Krisis iklim global semakin mendesak dengan meningkatnya emisi gas rumah kaca, salah satunya berasal dari isu sampah. Permasalahan sampah di Desa Bandar Khalipah Dusun 17 menunjukkan rendahnya kesadaran masyarakat terhadap pemilahan dan pengelolaan sampah, sehingga diperlukan pendekatan berbasis komunitas. Kegiatan pengabdian masyarakat ini bertujuan untuk meningkatkan kesadaran dan partisipasi warga melalui pembentukan bank sampah berbasis GEDSI (Gender, Equality, Disability, and Social Inclusion). Metode yang digunakan adalah sosialisasi dengan menggunakan alat berupa kuesioner pre-test dan post-test serta dilanjutkan dengan pelaksanaan program Bank Sampah dan Monitoring dan Evaluasi pelaksanaan program tersebut. Hasil kegiatan menunjukkan adanya peningkatan pemahaman masyarakat mengenai pengelolaan sampah, terbentuknya komunitas Bank Sampah BOHAI Sadar Lingkungan, serta meningkatnya partisipasi warga dalam kegiatan pemilahan, pengumpulan, dan pengelolaan sampah, terutama anak-anak. Persepsi focal point bank sampah menunjukkan sebanyak 37% tidak menyetujui bahwa anak-anak memiliki kesadaran atas pengelolaan sampah. Pada tahap pelaksanaan program, terdapat peningkatan tingkat kesadaran anak-anak terhadap lingkungan dari 62.4% menjadi 75.5%. Walaupun terdapat hambatan berupa keterbatasan sarana, prasarana, dan transportasi, program ini berhasil mendorong perubahan perilaku masyarakat dalam menerapkan prinsip 3R (reduce, reuse, recycle) serta memperkuat peran komunitas dalam menghadapi krisis iklim. Bank sampah tidak hanya menjadi solusi teknis, tetapi juga sarana rekayasa sosial yang mendorong pemberdayaan masyarakat, penguatan nilai lingkungan, serta menciptakan peluang ekonomi lokal berkelanjutan