Heppy Lismayanti
Universitas PGRI Kalimantan, Indonesia

Published : 3 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 3 Documents
Search

Bridging Narratology, Ethnology, and Semiotic: A New Naratoethnosemiotic Framework for Reconstructing Banjar Identity in Local Fiction by Jamal T. Suryanata Kamal Hasuna; Heppy Lismayanti
Tabasa: Jurnal Bahasa, Sastra Indonesia, dan Pengajarannya Vol. 7 No. 02 (2026)
Publisher : UIN Raden Mas Said Surakarta, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22515/tabasa.v7i02.14905

Abstract

Banjar ethnic identity is increasingly subject to erosion as a consequence of modernisation and globalisation; however, it continues to be preserved and articulated within local literary expressions. To address a significant gap in the literature, which has largely examined Banjar literary works through single analytical lenses, this study introduces a novel, integrative "naratoethnosemiotic" framework. This framework systematically combines narratology (Currie), theories of ethnic identity (Hall), and semiotic analysis (Barthes and Fairclough) to provide a more comprehensive understanding of cultural representation. This study aims to examine the representation of Banjar ethnic identity in three fictional works by Jamal T. Suryanata: Galuh, Pambatangan, and Parangmaya. A qualitative methodology with a phenomenological approach was employed to explore these dimensions. Data were collected through translation, identification, classification, hermeneutic interpretation, and conclusion drawing, with validity ensured by triangulation and expert auditing. The results show that the structure of Banjar fiction comprises narrative representation (behaviour, expression, and context), point of view (character thoughts and event chronology), and character traits (behaviour). Banjar ethnic identity is articulated through five principal domains of cultural values—relationships with God, nature, others, society, and the self-alongside expressions of local wisdom, including knowledge systems, values, skills, beliefs, and decision-making processes. The analysis of cultural discourse demonstrates multilayered meanings, encompassing denotative and connotative signs, culturally embedded myths (e.g., pamali and batatamba), underlying ideological constructs, and broader socio-cultural contexts. The findings indicate that Banjar fiction serves as a significant medium for the preservation and transmission of ethnic identity. The primary contribution of this research lies in its provision of an evidence-based, interdisciplinary framework that not only deepens scholarly understanding but also offers practical guidance for educators, local authors, and policymakers in leveraging Banjar literature for cultural preservation.    Identitas etnik Banjar saat ini menghadapi erosi akibat modernisasi dan globalisasi, namun masih terpelihara dalam karya sastra lokal. Untuk mengatasi kesenjangan penelitian yang signifikan, di mana karya sastra Banjar sebagian besar dikaji melalui pendekatan tunggal, penelitian ini memperkenalkan kerangka "naratoetnosemiotika" yang baru dan integratif. Kerangka ini secara sistematis menggabungkan naratologi (Currie), teori identitas etnik (Hall), dan analisis semiotika (Barthes & Fairclough) untuk memberikan pemahaman yang lebih komprehensif tentang representasi budaya. Penelitian ini bertujuan untuk mengungkap identitas etnik Banjar dalam tiga fiksi karya Jamal T. Suryanata: Galuh, Pambatangan, dan Parangmaya. Metode kualitatif dengan pendekatan fenomenologis digunakan. Data dikumpulkan melalui penerjemahan, identifikasi, klasifikasi, interpretasi hermeneutik, dan penarikan simpulan, dengan validitas yang dijamin melalui triangulasi dan auditor ahli. Hasil penelitian menunjukkan bahwa struktur fiksi Banjar terdiri atas representasi naratif (tingkah laku, ekspresi, konteks), sudut pandang (pemikiran tokoh, kronologi peristiwa), dan karakter tokoh (sifat, perilaku). Identitas etnik Banjar direpresentasikan melalui lima nilai budaya (hubungan dengan Tuhan, alam, sesama, masyarakat, dan diri sendiri) serta kearifan lokal (pengetahuan, nilai, keterampilan, kepercayaan, pengambilan keputusan). Makna wacana budaya meliputi tanda denotatif/konotatif, mitos (pamali, batatamba), ideologi, dan konteks sosial. Penelitian menyimpulkan bahwa fiksi Banjar berperan sebagai medium pelestarian identitas etnik. Kontribusi utama penelitian ini adalah menyediakan kerangka kerja interdisipliner berbasis bukti yang tidak hanya memperdalam pemahaman ilmiah tetapi juga menawarkan panduan praktis bagi para pendidik, penulis lokal, dan pembuat kebijakan dalam memanfaatkan sastra Banjar untuk pelestarian budaya. 
Tradisi Malabuh Masyarakat Banjar Sebagai Sumber Pembelajaran Teks Berbasis Kearifan Lokal dalam Pendidikan Bahasa Indonesia Haswinda Harpriyanti; Noor Indah Wulandari; Heppy Lismayanti
Education Achievement: Journal of Science and Research Volume 7 Issue 001 February 2026 (Spesial Issue)
Publisher : Pusdikra-Publishing.com

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51178/jsr.v7i001.3249

Abstract

Pembelajaran bahasa Indonesia membutuhkan sumber belajar yang kontekstual dan berakar pada pengalaman budaya peserta didik. Salah satu sumber pembelajaran yang potensial adalah kearifan lokal yang hidup dalam masyarakat. Penelitian ini bertujuan mendeskripsikan tradisi malabuh masyarakat Banjar sebagai sumber pembelajaran teks berbasis kearifan lokal dalam Pendidikan Bahasa Indonesia. Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode etnografi. Data diperoleh melalui observasi lapangan, wawancara mendalam dengan tokoh adat, sesepuh kampung, dan pelaku ritual, serta dokumentasi narasi lisan masyarakat Banjar di Kalimantan Selatan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tradisi malabuh mengandung kekayaan narasi spiritual, simbol ritual, dan nilai budaya yang relevan untuk pembelajaran teks, seperti teks narasi budaya, teks deskripsi, teks eksplanasi, dan teks laporan hasil observasi. Tradisi ini merepresentasikan relasi harmonis manusia–alam–entitas spiritual serta sistem pengetahuan lokal yang diwariskan secara turun-temurun. Pemanfaatan tradisi malabuh sebagai sumber pembelajaran teks memungkinkan peserta didik memahami struktur dan makna teks secara kontekstual sekaligus menumbuhkan kesadaran budaya dan identitas lokal. Dengan demikian, tradisi malabuh tidak hanya berfungsi sebagai praktik budaya, tetapi juga sebagai sumber pembelajaran Bahasa Indonesia yang kontekstual, bermakna, dan relevan dengan tujuan pendidikan berbasis kearifan lokal.
Campur Kode dalam Novel Rindu Karya Tere Liye: (Kajian Sosiolinguistik) Nor Hidayah; Heppy Lismayanti; Noor Indah Wulandari; Johan Arifin; Rahidatul Laila Agustina
Education Achievement: Journal of Science and Research Volume 7 Issue 001 February 2026 (Spesial Issue)
Publisher : Pusdikra-Publishing.com

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51178/jsr.v7i001.3256

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi dan menganalisis jenis dan konteks sosial di mana kode campur muncul dalam novel Rindu karya Tere Liye. Kode campur adalah fenomena linguistik di mana seorang penutur memasukkan unsur-unsur bahasa lain seperti kata, frasa, klausa, atau idiom ke dalam bahasa utama tanpa mengubah topik pembicaraan. Fenomena ini khususnya relevan untuk diteliti dalam Rindu, karena narasinya berlatar pada masa kolonial, yang menyediakan lingkungan ideal untuk kontak bahasa dan interaksi antarbudaya. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif deskriptif dengan teks novel sebagai sumber data. Data kode campur diidentifikasi dan diklasifikasikan berdasarkan jenisnya (intra-kalimat, antar-kalimat, atau frasa nominal) dan bahasa yang digunakan (Belanda atau Inggris), dengan mengacu pada teori Fishman (1972) dan Holmes (2013). Data tersebut kemudian ditafsirkan dengan memeriksa konteks sosial dan naratif untuk memahami peran sosial, makna simbolik, dan hubungan kekuasaan di antara karakter sebagaimana tercermin melalui penggunaan bahasa. Secara hipotetis, penelitian ini diharapkan menunjukkan bahwa campur kode intrakalimat dengan unsur-unsur Belanda mendominasi, mencerminkan identitas sosial dan status kolonial yang berlaku pada masa itu. Kesimpulan akan merangkum berbagai bentuk campur kode dan implikasinya terhadap hubungan sosial dan dinamika kekuasaan dalam konteks novel.