Kinerja lampu utama yang memadai merupakan faktor penentu keselamatan berkendara sepeda motor, terutama pada malam hari, dan regulasi di Indonesia sesuai pp No. 55 tahun 2012. Teknologi bi-LED projector yang kian populer menawarkan sumber cahaya yang terarah dan hemat energi. Namun, produk yang beredar di pasaran memiliki variasi diameter lensa dan spesifikasi arus yang berbeda-beda, sehingga memunculkan asumsi umum bahwa lensa terbesar dan arus tertinggi selalu memberikan hasil terbaik. Penelitian ini menganalisis secara eksperimental pengaruh variasi diameter lensa dan arus listrik secara bersamaan terhadap intensitas cahaya dan temperatur kerja lampu bi-LED projector yang terpasang pada sepeda motor Honda Supra X125. Rancangan faktorial dua arah digunakan dengan mengombinasikan tiga diameter lensa (2, 2,5, dan 3 inci) dan tiga level arus (2, 4, dan 6 A), masing-masing diuji sebanyak tiga kali pengulangan. Data kemudian diolah menggunakan Two-Way ANOVA dan Response Optimization pada perangkat lunak Minitab. Hasil penelitian menunjukkan bahwa arus listrik dan diameter lensa sama-sama berpengaruh signifikan terhadap intensitas cahaya (P = 0,000), sedangkan terhadap temperatur hanya arus listrik yang berpengaruh signifikan (P = 0,000), sementara diameter lensa tidak berpengaruh signifikan (P = 0,311). Intensitas cahaya tertinggi, yaitu 112.676,74 cd, tercatat pada kombinasi lensa 3 inci dan arus 6 A, tetapi hasil optimasi menunjukkan bahwa kombinasi lensa 3 inci dengan arus 4 A merupakan titik kerja terbaik, yaitu menghasilkan 86.795,2 cd pada temperatur yang lebih aman sebesar 33,83°C dengan nilai composite desirability 0,642. Temuan ini menegaskan bahwa memadukan lensa berdiameter besar dengan arus menengah lebih menguntungkan dibandingkan dengan memaksimalkan arus semata, karena tetap jauh melampaui ambang regulasi, sekaligus membatasi thermal droop dan menjaga keawetan chip LED.