Penelitian ini mengkaji partisipasi masyarakat lokal dalam pelestarian budaya pangan rasi (beras singkong) di Kampung Adat Cireundeu, Cimahi, sebagai simbol identitas Sunda Wiwitan dan kearifan lokal yang berkelanjutan. Menggunakan pendekatan studi kasus kualitatif dengan wawancara terhadap Ketua POKDARWIS, Penelitian mengeksplorasi lima dimensi partisipasi: ekonomi (wisata, pengolahan rasi, UMKM, kemandirian pangan), sosial (solidaritas, regenerasi muda, penguatan identitas sosial), budaya (warisan leluhur, ritual adat, representasi visual, simbol ketahanan budaya), lingkungan (praktik Bertani sosial, etnoagrikultur, kesadaran ekologis), serta politik (musyawarah, transparansi, tata kelola berkelanjutan). Kampung Adat Cireundeu, dengan 1.200 jiwa di lahan 64 ha, mempertahankan tradisi rasi sejak 1918 melalui struktur pranata adat, hutan larangan, dan gotong royong, dengan mengembangkan pariwisata berbasis komunitas (CBT) untuk peningkatan kesejahteraan. Temuan menunjukkan partisipasi aktif masyarakat memperkuat ketahanan budaya-ekonomi-lingkungan di tengah modernisasi, dengan potensi CBT mendukung SDGs (Sustainable Development Goals) seperti pengentasan kemiskinan dan pelestarian budaya. Penelitian ini berkontribusi pada pengembangan model partisipatif untuk kampung adat di Indonesia, menekankan pemberdayaan komunitas sebagai kunci keberlanjutan. Rekomendasi mencakup penguatan kolaborasi pemerintah-komunitas untuk investasi energi terbarukan, pendidikan adat digital, dan diversifikasi produk rasi guna mitigasi tantangan modernisasi.