Claim Missing Document
Check
Articles

Found 5 Documents
Search

A Biblical-Theological Study of Saul’s Kingship in 1 Samuel 9-15 Fellix Gosal
International Journal of Education, Information Technology, and Others Vol 9 No 2 (2026): International Journal of Education, information technology   and others
Publisher : Peneliti.net

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

This study analyzes the ascent and decline of Saul in 1 Samuel 9–15 using a narrative-theological framework, emphasizing the transmission of theological significance through narrative rather than through abstract doctrinal expression. By closely looking at how the plot develops, how characters are developed, how dialogue is used, how repetition is used, how irony is used, how narrative time is used, and how the narrator evaluates the story, the study claims that the Saul story is a consistent theological picture of monarchy under divine sovereignty. The results show that Saul's monarchy starts with real divine choice, Spirit enablement, and narrative expectation. This goes against ideas that he was an illegitimate or only temporary ruler. The story also shows a pattern of disobedience caused by fear, confusion about roles, and self-justifying religiosity that eventually hurts Saul's calling. Saul's rejection does not stem from individual failures; rather, it is the climax of a continuous narrative trajectory wherein obedience, trust, and surrender to prophetic authority are supplanted by autonomous leadership. The study concludes that the Saul cycle serves as a foundational narrative theology of kingship, defining obedience to the word of YHWH as the essential criterion for legitimate leadership in Israel and providing lasting theological insight into the interplay between divine election and human responsibility.
Transisi Kepemimpinan Dari Musa Kepada Yosua: Kajian Teologi Biblika Tentang Pola Suksesi Fellix Gosal; Edward Taliwongso
Jurnal Ilmiah Wahana Pendidikan Vol 12 No 7.A (2026): Jurnal Ilmiah Wahana Pendidikan
Publisher : Peneliti.net

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Transisi kepemimpinan dari Musa kepada Yosua menempati posisi strategis dalam narasi Perjanjian Lama karena menghubungkan generasi eksodus dengan generasi pewaris tanah perjanjian. Penelitian ini berupaya menelusuri bagaimana tema transisi tersebut dikembangkan dalam Bilangan 27:18–23, Ulangan 31:1–8, Ulangan 34:9, Yosua 1:1–9, serta Yosua 3–4, dan apa signifikansi teologisnya bagi pemahaman tentang kesinambungan misi Allah. Dengan menggunakan metode teologi biblika berpendekatan naratif-kanonik, kajian ini menempatkan bentuk final teks sebagai objek analisis utama dan menelusuri lima tema teologis yang muncul, yaitu pemilihan ilahi, pembentukan pemimpin, pewarisan otoritas, legitimasi publik, dan kesinambungan misi perjanjian. Hasil kajian menunjukkan bahwa suksesi Musa–Yosua bukan sekadar peristiwa administratif, melainkan pola teologis yang memperlihatkan bagaimana Allah menjamin keberlangsungan misi penyelamatan-Nya melalui pemimpin-pemimpin yang dipanggil, dipersiapkan, dan diteguhkan oleh-Nya sendiri. Implikasi praktis dari pola ini sangat relevan bagi gereja masa kini, khususnya Gereja Masehi Advent Hari Ketujuh, dalam menjawab kebutuhan akan kaderisasi rohani yang sehat serta regenerasi kepemimpinan yang berakar pada panggilan ilahi.
Peran Silsilah Dalam Kitab Kejadian: Sebuah Analisis Sastra Dan Teologis James Jonah Watopa; Fellix Gosal; Edward Taliwongso
Jurnal Ilmiah Wahana Pendidikan Vol 12 No 7.B (2026): Jurnal Ilmiah Wahana Pendidikan
Publisher : Peneliti.net

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Silsilah merupakan fitur menonjol dalam Kitab Kejadian, namun sering diabaikan pembaca modern yang lebih tertarik pada bagian naratif dramatis dan menganggap catatan silsilah sekadar daftar nama yang membosankan. Padahal, perikop-perikop ini berperan krusial dalam membentuk struktur, kerangka historis, dan pesan teologis kitab tersebut. Penelitian ini mengkaji fungsi sastra dan teologis silsilah dalam Kitab Kejadian, dengan perhatian khusus pada Kejadian 5 (Adam sampai Nuh), Kejadian 10 (Daftar Bangsa-bangsa), dan Kejadian 11:10–32 (Sem sampai Abraham). Pendekatan yang digunakan adalah kualitatif berbasis teks dengan analisis sastra dan teologis, dalam kerangka konservatif yang menerima kepenulisan Musa, otoritas Kitab Suci, dan historisitas peristiwa yang dicatat dalam Kejadian. Hasil penelitian menunjukkan tiga fungsi utama silsilah. Pertama, sebagai elemen struktural yang mengorganisasi narasi melalui formula toledot yang muncul sebelas kali sepanjang kitab. Kedua, sebagai sarana teologis untuk menelusuri garis perjanjian dari Adam melalui Set, Nuh, Sem, hingga Abraham, memperlihatkan kesinambungan rencana penebusan Allah. Ketiga, sebagai fondasi identitas umat perjanjian yang menghubungkan komunitas iman dengan warisan leluhurnya. Dengan demikian, silsilah dalam Kejadian bukan sekadar daftar nama, melainkan komponen integral narasi Alkitab yang memadukan sejarah, teologi, dan identitas dalam rencana keselamatan Allah
Kepemimpinan Perempuan Dalam Narasi Debora: Kajian Hakim-Hakim 4–5 Douglas Sepang; Fellix Gosal; Ted Jones Lauda Woy
Jurnal Ilmiah Wahana Pendidikan Vol 12 No 7.B (2026): Jurnal Ilmiah Wahana Pendidikan
Publisher : Peneliti.net

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Sosok Debora dalam Hakim-hakim 4–5 menampilkan perpaduan tiga fungsi kepemimpinan, yakni hakim (shofet), nabiah (nevi’ah), dan pemimpin militer—suatu kombinasi yang nyaris tidak dijumpai pada tokoh lain dalam Perjanjian Lama. Penelitian-penelitian terdahulu pada umumnya mendekati ketiga fungsi tersebut secara terpisah: kajian kepemimpinan perempuan mengedepankan dimensi gender, kajian kenabian membatasi pembahasan pada aspek profetik, sedangkan kajian peristiwa militer dalam narasi lebih banyak menyoroti Barak, Sisera, dan Yael. Belum banyak studi yang mengkaji secara terpadu bagaimana narator Hakim-hakim 4–5 menyusun integrasi tiga fungsi Debora, serta bagaimana integrasi tersebut membentuk legitimasi kepemimpinannya dalam teks. Penelitian ini memakai metode historis-gramatikal dengan analisis naratif terhadap bentuk final teks Hakim-hakim 4–5, didukung analisis leksikal Ibrani serta dialog dengan komentar-komentar standar. Hasil kajian memperlihatkan tiga hal: (1) ketiga fungsi tersebut tidak berdiri sendiri, melainkan terintegrasi melalui panggilan kenabian sebagai pusat legitimasi; (2) legitimasi Debora bersumber pada panggilan ilahi, bukan pada gender, sementara gendernya berperan sebagai instrumen retoris yang mempertegas kritik naratif terhadap kelumpuhan kepemimpinan laki-laki Israel; dan (3) penerimaan Debora di tengah masyarakat patriarkis didukung oleh kekosongan kepemimpinan, otoritas profetik yang teruji, serta teologi YHWH sebagai sumber tunggal otoritas. Implikasi teologisnya jelas: otoritas pelayanan dalam tradisi Israel ditentukan oleh panggilan YHWH, bukan oleh kategori gender, meskipun latar patriarkis tetap menjadi konteks yang perlu dibaca dengan cermat.
Karakter Allah Dalam Kitab Hosea: Sebuah Perspektif Pertentangan Besar Edward Talisongso; Fellix Gosal
Jurnal Ilmiah Wahana Pendidikan Vol 12 No 7.B (2026): Jurnal Ilmiah Wahana Pendidikan
Publisher : Peneliti.net

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Kitab Hosea menyajikan otret intim sekaligus paling kompleks tentang karakter Allah. Lewat metafora pernikahan antara Hosea dan Gomer, kitab ini tidak hanya menyuarakan kritik sosial-religius terhadap Israel Utara abad ke-8 SM, tetapi juga menyingkapkan ketegangan teologis yang dalam: ketegangan antara murka ilahi dan belas kasihan, antara keadilan dan kesetiaan perjanjian. Penelitian ini berargumen bahwa kitab Hosea secara keseluruhan berfungsi sebagai pembelaan (vindicatio) terhadap karakter Allah di tengah pemberontakan umat perjanjian-Nya, dan pembacaan tersebut menjadi semakin koheren ketika ditafsirkan melalui kerangka Great Controversy. Dengan menggunakan metode biblika-teologis dan analisis literer, penelitian ini menelusuri empat dimensi karakter Allah dalam Hosea—sebagai Suami Perjanjian (pasal 1–3), sebagai Hakim yang Adil (pasal 4–10), sebagai Bapa yang Mengasihi (pasal 11), dan sebagai Penebus serta Pemulih (pasal 14)—lalu menunjukkan bahwa keempat dimensi tersebut bersama-sama membela karakter Allah dari tuduhan sewenang-wenang, kejam, atau tidak setia. Lebih jauh, penelitian ini memperlihatkan bahwa konflik antara Yahweh dan Israel dalam Hosea mencerminkan struktur kosmik dari konflik agung antara kesetiaan dan pemberontakan, sehingga kitab Hosea dapat dipahami sebagai miniatur naratif dari Great Controversy. Kontribusi orisinal penelitian ini terletak pada pembacaan sistematis kitab Hosea sebagai theodicy kenabian yang memperkaya teologi Advent tentang pembelaan karakter Allah.