Inayatillah
Universitas Islam Negeri Ar-Raniry Banda Aceh

Published : 2 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

LEGITIMASI POLITIK DAN 'ASABIYYAH DALAM PERADABAN ISLAM ERA MODERN AWAL: STUDI KOMPARATIF DINASTI SAFAWI, MUGHAL, DAN USMANI Cut Meurah Ismiaqausari; Inayatillah
CARITA: Jurnal Sejarah dan Budaya Vol. 5 No. 1 (2026): CARITA : Jurnal Sejarah dan Budaya
Publisher : Program Studi Sejarah Peradaban Islam

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35905/carita.v5i1.17527

Abstract

Kajian mengenai Dinasti Safawi, Mughal, dan Usmani selama ini berkembang dalam dua jalur yang terpisah: penelitian legitimasi kekuasaan yang mengkaji mekanisme ideologis dan administratif tiap dinasti secara berdiri sendiri, serta penelitian jejaring intelektual yang menelusuri mobilitas ulama dan transmisi keilmuan tanpa mengaitkannya dengan tatanan politik yang menopangnya, sehingga hubungan timbal balik antara keduanya belum dianalisis dalam satu kerangka komparatif yang mencakup ketiga dinasti sekaligus. Penelitian ini mengisi kekosongan tersebut dengan menganalisis bagaimana Dinasti Safawi, Mughal, dan Usmani membangun legitimasi politik melalui jaringan ulama, patronase keilmuan, orientasi keagamaan, dan institusi intelektual pada era modern awal. Dengan menggunakan metode historis — pemilihan topik, pengumpulan sumber, kritik sumber, interpretasi, dan penulisan historiografis — yang diterapkan pada literatur sekunder Persianate dan Islamicate, konsep 'asabiyyah Ibn Khaldun ditempatkan sebagai lensa analitis sejak awal, bukan sekadar label yang ditempelkan di akhir. Hasil penelitian menunjukkan bahwa legitimasi Safawi bertumpu pada institusionalisasi doktrinal Syiah Itsna 'Asyariyah yang dipancarkan dari madrasah-madrasah Isfahan; legitimasi Mughal pada akomodasi pluralistik yang dinegosiasikan atas masyarakat multiagama, yang kemudian ditantang oleh kebangkitan ortodoksi; dan legitimasi Usmani pada fusi birokratis syariat dan qanun di bawah sintesis kesultanan-kekhalifahan. Penelitian ini berargumen bahwa pada ketiga kasus tersebut 'asabiyyah tidak bersifat primordial-tribal sebagaimana diteorikan Ibn Khaldun, melainkan direkayasa secara artifisial melalui ideologi negara, kodifikasi hukum, dan patronase keilmuan, sehingga memperluas jangkauan teori Khaldunian bagi kekaisaran Islam multietnis era modern awal. Jejaring historiografi Persianate yang melintasi batas dinasti dan mazhab turut mempersoalkan narasi lama tentang "stagnasi" intelektual Usmani, yang oleh historiografi revisionis mutakhir dipandang sebagai kesinambungan keilmuan yang sofistikatif melalui tradisi syarah dan hasyiyah, bukan kemunduran.
EPISTEMOLOGI ISLAM DAN KONTRIBUSINYA TERHADAP ILMU HUMANIORA: A. Landasan Epistemologi Islam B. Nilai, Etika, dan Tujuan Ilmu Pengetahuan C. Kontribusi Terhadap Ilmu Humaniora Rahma Wanda Noviani; Inayatillah
Edusifa: Jurnal Pendidikan Islam Vol. 10 No. 1 (2026): Edusifa : Jurnal Pendidikan Islam
Publisher : STIT Sirojul Falah Bogor

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56146/edusifa.v10i1.434

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji epistemologi Islam serta kontribusinya terhadap pengembangan ilmu humaniora. Metode yang digunakan adalah pendekatan kualitatif deskriptif dengan jenis penelitian kepustakaan (library research), melalui analisis berbagai sumber seperti buku, jurnal ilmiah, dan artikel yang relevan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa epistemologi Islam dibangun atas tiga pilar utama, yaitu bayani (tekstual), burhani (rasional), dan irfani (spiritual), yang secara integratif membentuk kerangka pengetahuan yang komprehensif. Berbeda dengan epistemologi Barat yang cenderung menekankan rasionalitas dan empirisme, epistemologi Islam mengintegrasikan wahyu, akal, dan pengalaman spiritual sebagai sumber pengetahuan. Dalam konteks ilmu humaniora, epistemologi Islam memberikan kontribusi signifikan melalui pendekatan yang holistik dan bernilai. Pertama, menghapus dikotomi antara ilmu agama dan ilmu umum melalui paradigma integratif-interkonektif. Kedua, menekankan pentingnya etika dan moralitas dalam setiap kajian humaniora. Ketiga, menghadirkan perspektif antropologi dan sosiologi Qur’ani yang berbasis wahyu. Keempat, memandang manusia sebagai makhluk multidimensional yang mencakup aspek material dan spiritual. Kelima, menawarkan metodologi alternatif yang tidak hanya berbasis empiris, tetapi juga mempertimbangkan teks dan pengalaman batin. Dengan demikian, epistemologi Islam tidak hanya relevan sebagai sistem pengetahuan, tetapi juga sebagai paradigma alternatif dalam pengembangan ilmu humaniora yang lebih etis, integratif, dan berorientasi pada kemaslahatan manusia.