FX Kurniawan Tjakrawala
Pendidikan Profesi Akuntan (PPAk), Fakultas Ekonomi & Bisnis, Universitas Tarumanagara, Indonesia

Published : 1 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 1 Documents
Search

Pengaruh Kompleksitas Struktur Organisasi terhadap Kinerja EBITDA: Analisis Strategi, Tipologi Struktur dan Data Panel pada Perusahaan Manufaktur Bursa Efek Indonesia 2019–2025 Irma Christiana Kurniawan; FX Kurniawan Tjakrawala
Journal of Accounting and Finance Management Vol. 7 No. 3 (2026): Journal of Accounting and Finance Management (July - August 2026)
Publisher : DINASTI RESEARCH

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.38035/jafm.v7i3.3469

Abstract

Penelitian ini menganalisis pengaruh kompleksitas struktur organisasi terhadap kinerja EBITDA Margin pada perusahaan manufaktur yang tercatat di Bursa Efek Indonesia (BEI) periode 2019–2025. Berangkat dari proposisi Chandler (1962) bahwa structure follows strategy, penelitian ini menguji apakah perusahaan yang menyelaraskan struktur organisasi dengan strategi bisnisnya mencapai EBITDA Margin yang lebih tinggi. Kompleksitas struktur dioperasionalkan melalui Skor Tipologi Struktur (STS) ordinal 1–5 yang mengintegrasikan lima dimensi: bentuk hierarki, jumlah segmen operasional, jumlah anak usaha, ukuran dewan direksi, dan tahap siklus hidup organisasi (Greiner, 1972). Seluruh data bersumber dari laporan keuangan audited dan laporan tahunan yang tersedia publik. Penelitian menggunakan empat level analisis: (1) regresi lintas emiten data 2024 (n=5); (2) regresi data panel 2019–2025 (n=35); (3) ANOVA satu arah terhadap 24 emiten dari 8 sub-sektor manufaktur; dan (4) analisis efek tunda terhadap 10 kejadian perubahan struktural historis. Analisis kualitatif per emiten mengkaji keterkaitan antara strategi bisnis dengan tipologi struktur dan pencapaian EBITDA. Hasil: β=4,07 (R²=0,941; p=0,006) pada 2024; panel 2019–2025 β=3,51 (R²=0,851; p<0,001) setelah pengendalian outlier; Spearman ρ=Kendall τ=1,000. ANOVA: η²=0,532; kontribusi inkremental industri setelah STS dikontrol hanya ΔR²=1,1%. Efek tunda T+1 terkonfirmasi pada 8 dari 10 kasus. Temuan penguat muncul pada 2025: LION (STS=1, struktur paling sederhana) mengalami kerugian dengan EBITDA Margin −9,8% saat industri logam tertekan, sementara emiten ber-STS tinggi tetap stabil—membuktikan bahwa struktur sederhana paling rentan terhadap guncangan eksternal karena tidak memiliki penyangga struktural. Analisis per emiten membuktikan bahwa setiap kenaikan EBITDA yang signifikan terjadi setelah perubahan struktur yang selaras dengan perubahan strategi—konsisten dengan proposisi Chandler.