Claim Missing Document
Check
Articles

Found 5 Documents
Search

Viral food culture and social identity: A phenomenological study of Gen Z Siti Salwa Az’zahra; Jundi Nabil Nazhmi; Rima Asyiah; Ardelia Putri Pratama Hidayat; Fauzan Ahdi Widyaputra
Priviet Social Sciences Journal Vol. 6 No. 7 (2026): July 2026
Publisher : Privietlab

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55942/pssj.v6i7.1889

Abstract

The rapid growth of viral culinary trends on social media, particularly TikTok and Instagram, has shaped new consumption patterns among Generation Z in Indonesia, often driven by the Fear of Missing Out (FOMO) (Przybylski et al., 2013). This study explores how Generation Z social media users subjectively experience and interpret viral food trends through Schutz’s (1967) phenomenology of the life-world, with explicit attention to informants’ stock of knowledge, intersubjectivity, and the because-motives and in-order-to-motives that underlie their participation. Using a qualitative phenomenological design grounded in Schutz’s (1967) framework, four Gen Z informants were selected through purposive sampling, and the interviews showed sufficient thematic adequacy for exploratory phenomenological analysis. Data were collected through in-depth semi-structured interviews and digital trace analysis, and analyzed through a Schutzian thematic procedure moving from descriptive coding to eidetic (essence-focused) interpretation. The findings show that TikTok’s algorithmic curation functions as a shared, intersubjective stock of knowledge that continuously exposes informants to viral food content, generating sensory curiosity prior to actual consumption. FOMO operates as a because-motive rooted in informants’ prior experiences of social exclusion, while their in-order-to-motives are oriented toward maintaining social belonging and digital relevance. Viral food consumption thus functions simultaneously as consumption, communication, and identity performance, producing both positive (culinary exploration, social bonding, support for small businesses) and negative (impulsive consumption, unmet expectations) outcomes. This study contributes to communication and consumption studies by offering an explicitly Schutzian account of subjective meaning-making in digital food culture and by underscoring the need for critical digital consumption literacy among Generation Z.
Fenomena Job Hugging pada Generasi Milenial di Tengah Ketidakpastian Dunia Kerja Fauzan Ahdi Widyaputra
Indonesian Journal of Intellectual Publication Vol. 6 No. 2 (2026): Maret 2026, IJI Publication
Publisher : Perkumpulan Intelektual Madani Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51577/ijipublication.v6i2.927

Abstract

Fenomena job hugging merujuk pada kecenderungan karyawan untuk mempertahankan pekerjaannya meskipun mengalami ketidakpuasan kerja, sebagai respons terhadap ketidakpastian dunia kerja yang semakin kompleks. Fenomena ini semakin mengemuka di kalangan generasi milenial yang menghadapi tekanan ekonomi, kompetisi pasar tenaga kerja, dan perubahan organisasi yang cepat. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis fenomena job hugging dari perspektif hubungan masyarakat (Public Relations) internal, khususnya dalam konteks komunikasi organisasi dan relasi antara organisasi dengan publik internalnya. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode fenomenologis. Data dikumpulkan melalui wawancara mendalam terhadap tim public relations internal dan karyawan milenial di sektor formal, yaitu PT. Akur Pratama (Yogya Group), serta diperkuat dengan observasi partisipatif dan studi dokumentasi internal perusahaan. Analisis data dilakukan secara tematik dengan menekankan pada proses pemaknaan pengalaman subjektif informan terhadap keamanan kerja, loyalitas, dan komunikasi internal, dengan tahapan: transkripsi data, reduksi data, pengkodean terbuka, pengelompokan tema, dan penarikan makna esensial pengalaman informan. Proses analisis mengacu pada langkah fenomenologis interpretatif untuk mengidentifikasi konstruksi makna loyalitas, keamanan kerja, dan peran komunikasi public relations internal. Validitas data dijaga melalui triangulasi sumber dan teknik. Hasil penelitian menunjukkan bahwa job hugging dipengaruhi oleh persepsi ketidakpastian ekonomi, keterbatasan mobilitas kerja, serta konstruksi komunikasi organisasi internal yang menekankan stabilitas dan keamanan. Praktik public relations internal berperan signifikan dalam membentuk makna loyalitas dan kepercayaan karyawan. Namun, komunikasi yang bersifat satu arah dan minim dialog berpotensi menciptakan loyalitas semu (pseudo-loyalty), yang secara jangka panjang dapat memengaruhi kesejahteraan karyawan dan keberlanjutan reputasi organisasi.
Fenomena Job Hugging pada Generasi Milenial di Tengah Ketidakpastian Dunia Kerja Fauzan Ahdi Widyaputra
Indonesian Journal of Intellectual Publication Vol. 6 No. 2 (2026): Maret 2026, IJI Publication
Publisher : Perkumpulan Intelektual Madani Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51577/ijipublication.v6i2.927

Abstract

Fenomena job hugging merujuk pada kecenderungan karyawan untuk mempertahankan pekerjaannya meskipun mengalami ketidakpuasan kerja, sebagai respons terhadap ketidakpastian dunia kerja yang semakin kompleks. Fenomena ini semakin mengemuka di kalangan generasi milenial yang menghadapi tekanan ekonomi, kompetisi pasar tenaga kerja, dan perubahan organisasi yang cepat. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis fenomena job hugging dari perspektif hubungan masyarakat (Public Relations) internal, khususnya dalam konteks komunikasi organisasi dan relasi antara organisasi dengan publik internalnya. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode fenomenologis. Data dikumpulkan melalui wawancara mendalam terhadap tim public relations internal dan karyawan milenial di sektor formal, yaitu PT. Akur Pratama (Yogya Group), serta diperkuat dengan observasi partisipatif dan studi dokumentasi internal perusahaan. Analisis data dilakukan secara tematik dengan menekankan pada proses pemaknaan pengalaman subjektif informan terhadap keamanan kerja, loyalitas, dan komunikasi internal, dengan tahapan: transkripsi data, reduksi data, pengkodean terbuka, pengelompokan tema, dan penarikan makna esensial pengalaman informan. Proses analisis mengacu pada langkah fenomenologis interpretatif untuk mengidentifikasi konstruksi makna loyalitas, keamanan kerja, dan peran komunikasi public relations internal. Validitas data dijaga melalui triangulasi sumber dan teknik. Hasil penelitian menunjukkan bahwa job hugging dipengaruhi oleh persepsi ketidakpastian ekonomi, keterbatasan mobilitas kerja, serta konstruksi komunikasi organisasi internal yang menekankan stabilitas dan keamanan. Praktik public relations internal berperan signifikan dalam membentuk makna loyalitas dan kepercayaan karyawan. Namun, komunikasi yang bersifat satu arah dan minim dialog berpotensi menciptakan loyalitas semu (pseudo-loyalty), yang secara jangka panjang dapat memengaruhi kesejahteraan karyawan dan keberlanjutan reputasi organisasi.
SOSIALISASI KOMUNIKASI BENCANA DALAM MENINGKATKAN KEWASPADAAN PADA PERUBAHAN IKLIM DI DESA JELEGONG, RANCAEKEK, KABUPATEN BANDUNG Muh. Resa Yudianto Suldani; Miftakhul Fikri; Fauzan Ahdi Widyaputra; Krisna Aditya
GLOBAL ABDIMAS: Jurnal Pengabdian Masyarakat Vol. 6 No. 1 (2026): Mei 2026, GLOBAL ABDIMAS
Publisher : Unit Publikasi Ilmiah Perkumpulan Intelektual Madani Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51577/globalabdimas.v6i1.1063

Abstract

Saat ini, perubahan iklim global telah meningkatkan frekuensi dan risiko bencana alam di berbagai daerah termasuk di Desa Jelegong, Kecamatan Rancaekek, Kabupaten Bandung. Kurangnya pemahaman masyarakat mengenai mitigasi risiko serta alur informasi darurat yang terstruktur sering kali menjadi kendala utama dalam penanganan bencana. Kegiatan Pengabdian kepada Masyarakat (PKM) ini bertujuan untuk meningkatkan pemahaman dan kewaspadaan warga Desa Jelegong terhadap dampak perubahan iklim melalui sosialisasi komunikasi bencana. Metode pelaksanaan kegiatan meliputi tahap persiapan, penyampaian materi secara edukatif dan interaktif, sesi diskusi dua arah, serta evaluasi program. Kegiatan ini dihadiri oleh aparatur desa dan masyarakat. Kegiatan ini memiliki peran strategis dalam penyebaran informasi penanganan di tingkat desa. Hasil kegiatan ini menunjukkan peningkatan kesadaran dan antusiasme peserta yang tinggi dalam memahami tata cara penyebaran informasi darurat yang akurat, pencegahan hoaks saat bencana serta pemanfaatan saluran komunikasi lokal secara efektif. Kesimpulannya, penguatan komunikasi bencana berbasis masyarakat desa berhasil mendorong kesiapsiagaan secara kolektif. Kegiatan ini diharapkan dapat ditindaklanjuti dengan pembentukan kader komunikasi bencana desa guna mewujudkan masyarakat yang tangguh dan adaptif terhadap potensi bencana di masa mendatang.
PEMANFAATAN RUANG DIGITAL SEBAGAI ALAT KOMUNIKASI BAGI PENGEMBANGAN USAHA EKONOMI WARGA Cevi Mochamad Taufik; Diny Fitriawati; Krisna Aditya; Rizqi Ghassani; Gilang Bintang; Suhaeri Suhaeri; Didin Sabarudin; Hasim Hasim; Edi Wibowo; Erna Suminar; Fauzan Ahdi Widyaputra; Widiasari Tresno Ati; Gita Eka Sila; Miftakhul Fikri; Jentot Tugiyono
JURNAL PENGABDIAN KEPADA MASYARAKAT (JPKM) KEBANGSAAN Vol 2 No 1 (2026): Edisi 3
Publisher : LPPM UKRI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31848/9xpb1t26

Abstract

Luas ruang digital dapat dimanfaatkan untuk berbagai keperluan. Bagi tujuan pemberdayaan dapat digunakan untuk meningkatkan kemampuan, meningkatkan kualitas, atau meningkatkan kompetensi masyarakat. Hal yang sama juga dapat digunakan oleh para pelaku bisnis. Manfaat besar ruang digital menampung seluruhnya tanpa membedakan-bedakan skala atau level usaha. Dari bisnis kelas konglomerat, usaha berskala UMKM, hingga usaha level mikro yang dilakukan perseorangan memiliki kesempatan yang sama dalam memanfaatkan ruang digital. Problem penggunaan sarana digital terjadi manakala para pelaku usaha kecil dengan level perseorangan masih belum aware atas manfaat ruang digital. Karena inilah yang menjadi latar aktivitas Pengabdian kepada Masyarakat (PkM) dosen dan mahasiswa Ilmu Komunikasi Universitas Kebangsaan Republik Indonesia (Ilkom UKRI) di kecamatan Madalajati Kota Bandung. Tujuan PkM adalah untuk memberikan pengetahuan dan meningkatkan keterampilan kepada para pelaku usaha sektor mikro dalam aksesibilitas dan aktivitas perdagangan yang ditransformasikan ke dalam jaringan digital. Untuk mencapai sasaran tersebut, metode yang digunakan adalah ceramah berdasarkan pada tema-tema khusus berkenaan dengan kemampuan dasar penggunaan sarana digital. Hasil PkM menunjukkan, pengetahuan warga meningkat setelah mendapat penjelasan mendalam mengenai digitalisasi secara komprehensif, bahkan muncul komitmen untuk berusaha menautkan aktivitas perdagangannya dengan terlebih dahulu membuka akses ke jaringan digital.