Claim Missing Document
Check
Articles

Found 6 Documents
Search

Konstruksi Historis-Epistemologis Tradisi Intelektual Islam: Analisis Periodisasi dan Faktor Determinan Perkembangan Ilmu Pengetahuan Muhammad Umar Hanif; Akmal Faiz Rabbani Umar; Asyraf Cholis Azizi; Muhammad Syamsul Munir
Sinergi : Jurnal Ilmiah Multidisiplin Vol. 2 No. 7 (2026): Sinergi: Jurnal Ilmiah Multidisiplin
Publisher : PT. AHLAL PUBLISHER NUSANTARA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.66914/2220yk58

Abstract

Tradisi keilmuan islam dibangun atas keyakinan terhadap luas ciptaan allah SWT, sedangkan tradisi keilmuan modern dibangun atas keraguan dan kritik terhadap eksistensi kosmos. Jurnal ini bertujuan untuk merekonstruksi dan meneliti Periodisasi dan Faktor Pendorong perkembangan Ilmu pengetahuan dalam tradisi intelektual islam. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif yang berbasis kepada peninjauan sumber sumber kepustakaan (library research), Jenis data yang digunakan dalam jurnal ini terdapat 2 macam, primer yang berupa buku tradisi intelektual islam yang diterbitkan oleh Direktorat Islamisasi Ilmu Pengetahuan Unida Gontor, dan sekunder berupa jurnal-jurnal ilmiah yang masih berkaitan dengan judul dari jurnal ini. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwasannya tradisi intelektual dalam islam dibangun diatas proses-proses keintelektualan yang panjang yaitu turunnya wahyu kepada Nabi Muhammad SAW berupa perintah untuk membaca secara umum dan didorong oleh faktor-faktor determinan seperti kebijakan yang mendukung dan fasilitas yang memadai. Dengan demikian penelitian ini menunjukkan bahwasannya ilmu pengetahuan harus memiliki pondasi yang berasal dari kebenaran yang absolut berupa wahyu, dan didukung oleh faktor faktor pendukung lainnya.
Dinamika Lima Fase Perkembangan Ilmu Tasawwuf: Dari Gerakan Zuhud Abad I Hijriah Menuju Neo-Sufisme Ibnu Taimiyah Muhammad Titan Zhibrilliant; Mujahid Al Aziz; Ibnu Yasir Al Fikri; Muhammad Syamsul Munir
Sinergi : Jurnal Ilmiah Multidisiplin Vol. 2 No. 7 (2026): Sinergi: Jurnal Ilmiah Multidisiplin
Publisher : PT. AHLAL PUBLISHER NUSANTARA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.66914/naf1g417

Abstract

Ilmu Tasawuf sebagai salah satu disiplin dalam tradisi keilmuan Islam tidak tumbuh dalam satu momen tunggal saja, melainkan berkembang secara bertahap melalui proses panjang yang melibatkan pergeseran orientasi, pengaruh eksternal, dan respons internal umat Islam terhadap tantangan zamannya. Artikel ini bertujuan menelusuri dinamika perkembangan ilmu Tasawuf dalam lima fase historis: fase pembentukan (abad I-II H), fase pengembangan (abad III-IV H), fase konsolidasi (abad V H), fase falsafi (abad VI-VIII H), dan fase pemurnian (abad IX-X H dan seterusnya). Dengan menggunakan pendekatan historis-deskriptif dan merujuk pada sumber sumber primer, artikel ini menunjukkan bahwa setiap fase memiliki karakteristik tersendiri yang tidak dapat dilepaskan dari konteks sosial, politik, dan intelektual pada masanya. Penelitian ini menyimpulkan bahwa perkembangan tasawuf bukan sekedar evolusi linear, melainkan merupakan proses dialektis antara internalisasi spiritual, sistematisasi ilmiah, dan koreksi teologis yang terus berlangsung sepanjang sejarah Islam klasik.
Sejarah perkembangan pesantren sebagai lembaga pendidikan islam di Indonesia Ridho Hafiezd Maulana; Abdul Rasyid; Muhammad Syamsul Munir
Sinergi : Jurnal Ilmiah Multidisiplin Vol. 2 No. 7 (2026): Sinergi: Jurnal Ilmiah Multidisiplin
Publisher : PT. AHLAL PUBLISHER NUSANTARA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.66914/bbjsg493

Abstract

Pesantren are the oldest Islamic educational institutions in Indonesia and play a vital role in spreading Islamic teachings, shaping the character of society, and advancing religious education throughout the archipelago. Pesantren serve not only as places to study religious knowledge but also as social institutions that contribute to societal progress. The objectives of this study are to examine the history of the establishment of pesantren in Indonesia, analyze their development at various points in history, explain their function within the national Islamic education system, and identify how pesantren have adapted to modernization and technological advancements. This study adopts a qualitative approach using historical research methods through a literature review. Data were collected from various primary sources, such as historical documents and archives, as well as secondary sources, including books, scholarly articles, and previous studies, which were analyzed using data reduction, data presentation, and conclusion-drawing methods. Research findings indicate that pesantren have evolved since the arrival of Islam in the Indonesian archipelago and have undergone changes in line with social and political dynamics, as well as national education policies. During the colonial period, pesantren served as centers of Islamic education as well as bases for the struggle against colonialism. After Indonesia gained independence, pesantren began to adapt to the national education system through improvements to their curriculum and organizational structure. In the modern era, pesantren have successfully transformed by integrating religious studies with general education, utilizing digital technology in the learning process, and strengthening their role in empowering communities without neglecting Islamic values. Thus, pesantren remain adaptive and relevant Islamic educational institutions that play a significant role in the development of Indonesia’s human resources. Pesantren  adalah institusi  pendidikan Islam tertua  yang ada di Indonesia, memainkan peran penting dalam menyebarluaskan Islam, membentuk karakter masyarakat, serta memajukan pendidikan keislaman di berbagai daerah di Nusantara. Keberadaan pesantren tidak hanya berfungsi sebagai ruang untuk mentransfer pengetahuan agama, tetapi juga sebagai lembaga sosial yang berkontribusi dalam pembangunan komunitas. Studi ini bertujuan untuk meneliti sejarah lahirnya pesantren di Indonesia, menganalisis perkembangan pesantren di berbagai era sejarah, menjelaskan peran pesantren di dalam sistem pendidikan Islam nasional, serta mengidentifikasi cara adaptasi pesantren terhadap modernisasi dan kemajuan teknologi. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan penelitian sejarah melalui kajian literatur. Data dikumpulkan dari beragam sumber primer seperti dokumen sejarah dan arsip, serta sumber sekunder meliputi buku, artikel ilmiah, dan penelitian sebelumnya yang dianalisis dengan teknik reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan. Temuan penelitian menunjukkan bahwa pesantren telah berkembang sejak kedatangan Islam ke Nusantara dan mengalami perubahan sejalan dengan dinamika sosial, politik, serta kebijakan pendidikan nasional. Pada masa penjajahan, pesantren menjadi pusat pendidikan Islam sekaligus basis perjuangan melawan kolonialisme. Setelah Indonesia merdeka, pesantren mulai beradaptasi ke dalam sistem pendidikan nasional melalui perbaikan kurikulum dan organisasi. Di zaman modern, pesantren mampu bertransformasi dengan menggabungkan ilmu agama dengan ilmu umum, memanfaatkan teknologi digital dalam proses pembelajaran, dan memperkuat perannya dalam memberdayakan masyarakat tanpa mengesampingkan nilai-nilai keislaman. Dengan demikian, pesantren tetap menjadi lembaga pendidikan Islam yang adaptif, relevan, dan memiliki peranan signifikan dalam pembangunan sumber daya manusia Indonesia.
Meregulasi Para Penyembuh: Malpraktik, Etika, dan Peran Muhtasib di Baghdad Era Abbasiyah Abad ke-9–12 Muhammad Faqih An-Najm; Muhammad Ibnu Azis; Andi Nezar Al Farishi; Muhammad Syamsul Munir
Sinergi : Jurnal Ilmiah Multidisiplin Vol. 2 No. 7 (2026): Sinergi: Jurnal Ilmiah Multidisiplin
Publisher : PT. AHLAL PUBLISHER NUSANTARA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.66914/6zr44519

Abstract

Kemajuan bidang kedokteran pada masa Kekhalifahan Abbasiyah di Baghdad tidak hanya memicu perkembangan klinis di Bimaristan, tetapi juga membawa tantangan baru seperti maraknya tabib palsu dan kasus malpraktik di masyarakat. Artikel ini mengkaji bentuk pengawasan farmasi serta sistem akuntabilitas medis di Baghdad pada abad ke-9 hingga ke-12 M dengan memanfaatkan instrumen hukum kota (Hisbah). Melalui metode sejarah kritis dan pendekatan interdisipliner, kajian ini mengulas teks etika klasik Adab al-Tabib karya Al-Ruhawi serta kitab hukum kota Ma’alim al-Qurbah karya Ibn al-Ukhuwwah. Temuan penelitian memperlihatkan bahwa pemerintah Abbasiyah mengatasi masalah malpraktik lewat kebijakan penataan kompetensi pada tahun 931 M. Langkah ini direalisasikan melalui ujian sertifikasi dokter (Imtihan al-Atibba') di bawah arahan Sinan bin Thabit yang bekerja sama dengan Muhtasib. Di sektor hulu, pengawasan diperkuat lewat reorganisasi lembaga Hisbah yang melakukan pemeriksaan rutin terhadap takaran dan mutu obat para apoteker (Sayadilah). Kajian ini menyimpulkan bahwa sinergi antara penegak hukum kota dan dewan medis pada masa Abbasiyah menjadi prototipe sejarah yang sejalan dengan peran Konsil Kedokteran serta badan pengawas obat di era modern.
Historiografi, Bahasa Arab, dan Seni Islam sebagai Pilar Peradaban Islam Klasik Hilmy Khalish Ahmad Hilmy; Hildan Taqiyuddin Hildan; Rafi Abdul Rozzaak; Muhammad Syamsul Munir
Sinergi : Jurnal Ilmiah Multidisiplin Vol. 2 No. 7 (2026): Sinergi: Jurnal Ilmiah Multidisiplin
Publisher : PT. AHLAL PUBLISHER NUSANTARA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.66914/qmcdwb62

Abstract

Peradaban Islam Klasik (abad ke-7 hingga ke-13M) dibangun di atas tiga pilar utama yang saling menopang, yaitu historiografi, bahasa Arab, dan seni Islam. Ketiganya berperan sebagai penjaga identitas umat, penyalur ilmu pengetahuan, sekaligus sarana pencatatan dan ekspresi peradaban. Penelitian terdahulu umumnya mengkaji ketiga aspek tersebut secara terpisah, sehingga belum tersedia kajian yang mengintegrasikan ketiganya  melalui satu kerangka analisis yang utuh. Penelitian ini bertujuan untuk mengisi kekosongan tersebut dengan menganalisis keterkaitan historiografi, bahasa Arab, dan seni Islam sebagai pilar Peradaban Islam Klasik, menggunakan konsep’asabiyyah (solidaritas sosial) Ibnu Khaldun sebagai lensa analisis utama. Penelitian ini merupakan studi kepustakaan (library research) yang bersifat kualitatif, dengan pendekatan deskriptif-analitis. Data primer bersumber dari karya-karya klasik seperti Muqaddimah karya Ibnu Khaldun, Al-Muzhir fi ‘Ulum al-Lughah wa Anwa’iha karya As-Suyuthi, dan The History of al-Tabari, sementara data sekunder diperoleh dari jurnal dan buku akademik yang relevan. Analisis dilakukan melalui teknik analisis konten dan tematik secara hermeneutis. Hasil penelitian menunjukkan bahwa historiografi memberikan fondasi intelektual melalui konsep ‘asabiyyah yang menjelaskan siklus kebangkitan dan keruntuhan peradaban; bahasa Arab berfungsi sebagai wahana transmisi wahyu dan ilmu pengetahuan yang mempersatukan ulama dari berbagai wilayah; sedangkan seni Islam, melalui arsitektur dan kaligrafi, merepresentasikan nilai-nilai tauhid dan spiritualitas umat. Ketiga pilar ini saling memperkuat dan membentuk fondasi kokoh bagi Peradaban Islam Klasik, yang relevansinya tetap terasa dalam upaya membangun solidaritas sosial di tengah krisis peradaba modern.
Sains Islam dan Struktur Institusional Eropa: Pengaruh Struktur Madrasah dan Kurikulum Arab terhadap Universitas Paris dan Oxford pada Abad ke-13 Yolan Azhari; Ridho Magrizani; Muhammad Syamsul Munir
Sinergi : Jurnal Ilmiah Multidisiplin Vol. 2 No. 7 (2026): Sinergi: Jurnal Ilmiah Multidisiplin
Publisher : PT. AHLAL PUBLISHER NUSANTARA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.66914/hj2c3g32

Abstract

ABSTRACT Mainstream historiography regarding the origins of universities in Western Europe has long been plagued by Eurocentric biases that view these institutions as exclusive products of medieval Western Latin Christian ingenuity. This article deconstructs this narrow narrative by analyzing the structural, managerial, and curricular blueprint provided by Islamic civilization for the transformation of the University of Paris and the University of Oxford in the 13th century. Employing the Critical Historical Method integrated with Comparative Institutionalism, this study examines the structural parallelism between Islamic Madrasahs and early European corporations. The findings reveal that the assimilation of the Arab-Islamic natural philosophy corpus triggered a methodological reform from the traditional passive teaching model (lectio) into a dialectical debate method (disputation/quaestio disputata), which directly replicated the tradition of munazarah or jadal in Madrasahs. Furthermore, a sociological shift occurred from the personal authority of the teacher in the ijazah system toward institutional-corporate authority in the form of licentia docendi, acting as an instrument of social exclusion. Finally, the managerial blueprint of madrasahs based on Islamic endowment law (Waqf) inspired financial independence and trust law in Western statutes, while the spatial model of the Khan complex adjacent to mosques was architecturally replicated as the foundation of the Collegiate System. This study demonstrates a profound transfer of social technology from Islam to the West. Keywords: Islamic Science, Madrasah, 13th Century Universities, Licentia Docendi, Collegiate System, Comparative Institutionalism. ABSTRAK Historiografi arus utama mengenai asal-usul universitas di Eropa Barat telah lama dihinggapi oleh bias Eurosentris yang memandang institusi-institusi ini sebagai produk eksklusif dari kecerdasan Kristen Latin Barat abad pertengahan. Artikel ini mendekonstruksi narasi sempit tersebut dengan menganalisis cetak biru struktural, manajerial, dan kurikuler yang disediakan oleh peradaban Islam bagi transformasi Universitas Paris dan Universitas Oxford pada abad ke-13. Menggunakan Metode Sejarah Kritis yang diintegrasikan dengan Institusionalisme Komparatif, studi ini menguji paralelisme struktural antara Madrasah Islam dan korporasi awal Eropa. Hasil penelitian menunjukkan bahwa asimilasi korpus filsafat alam Arab-Islam memicu reformasi metodologis dari model pengajaran pasif tradisional (lectio) menjadi metode debat dialektis (disputation/quaestio disputata), yang secara langsung mereplikasi tradisi munazarah atau jadal di Madrasah. Selain itu, terjadi pergeseran sosiologis dari otoritas personal guru dalam sistem ijazah menuju otoritas institusional-korporasi dalam bentuk licentia docendi, yang berfungsi sebagai instrumen eksklusi sosial. Terakhir, cetak biru manajerial madrasah berdasarkan hukum wakaf Islam menginspirasi independensi finansial dan hukum kepercayaan (trust law) dalam statuta Barat, sementara model spasial kompleks Khan di dekat masjid direplikasi secara arsitektural sebagai fondasi Sistem Kolegiat. Studi ini membuktikan adanya transfer teknologi sosial yang mendalam dari dunia Islam ke dunia Barat.