ABSTRAK Indonesia merupakan negara yang memiliki intensitas bencana alam yang tinggi. Sebagai negara berkembang, tentunya Indonesia sangat terdampak terutama dalam sisi ekonomi. Dampak ekonomi tersebut dipengaruhi oleh dampak personal dan dampak kerusakan. Dampak personal dapat diselesaikan dengan pemberdayaan masyarakat terhadap tanggap bencana. Sedangkan dampak kerusakan hanya bisa diatasi dengan membangunan shelter sebagai bangunan sementara yang menggantikan bangunan yang hancur. Keberadaan bangunan sementara tersebut merupakan sebuah usaha agar roda perekonomian dapat cepat berputar kembali. BNPB mengungkapkan bahwa masalah yang dihadapi dalam membangun shelter adalah pembangunan yang lambat, dan anggaran yang terbatas. Produksi material di wilayah bencana juga berhenti, sehingga material yang tersedia terbatas. Dalam membangun shelter pasca bencana di Indonesia, Andry Widyowijatnoko yang merupakan seorang arsitek mengusulkan penggunaan struktur tunnel reciprocal frame sebagai shelter pasca bencana. Bangunan tersebut dapat dibangun menggunakan material kayu ataupun bambu yang tersedia di sekitar area bencana. Penelitian ini akan menggali potensi dari tunnel reciprocal untuk mengetahui kemungkinan untuk dikembangkan menjadi hunian tetap bagi korban terdampak, dengan menggunakan pendekatan parametrik untuk melakukan analisis struktur. Penelitian ini diharapkan dapat menjadi referensi untuk membantu percepatan proses pemulihan pasca bencana. Kata Kunci: bencana, parametrik, pemberdayaan masyarakat, shelter, tunnel reciprocal ABSTRACT The Potential of Reciprocal Tunnel Construction for Post-Disaster Housing with a Parametric Approach. As disasters continue to occur and intensify, Indonesia is significantly affected, particularly in terms of its economy. The economic impacts are influenced by both personal losses and physical damage to infrastructure. Personal impacts can be mitigated through community empowerment and disaster preparedness initiatives. In contrast, the impacts of physical destruction can only be addressed by providing temporary shelters to replace damaged or destroyed buildings. The availability of temporary shelters is essential to accelerate the recovery process and restore economic activities in affected areas. According to the Indonesian National Disaster Management Agency (BNPB), the main challenges in post-disaster shelter construction are the slow construction process and limited funding. In addition, the production and supply of building materials are often disrupted in disaster-affected areas, resulting in material shortages. To address these challenges, Indonesian architect Andry Widyowijatnoko proposed the use of a tunnel reciprocal frame structure as a post-disaster shelter. This structural system can be constructed using locally available materials such as timber or bamboo, making it suitable for emergency conditions. This study aims to explore the potential of the tunnel reciprocal frame system and evaluate its feasibility for further development into permanent housing for disaster-affected communities by employing a parametric approach for structural analysis. The findings are expected to provide a scientific reference for improving post-disaster housing strategies and supporting a faster and more sustainable recovery process. Keywords: disaster, parametric design, community empowerment, shelter, tunnel reciprocal frame.