Peradaban Islam Klasik (abad ke-7 hingga ke-13M) dibangun di atas tiga pilar utama yang saling menopang, yaitu historiografi, bahasa Arab, dan seni Islam. Ketiganya berperan sebagai penjaga identitas umat, penyalur ilmu pengetahuan, sekaligus sarana pencatatan dan ekspresi peradaban. Penelitian terdahulu umumnya mengkaji ketiga aspek tersebut secara terpisah, sehingga belum tersedia kajian yang mengintegrasikan ketiganya melalui satu kerangka analisis yang utuh. Penelitian ini bertujuan untuk mengisi kekosongan tersebut dengan menganalisis keterkaitan historiografi, bahasa Arab, dan seni Islam sebagai pilar Peradaban Islam Klasik, menggunakan konsep’asabiyyah (solidaritas sosial) Ibnu Khaldun sebagai lensa analisis utama. Penelitian ini merupakan studi kepustakaan (library research) yang bersifat kualitatif, dengan pendekatan deskriptif-analitis. Data primer bersumber dari karya-karya klasik seperti Muqaddimah karya Ibnu Khaldun, Al-Muzhir fi ‘Ulum al-Lughah wa Anwa’iha karya As-Suyuthi, dan The History of al-Tabari, sementara data sekunder diperoleh dari jurnal dan buku akademik yang relevan. Analisis dilakukan melalui teknik analisis konten dan tematik secara hermeneutis. Hasil penelitian menunjukkan bahwa historiografi memberikan fondasi intelektual melalui konsep ‘asabiyyah yang menjelaskan siklus kebangkitan dan keruntuhan peradaban; bahasa Arab berfungsi sebagai wahana transmisi wahyu dan ilmu pengetahuan yang mempersatukan ulama dari berbagai wilayah; sedangkan seni Islam, melalui arsitektur dan kaligrafi, merepresentasikan nilai-nilai tauhid dan spiritualitas umat. Ketiga pilar ini saling memperkuat dan membentuk fondasi kokoh bagi Peradaban Islam Klasik, yang relevansinya tetap terasa dalam upaya membangun solidaritas sosial di tengah krisis peradaba modern.