Penelitian ini bertujuan untuk meningkatkan rasa nasionalisme anak usia dini melalui kegiatan pembelajaran konkret. Penelitian ini dilakukan karena anak-anak belum menunjukkan indikator nasionalisme secara optimal, khususnya dalam hal cinta tanah air, kedisiplinan, dan tanggung jawab. Kegiatan pembelajaran konkret diharapkan dapat memberikan pengalaman bermakna yang memungkinkan anak memahami dan mempraktikkan nilai-nilai tersebut dalam kehidupan sehari-hari. Penelitian ini menggunakan metode Penelitian Tindakan Kelas (PTK) dengan model Kemmis dan McTaggart, yang mencakup tahapan perencanaan, tindakan, observasi, dan refleksi yang dilaksanakan dalam dua siklus. Subjek penelitian adalah 15 anak Kelompok B di TK Alfarizi, Banyuasin. Data dikumpulkan melalui observasi dan dokumentasi, kemudian dianalisis menggunakan teknik deskriptif kualitatif dan kuantitatif berdasarkan pencapaian indikator nasionalisme. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pengenalan budaya lokal Sumatera Selatan secara efektif meningkatkan sikap nasionalisme anak. Pada Siklus I, 6 anak (40%) dikategorikan Mulai Berkembang (MB), 6 anak (40%) Berkembang Sesuai Harapan (BSH), dan 3 anak (20%) Berkembang Sangat Baik (BSB). Setelah perbaikan pada Siklus II, 13 anak (86,7%) mencapai kategori Berkembang Sangat Baik (BSB), melampaui indikator keberhasilan sebesar 75%. Anak-anak menunjukkan sikap yang lebih baik dalam mencerminkan rasa cinta tanah air, kedisiplinan, dan tanggung jawab selama kegiatan pembelajaran. Penelitian ini menunjukkan bahwa pengenalan budaya lokal Sumatra Selatan dapat menjadi strategi pembelajaran yang efektif untuk menumbuhkan nasionalisme pada anak usia dini, khususnya dalam mengembangkan rasa cinta tanah air, kedisiplinan, dan tanggung jawab. Temuan ini diharapkan dapat menjadi acuan bagi pendidik anak usia dini dalam mengintegrasikan nilai-nilai budaya lokal ke dalam pembelajaran di kelas sebagai upaya memperkuat pendidikan karakter sejak dini. Namun, penelitian ini terbatas pada satu taman kanak-kanak dengan jumlah partisipan yang relatif sedikit; oleh karena itu, hasilnya tidak dapat digeneralisasi ke populasi yang lebih luas. Penelitian selanjutnya disarankan untuk melibatkan sampel yang lebih besar dan mengeksplorasi penerapan pembelajaran berbasis budaya lokal di lingkungan pendidikan serta wilayah yang berbeda.