenge the assumption that effective source use necessarily reflects well-developed critical reading competence. By linking textual evidence with students' reported reading behaviors, this study offers a more comprehensive understanding of critical reading in academic writing and highlights the need for explicit instruction, structured scaffolding, and targeted supervisory feedback to foster higher-order academic literacy.   Meskipun berbagai penelitian sebelumnya telah mengkaji membaca kritis melalui tes, laporan, dan intervensi pembelajaran, masih sedikit penelitian yang mengeksplorasi bagaimana kemampuan tersebut tercermin dalam proposal skripsi. Selain itu, perilaku membaca yang mendasari keterlibatan kritis mahasiswa terhadap sumber-sumber ilmiah juga belum banyak dipahami. Berlandaskan konseptualisasi membaca kritis sebagai proses kognitif tingkat tinggi yang dikemukakan oleh Wang dan Gierl (2011), serta didukung oleh kerangka berpikir kritis dari Paul dan Elder (2007), penelitian ini bertujuan mengidentifikasi keterampilan membaca kritis dan perilaku membaca yang tercermin dalam proposal penelitian mahasiswa. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode analisis isi terhadap 30 proposal penelitian skripsi mahasiswa Psikologi semester akhir di sebuah perguruan tinggi negeri di Malang, Indonesia. Partisipan dipilih secara purposif, yaitu mahasiswa yang telah menyelesaikan ujian proposal skripsi pada tahun akademik 2021–2022. Untuk memperkuat triangulasi data, dilakukan wawancara semi-terstruktur terhadap 10 mahasiswa yang proposalnya dianalisis. Hasil penelitian menunjukkan dua temuan utama. Pertama, mahasiswa menunjukkan kemampuan yang relatif baik dalam menginterpretasikan informasi, terutama dalam mengidentifikasi sumber yang relevan dan memahami makna eksplisit dari bacaan. Namun, keterampilan membaca kritis tingkat tinggi, seperti menganalisis argumen, mengevaluasi bukti yang saling bertentangan, menarik inferensi, dan menyintesis informasi, masih belum berkembang secara optimal. Kedua, mahasiswa jarang menerapkan strategi membaca yang mendukung keterlibatan kritis terhadap literatur ilmiah, seperti membuat catatan, membaca ulang, membandingkan informasi antar sumber, mengorganisasi tema, dan memvisualisasikan hubungan antarkajian. Temuan ini menunjukkan bahwa kemampuan menggunakan sumber rujukan secara efektif belum tentu mencerminkan kemampuan membaca kritis yang matang. Dengan menghubungkan bukti tekstual dalam proposal penelitian dengan perilaku membaca yang dilaporkan mahasiswa, penelitian ini memberikan pemahaman yang lebih komprehensif mengenai praktik membaca kritis dalam penulisan akademik serta menegaskan pentingnya pembelajaran membaca kritis yang eksplisit, scaffolding yang terstruktur, dan umpan balik pembimbing yang terarah untuk mengembangkan literasi akademik tingkat tinggi.
Persepsi Mahasiswa terhadap Penggunaan AI-Assisted Writing dalam Penulisan Teks Akademik Zulmy Faqihuddin Putera; Nurul Shofiah
Jurnal Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia Metalingua Vol 11, No 1: Metalingua, Edisi April 2026
Publisher : Program Studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21107/metalingua.v11i1.34397

Abstract

Studi ini bertujuan menjabarkan persepsi mahasiswa pendidikan tinggi vokasi terhadap penggunaan AI-Assisted Writing dalam konteks institusi politeknik. Studi ini membahas terbatasnya penelitian tentang penggunaan AI di kalangan siswa vokasi, khususnya di lingkungan pendidikan tinggi. Menggunakan Model Penerimaan Teknologi (TAM) sebagai kerangka teoretis, penelitian ini berfokus pada persepsi mahasiswa tentang kegunaan, kemudahan penggunaan, dan tantangan yang terkait dengan AI-Assisted Writing. Pendekatan fenomenologis kualitatif diadopsi, melibatkan 20 mahasiswa dari berbagai jurusan di Politeknik Negeri Malang (Polinema) yang dipilih melalui purposive sampling. Data dikumpulkan melalui wawancara semi-terstruktur dan dianalisis menggunakan analisis tematik. Temuan menunjukkan bahwa sebagian besar peserta memandang alat AI seperti ChatGPT, Grammarly, dan QuillBot secara positif, terutama untuk mendukung pengembangan ide, parafrase, pemeriksaan tata bahasa, dan meningkatkan kualitas penulisan akademik. Mahasiswa juga menganggap alat-alat ini relatif mudah digunakan, dengan pembelajaran dari teman sebaya dan eksplorasi mandiri memainkan peran penting dalam adopsinya. Meskipun ada manfaat-manfaat ini, beberapa kekhawatiran muncul, termasuk informasi yang dihasilkan AI yang tidak akurat, ketergantungan berlebihan pada AI, pengurangan keterlibatan berpikir kritis, dan ketidakpastian mengenai integritas akademik. Banyak siswa menekankan pentingnya memverifikasi konten yang dihasilkan oleh AI, terutama untuk informasi teknis dan akademis. Siswa yang menunjukkan literasi AI yang lebih kuat cenderung menggunakan AI secara kritis dan bertanggung jawab, memperlakukannya sebagai alat bantu belajar daripada pengganti pemikiran mandiri. Studi ini menyoroti pentingnya mengembangkan kebijakan institusional yang jelas dan mengintegrasikan literasi AI ke dalam pengajaran penulisan akademik di pendidikan tinggi vokasi. Temuan ini berkontribusi pada diskusi yang sedang berlangsung mengenai integrasi AI yang etis dan bertanggung jawab dalam lingkungan pembelajaran akademik.Keywords: Penulisan Berbantuan AI Persepsi mahasiswa; Model Penerimaan Teknologi; Penulisan akademikThis study examines vocational higher education students’ perceptions of AI-Assisted Writing (AI-AW) tools in academic writing within the context of a polytechnic institution. The study addresses the limited research on AI use among vocational students. Using the Technology Acceptance Model (TAM) as the theoretical framework, the research focuses on students’ perceptions of the usefulness, ease of use, and challenges associated with AI-AW tools. A qualitative phenomenological approach was adopted, involving 20 students from different academic departments at Malang State Polytechnic (Polinema), Indonesia, selected through purposive sampling. Data were gathered through semi-structured interviews and analyzed using thematic analysis. The findings indicate that most participants viewed AI tools such as ChatGPT, Grammarly, and QuillBot positively, especially for supporting idea development, paraphrasing, grammar checking, and improving the quality of academic writing. Students also considered these tools relatively easy to use, with peer learning and self-directed exploration playing an important role in their adoption. Despite these benefits, several concerns emerged, including inaccurate AI-generated information, overreliance on AI, reduced critical thinking engagement, and uncertainty regarding academic integrity. Many students emphasized the importance of verifying AI-generated content, particularly for technical and academic information. Students who demonstrated stronger AI literacy tended to use AI critically and responsibly, treating it as a learning aid rather than a replacement for independent thinking. The study highlights the importance of developing clear institutional policies and integrating AI literacy into academic writing instruction in vocational higher education. These findings contribute to ongoing discussions regarding ethical and responsible AI integration in academic learning environmentsKata Kunci: AI-Assisted Writing; students' perceptions; Technology Acceptance Model; academic writing; vocational higher education