Pendahuluan: Beningn Prostatic Hyperplasia (BPH) atau sering dikenal dengan pembesaran prostat jinak adalah penyakit yang terjadi di saluran kemih bagian bawah. Kondisi ini disebabkan oleh peningkatan jumlah sel epitel dan stroma di transisi prostat. Berdasarkan data WHO 2022, penyakit di Indonesia terbanyak kedua setelah batu saluran kemih yaitu BPH. Prevalensi di Inondesia sebanyak 50%, dimana terjadi pada pria berusia di atas 50 tahun dengan angka kematian berkisar 0,5-1,5 per 100.000 kasus. Penatalaksanaan BPH yaitu melalui watchful waiting, terapi medis, dan operasi TURP. Setelah tindakan operasi akan membuat seseorang mengeluhkan nyeri pada area operasi TURP. Hal ini akan muncul masalah keperawatan nyeri akut. Penatalaksanaan nyeri yang dapat dilakukan yaitu melalui pemberian obat analgetik sebagai terapi farmakologi dan terapi nonfarmakologi salah satunya terapi relaksasi benson. Pemberian terapi ini diharapkan mampu menurunkan intensitas nyeri yang dirasakan pasien post operasi TURP. Selanjutnya, penelitian ini bertujuan untuk mengetahui efektivitas pemberian terapi relaksasi benson terhadap penurunan nyeri pada pasien BPH post operasi TURP di Bangsal Raudhah RS PKU Muhammadiyah Yogyakarta. Metode: Laporan kasus dengan pengumpulan data melalui observasi, pemeriksaan fisik, wawancara, serta rekam medis. Penilaian tingkat nyeri menggunakan Numeric Rating Scale (NRS) sebelum dan sesudah pemberian intervensi. Intervensi yang diberikan berupa teknik relaksasi benson yang dilakukan selama 10 menit dalam tiga hari mulai dari tanggal 15-17 November 2025. Hasil: Setelah pemberian intervensi, terjadi penurunan tingkat nyeri pada pasien yang awalnya skala 8 menjadi skala 3. Simpulan: Dengan demikian, teknik relaksasi benson efektif dalam menurunkan nyeri pada pasien BPH post operasi TURP.