Evy Diah Woelansari
Politeknik Kesehatan Kementrian Kesehatan Surabaya

Published : 3 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 3 Documents
Search

HUBUNGAN KADAR TROPONIN I DENGAN NILAI MEAN PLATELET VOLUME (MPV) DAN NILAI PLATELET LARGE CELL RATIO (P-LCR) PADA PASIEN SINDROM KORONER AKUT Kanaya Aulia Masardi; Evy Diah Woelansari; Wisnu Istanto; Suliati Suliati
HEALTHY : Jurnal Inovasi Riset Ilmu Kesehatan Vol. 5 No. 3 (2026)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/healthy.v5i3.13590

Abstract

ABSTRACT Acute coronary syndrome (ACS) is a cardiovascular emergency caused by a sudden reduction in myocardial blood flow due to coronary artery obstruction, resulting in myocardial injury. Cardiac Troponin I is a specific biomarker of myocardial damage, whereas Mean Platelet Volume (MPV) and Platelet Large Cell Ratio (P-LCR) are indicators of platelet activity associated with atherothrombotic processes. This study aimed to analyze the relationship between Troponin I levels and MPV and P-LCR values in patients with ACS at Haji Regional General Hospital, East Java Province. An analytical observational study with a cross-sectional design was conducted from January to February 2026. A total of 30 patients diagnosed with ACS were selected using purposive sampling. Troponin I levels were measured using the Fluorescence Immunoassay method, while MPV and P-LCR were assessed using fluorescence flow cytometry. Data were analyzed using Spearman correlation analysis. The results showed that the mean Troponin I level was 2.49 ng/mL, the mean MPV was 10.29 fL, and the mean P-LCR was 26.63%. Spearman analysis demonstrated a significant positive correlation between Troponin I and MPV (p=0.047; r=0.365) as well as between Troponin I and P-LCR (p=0.039; r=0.380). It can be concluded that increased Troponin I levels are associated with elevated platelet activity parameters, indicating that MPV and P-LCR may serve as supportive hematological markers in the evaluation of patients with acute coronary syndrome. ABSTRAK Sindrom koroner akut (SKA) merupakan kegawatdaruratan kardiovaskular yang disebabkan oleh penurunan aliran darah ke miokard akibat penyumbatan arteri koroner dan berpotensi menimbulkan kerusakan jaringan jantung. Troponin I dikenal sebagai biomarker spesifik cedera miokard, sedangkan Mean Platelet Volume (MPV) dan Platelet Large Cell Ratio (P-LCR) merupakan indikator aktivitas trombosit yang berperan dalam proses aterotrombosis. Penelitian ini bertujuan menganalisis hubungan kadar Troponin I dengan nilai MPV dan P-LCR pada pasien SKA di RSUD Haji Provinsi Jawa Timur. Penelitian menggunakan desain observasional analitik dengan pendekatan cross-sectional yang dilaksanakan pada Januari–Februari 2026. Sebanyak 30 pasien SKA dipilih menggunakan teknik purposive sampling. Pemeriksaan Troponin I dilakukan dengan metode Fluorescence Immunoassay, sedangkan MPV dan P-LCR diperiksa menggunakan metode fluorescence flow cytometry. Analisis hubungan antarvariabel dilakukan menggunakan uji korelasi Spearman. Hasil penelitian menunjukkan rata-rata kadar Troponin I sebesar 2,49 ng/mL, MPV sebesar 10,29 fL, dan P-LCR sebesar 26,63%. Uji Spearman menunjukkan terdapat hubungan positif yang bermakna antara kadar Troponin I dengan MPV (p=0,047; r=0,365) serta antara kadar Troponin I dengan P-LCR (p=0,039; r=0,380). Disimpulkan bahwa peningkatan kadar Troponin I berkaitan dengan peningkatan parameter aktivitas trombosit, sehingga MPV dan P-LCR berpotensi menjadi parameter hematologi pendukung dalam evaluasi kondisi pasien sindrom koroner akut.
PENGARUH WAKTU PEMERIKSAAN GLUKOSA DARAH MENGGUNAKAN TABUNG PLAIN DAN TABUNG SERUM SEPARATOR Qonita Ardiyanti Maysarah; Anik Handayati; Museyaroh Museyaroh; Evy Diah Woelansari
HEALTHY : Jurnal Inovasi Riset Ilmu Kesehatan Vol. 5 No. 4 (2026)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/healthy.v5i4.14080

Abstract

Blood glucose testing is one of the most important laboratory examinations for the diagnosis, monitoring, and evaluation of diabetes mellitus management. The accuracy of test results is influenced by various factors, particularly those occurring during the pre-analytical phase, including the type of blood collection tube used and the delay between sample collection and analysis. Delayed examination may reduce blood glucose concentration due to ongoing glycolysis within blood cells, thereby affecting the validity of laboratory results. This study aimed to analyze the effect of delayed examination time on blood glucose levels using plain tubes and Serum Separator Tubes (SST). An experimental study with a Two-Way Repeated Measures design was conducted. Serum samples obtained from seven respondents were collected into plain tubes and SST tubes and analyzed at 0, 5, and 10 hours using a Biobase Automatic Chemistry Analyzer. Data were analyzed using the Shapiro–Wilk normality test and Two-Way Repeated Measures ANOVA. The results showed that the mean blood glucose level in plain tubes decreased from 75.57 mg/dL at 0 hours to 64.29 mg/dL at 5 hours and 65.43 mg/dL at 10 hours. In contrast, blood glucose levels in SST tubes remained relatively stable at 75.71 mg/dL, 76.86 mg/dL, and 78.14 mg/dL at 0, 5, and 10 hours, respectively. The data were normally distributed (p > 0.05). Two-Way Repeated Measures ANOVA demonstrated that examination time, tube type, and their interaction had a statistically significant effect on blood glucose levels (p < 0.05). These findings indicate that delayed examination affects blood glucose levels in plain tubes, whereas SST tubes are able to maintain blood glucose stability for up to 10 hours after sample collection. ABSTRAK Pemeriksaan kadar glukosa darah merupakan salah satu pemeriksaan laboratorium yang berperan penting dalam menegakkan diagnosis, memantau perkembangan penyakit, serta mengevaluasi keberhasilan terapi pada pasien diabetes mellitus. Keakuratan hasil pemeriksaan dipengaruhi oleh berbagai faktor, khususnya pada tahap pra-analitik, seperti jenis tabung yang digunakan dan lamanya waktu antara pengambilan sampel dengan proses pemeriksaan. Penundaan pemeriksaan dapat menyebabkan penurunan kadar glukosa akibat proses glikolisis yang masih berlangsung di dalam sel darah sehingga memengaruhi validitas hasil pemeriksaan. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pengaruh penundaan waktu pemeriksaan terhadap kadar glukosa darah menggunakan tabung plain dan Serum Separator Tube (SST). Penelitian menggunakan desain eksperimen dengan pendekatan Two Way Repeated Measure. Sampel berupa serum dari tujuh responden yang dimasukkan ke dalam tabung plain dan SST, kemudian dianalisis pada waktu 0 jam, 5 jam, dan 10 jam menggunakan Biobase Automatic Chemistry Analyzer. Analisis data dilakukan menggunakan uji normalitas Shapiro-Wilk dan uji Two Way Repeated Measure ANOVA. Hasil penelitian menunjukkan bahwa rerata kadar glukosa pada tabung plain mengalami penurunan dari 75,57 mg/dL pada 0 jam menjadi 64,29 mg/dL pada 5 jam dan 65,43 mg/dL pada 10 jam. Sebaliknya, kadar glukosa pada tabung SST tetap relatif stabil, yaitu 75,71 mg/dL, 76,86 mg/dL, dan 78,14 mg/dL pada masing-masing waktu pengamatan. Data penelitian berdistribusi normal (p>0,05). Hasil analisis menunjukkan bahwa waktu pemeriksaan, jenis tabung, serta interaksi keduanya memberikan pengaruh yang bermakna terhadap kadar glukosa darah (p<0,05). Dengan demikian, penundaan pemeriksaan menyebabkan perubahan kadar glukosa pada tabung plain, sedangkan penggunaan tabung SST mampu mempertahankan stabilitas kadar glukosa darah hingga 10 jam setelah pengambilan sampel.
GAMBARAN HASIL PEMERIKSAAN HEPATITIS B SURFACE ANTIGEN DAN ANTIBODI HEPATITIS C VIRUS PADA IBU HAMIL Vela Navira Rezi; Evy Diah Woelansari; Ratno Tri Utomo
CENDEKIA: Jurnal Ilmu Pengetahuan Vol. 6 No. 4 (2026)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/cendekia.v6i4.14316

Abstract

Hepatitis B and Hepatitis C remain public health problems that may cause serious complications in pregnant women and fetuses and can also be transmitted vertically from mother to baby. Early detection through laboratory examination during pregnancy is essential as an effort to prevent transmission and provide optimal management. This study aimed to determine the results of Hepatitis B Surface Antigen (HBsAg) and Hepatitis C Virus Antibody (Anti-HCV) examinations among pregnant women at Manding Public Health Center, Sumenep Regency. The study sample consisted of 32 pregnant women in the first and second trimesters who underwent laboratory examinations at Manding Public Health Center. The samples were selected using a purposive sampling technique based on the inclusion and exclusion criteria. Primary data were obtained from blood plasma samples examined using the immunochromatographic method (rapid test) according to standard operating procedures. Data were analyzed using descriptive methods to describe the frequency distribution of reactive and non-reactive results for HBsAg and Anti-HCV testing. This study was conducted at the Laboratory of Manding Public Health Center, Sumenep Regency, from February 1–28, 2026. The results showed that among 32 respondents, all obtained non-reactive HBsAg results (100%) and all Anti-HCV results were also non-reactive (100%). ABSTRAK Hepatitis B dan Hepatitis C masih menjadi masalah kesehatan masyarakat yang berpotensi menyebabkan komplikasi serius pada ibu hamil maupun janin, serta dapat ditularkan secara vertikal dari ibu ke bayi. Deteksi dini melalui pemeriksaan laboratorium pada masa kehamilan sangat penting dilakukan sebagai upaya pencegahan penularan serta penanganan yang optimal. Penelitian bertujuan untuk mengetahui gambaran hasil pemeriksaan Hepatitis B Surface Antigen (HBsAg) dan Antibodi Hepatitis C Virus (Anti-HCV) pada ibu hamil di Puskesmas Manding, Kabupaten Sumenep. Sampel penelitian terdiri dari 32 ibu hamil trimester I dan II yang menjalani pemeriksaan laboratorium di Puskesmas Manding, pengambilan sampel dilakukan menggunakan teknik purposive sampling berdasarkan kriteria inklusi dan ekslusi. Data primer diperoleh dari plasma darah yang diperiksa menggunakan metode immunokromatografi (rapid test) sesuai standar operasional prosedur. Analisis data dilakukan menggunakan metode deskriptif untuk menggambarkan distribusi frekuensi hasil  reaktif dan non-reaktif pada pemeriksaan HBsAg dan Anti-HCV. Penelitian dilaksanakan di Laboratorium Puskesmas Manding Kabupaten Sumenep pada periode 1-28 Februari 2026. Hasil menunjukkan bahwa dari 32 responden, seluruhnya mendapatkan hasil HBsAg non-reaktif (100%) dan hasil Anti-HCV non-reaktif (100%).