Andi Muliarni Okasa
Hasanuddin University

Published : 2 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

Analisis Komponen Hasil Jagung Pulut (Zea mays var. Ceratina) pada Beberapa Daerah di Sulawesi Selatan: Analysis of Yield Components of Waxy Corn (Zea mays var. Ceratina) in Several Regions of South Sulawesi Andi Muliarni Okasa; Muh. Riadi; Hafizhah Al-Amanah; Jumrah Jumrah; Siti Indarwati
Perbal: Jurnal Pertanian Berkelanjutan Vol. 14 No. 1 (2026): Perbal: Jurnal Pertanian Berkelanjutan
Publisher : Fakultas Pertanian Universitas Cokroaminoto Palopo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30605/perbal.v14i1.7658

Abstract

Jagung pulut (Zea mays var. ceratina) adalah varietas jagung unik yang dicirikan oleh kandungan amilopektinnya yang tinggi, yang memberikan tekstur lengket saat dimasak. Jenis jagung ini populer di berbagai daerah karena rasa dan teksturnya, serta memiliki potensi signifikan dalam aplikasi makanan karena sifat fisikokimianya. Penelitian ini bertujuan untuk mengeksplorasi potensi jagung pulut sebagai sumber pangan fungsional yang dapat digunakan, dengan mengarakterisasi sifat agronomik jagung pulut. Penelitian dilaksanakan di lima kabupaten, yaitu Barru, Maros, Gowa, Takalar, dan Jeneponto. Pengukuran parameter morfologi biji (bobot 1000 biji, panjang biji, lebar biji) dan tongkol (bobot per tongkol, diameter tongkol) dilakukan di laboratorium. Data morfologi dianalisis menggunakan Analisis Variansi (ANOVA) dan Uji Beda Nyata Jujur (BNJ) pada tingkat kepercayaan 95% (α = 0.05) untuk mengidentifikasi perbedaan signifikan antar lokasi. Hasil penelitian menunjukkan perbedaan signifikan antar lokasi untuk semua parameter morfologi. Kabupaten Maros dan Gowa secara konsisten mencatatkan karakteristik morfologi biji dan tongkol yang superior, sedangkan Jeneponto menunjukkan performa terendah, dengan Takalar dan Barru berada di posisi menengah. Semua parameter morfologi menunjukkan korelasi positif yang sangat kuat satu sama lain (r = 0.88-0.95). Waxy corn (Zea mays var. ceratina) is a unique variety of corn characterized by its high amylopectin content, which gives it a sticky texture when cooked. This type of corn is popular in various regions for its taste and texture, and has significant potential in food applications due to its physicochemical properties. This study aimed to explore the potential of waxy corn as a functional food source by characterizing its agronomic properties. The research was conducted in five Regencies, namely: Barru, Maros, Gowa, Takalar, and Jeneponto. Measurements of seed morphological parameters (1000-seed weight, seed length, seed width) and cob parameters (cob weight, cob diameter) were carried out in the laboratory. Morphological data were analyzed using Analysis of Variance (ANOVA) and Tukey's Honestly Significant Difference (HSD) test at a 95% confidence level (α=0.05) to identify significant differences among locations. The results showed significant differences among locations for all morphological parameters. Maros and Gowa Regencies consistently recorded superior seed and cob morphological characteristics, while Jeneponto showed the lowest performance, with Takalar and Barru in intermediate positions. All morphological parameters showed a very strong positive correlation with each other (r = 0.88-0.95).
Analisis Fase Mitosis dan Kromosom Meristem Akar Cabai Rawit (Capsicum frutescens L.) Berdasarkan Waktu Fiksasi: Analysis of Mitotic Phases and Chromosomes in Root Meristems of Cayenne Pepper (Capsicum frutescens L.) Based on Fixation Time Hafizhah Al-Amanah; Andi Muliarni Okasa; Siti Halimah Larekeng; Devi Armita
Perbal: Jurnal Pertanian Berkelanjutan Vol. 14 No. 2 (2026): Perbal: Jurnal Pertanian Berkelanjutan
Publisher : Fakultas Pertanian Universitas Cokroaminoto Palopo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30605/f809aw64

Abstract

Cabai rawit (Capsicum frutescens L.) merupakan komoditas hortikultura strategis yang memerlukan pengembangan genetik berkelanjutan, namun kemajuan pemuliaannya sering kali terhambat oleh kendala teknis dalam analisis sitogenetika. Standardisasi protokol sitologi, khususnya waktu fiksasi, sangat krusial untuk mengatasi masalah ukuran kromosom yang kecil dan ritme pembelahan sel yang fluktuatif pada genus Capsicum. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis karakteristik fase mitosis dan visualisasi kromosom meristem akar cabai rawit berdasarkan variasi waktu fiksasi. Menggunakan metode preparasi squash, sampel akar kecambah berumur 8 hari difiksasi pada interval pukul 09.00 hingga 12.00, dimaserasi dengan HCl 1M, dan diwarnai menggunakan aseto-orcein. Hasil penelitian menunjukkan bahwa seluruh fase pembelahan sel (interfase hingga telofase) dapat diidentifikasi, namun kualitas visualisasinya sangat bergantung pada presisi waktu pengambilan sampel. Analisis dinamika seluler mengungkapkan bahwa puncak aktivitas mitosis (mitotic peak) dengan akumulasi fase metafase tertinggi serta penyebaran kromosom yang paling jelas tercapai secara konsisten pada waktu fiksasi pukul 11.00 hingga 11.30. Sebaliknya, populasi sel pada pukul 09.00–10.30 masih didominasi oleh fase interfase. Temuan ini menetapkan standar teknis baru dalam optimasi analisis sitologi C. frutescens, yang esensial bagi keberhasilan analisis kariotipe, evaluasi ploidi, dan program rekayasa kromosom di masa depan. Cayenne pepper (Capsicum frutescens L.) is a strategic horticultural crop that requires continuous genetic improvement; however, breeding progress is often hindered by technical constraints in cytogenetic analysis. Standardizing cytological protocols, particularly fixation timing, is crucial for addressing the challenges of small chromosome size and fluctuating cell division rhythms inherent in the Capsicum genus. This study aimed to analyze the mitotic phase characteristics and chromosome visualization in C. frutescens root meristems across varying fixation intervals. Using the squash preparation method, root tips from 8-day-old seedlings were fixed between 09:00 and 12:00 WIB, macerated in 1M HCl, and stained with aceto-orcein. The results demonstrated that although all cell cycle phases could be identified, the visualization quality was strictly dependent on the sampling precision. Cellular dynamics analysis revealed that the mitotic peak, characterized by the highest metaphase accumulation and optimal chromosome spread, was consistently achieved at a fixation window of 11:00–11:30 WIB. In contrast, the cell populations sampled between 09:00 and 10:30 were predominantly in interphase. These findings establish a definitive technical baseline for optimizing C. frutescens cytological analysis, serving as an essential prerequisite for accurate karyotyping, ploidy evaluation, and future chromosome engineering.