Penelitian ini bertujuan membandingkan emisi gas buang Honda BeAT injeksi menggunakan Pertamax murni dan campuran Pertamax–bioetanol dari limbah kulit pisang serta limbah singkong. Metode yang digunakan adalah eksperimen kuantitatif deskriptif pada kondisi tanpa beban setelah mesin mencapai suhu kerja. Variasi bahan bakar meliputi E0, E5 pisang, E10 pisang, E5 singkong, dan E10 singkong. Pengujian dilakukan pada 1500, 3000, 4500, 6000, dan 7500 rpm dengan lima pengulangan. Parameter CO, CO₂, O₂, HC, lambda, dan AFR diukur menggunakan gas analyzer. Data dianalisis melalui rata-rata dan persentase perubahan terhadap E0. Hasil menunjukkan seluruh campuran bioetanol menurunkan rata-rata CO dan HC dibandingkan E0. E10 pisang menjadi variasi paling menonjol secara deskriptif, dengan CO 0,410% dan HC 98,67 ppm, atau turun 40,92% dan 48,01%. Temuan ini mengindikasikan potensi awal bioetanol limbah kulit pisang sebagai campuran Pertamax untuk menurunkan CO dan HC pada rentang rpm yang diuji. This study compared exhaust emissions of a fuel-injected Honda BeAT operated with pure Pertamax and Pertamax blended with banana-peel and cassava-waste bioethanol. A descriptive quantitative experimental method was applied under no-load conditions after the engine reached operating temperature. Five fuel variations were tested: E0, E5 banana, E10 banana, E5 cassava, and E10 cassava. Tests were conducted at 1500, 3000, 4500, 6000, and 7500 rpm with five replications. CO, CO₂, O₂, HC, lambda, and AFR were measured using a gas analyzer. Data were analyzed using mean values and percentage changes relative to E0. All bioethanol blends reduced average CO and HC compared with E0. E10 banana was the most prominent variation descriptively, with CO of 0.410% and HC of 98.67 ppm, corresponding to reductions of 40.92% and 48.01%. These findings indicate the preliminary potential of banana-peel bioethanol as a Pertamax blend to reduce CO and HC.