Roky Konstantin Ara
Universitas Nusa Cendana, Kupang, Indonesia

Published : 1 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 1 Documents
Search

Strategi Komunikasi Persuasif BBKSDA dalam Menyosialisasikan Pengalihan Fungsi Cagar Alam Mutis ke Taman Nasional Mutis Timau Maria Roswita Yulianti Seran; Veki Edizon Tuhana; Roky Konstantin Ara
Journal of Innovative and Creativity (Joecy) Vol. 6 No. 2 (2026)
Publisher : Fakultas Ilmu Pendidikan Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/joecy.v6i2.13048

Abstract

Perubahan status Cagar Alam Mutis menjadi Taman Nasional Mutis Timau menimbulkan dinamika sosial serta resistensi dari masyarakat adat Fatumnasi yang memiliki keterikatan ekologis dan kosmologis dengan kawasan tersebut. Penelitian ini bertujuan mengkaji strategi komunikasi persuasif BBKSDA Nusa Tenggara Timur dalam mensosialisasikan kebijakan alih fungsi kawasan, sekaligus mengidentifikasi berbagai hambatan yang muncul dalam proses tersebut. Pendekatan yang digunakan adalah studi kasus kualitatif dengan paradigma interpretif. Data primer dikumpulkan melalui observasi nonpartisipatif dan wawancara mendalam semi-terstruktur terhadap enam informan yang dipilih secara purposif. Data sekunder diperoleh dari dokumen resmi serta kanal digital BBKSDA NTT. Analisis data mengacu pada model interaktif Miles, Huberman, dan Saldaña, dengan interpretasi menggunakan kerangka retorika Aristoteles: ethos, pathos, dan logos. Hasil penelitian menunjukkan bahwa strategi komunikasi BBKSDA NTT berbasis segmentasi khalayak, dengan kombinasi pendekatan kelompok formal dan interaksi interpersonal informal seperti anjangsana dan kunjungan door-to-door. Unsur ethos dibangun melalui legitimasi kelembagaan dan keterlibatan petugas lokal; pathos melalui narasi budaya “Mutis sebagai Ibu Orang Timor”; dan logos melalui penjelasan rasional terkait zonasi, hak akses tradisional, serta peluang ekonomi berbasis pariwisata berkelanjutan. Hambatan utama meliputi keterbatasan anggaran dan kondisi geografis, rendahnya kepercayaan akibat konflik historis serta pengaruh informasi eksternal, serta kelemahan prosedural berupa sosialisasi yang terlambat dan ketidakjelasan implementasi batas zonasi yang masih dinegosiasikan.