Keterbatasan akses pembelajaran pada siswa sekolah dasar dari keluarga penerima Program Keluarga Harapan (PKH) dan Bantuan Pangan Non Tunai (BPNT) memerlukan model pembelajaran yang mengintegrasikan dukungan sekolah, keluarga, dan kecerdasan buatan. Penelitian ini bertujuan menganalisis kebutuhan pengembangan Model Home Study berbasis ChatGPT berdasarkan perspektif guru, orang tua, dan siswa. Penelitian menggunakan pendekatan deskriptif kuantitatif dengan metode survei terhadap 10 guru, 20 orang tua/Keluarga Penerima Manfaat (KPM), dan 20 siswa sekolah dasar di Desa Mantang, Kabupaten Lombok Tengah. Data dikumpulkan menggunakan angket analisis kebutuhan berskala Likert lima tingkat yang mencakup lima dimensi, yaitu kondisi pembelajaran, pelaksanaan Home Study, pemanfaatan teknologi, kebutuhan pengembangan model, dan pemanfaatan ChatGPT. Data dianalisis secara deskriptif menggunakan distribusi frekuensi dan persentase. Hasil penelitian menunjukkan bahwa guru, orang tua, dan siswa secara konsisten menempatkan seluruh indikator pada kategori Sangat Butuh, terutama terkait pendampingan belajar mandiri, penguatan Home Study, penyediaan media pembelajaran yang interaktif, pemanfaatan teknologi digital, serta penggunaan ChatGPT sebagai pendamping belajar (virtual tutor). Temuan ini menunjukkan bahwa pengembangan Model Home Study berbasis ChatGPT memiliki landasan kebutuhan yang kuat sebagai inovasi pembelajaran inklusif bagi siswa penerima PKH dan BPNT. Kebaruan penelitian terletak pada integrasi perspektif guru, orang tua, dan siswa sebagai dasar empiris pengembangan model pembelajaran berbasis kecerdasan buatan yang adaptif terhadap kondisi sosial ekonomi peserta didik.