Claim Missing Document
Check
Articles

Found 3 Documents
Search

Asuhan Keperawatan Nyeri Akut Pada Pasien Diabetes Melitus Tipe 2 Perawatan Luka Di Rumah Sakit PKU Muhammadiyah Yogyakarta Puspita Sari; Widiastuti
Menulis: Jurnal Penelitian Nusantara Vol. 2 No. 7 (2026): Menulis - Juli
Publisher : PT. Padang Tekno Corp

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59435/menulis.v2i7.1323

Abstract

Pendahuluan: Diabetes mellitus tipe 2 merupakan penyakit metabolik kronis yang ditandai dengan hiperglikemia persisten dan berisiko menimbulkan berbagai komplikasi, salah satunya ulkus diabetik yang dapat berkembang menjadi infeksi, seperti selulitis. Menurut dara International Diabetes Federation (IDF), Indonesia menjadi negara peringkat kelima dalam jumlah penderita diabetes mellitus dengan angka kejadian 19,5 juta. Hal ini dikarenakan perubahan gaya hidup masyarakat Indonesia. Proses penyembuhan luka pada pasien DM tipe 2 sering terhambat akibat hiperglikemia kronis yang memicu gangguan imun, infeksi, hingga inflamasi berkepanjangan. Selain itu, penatalaksanaan debridemen dapat menimbulkan nyeri yang mengganggu kenyamanan pasien dan memperlambat proses penyembuhan. Oleh karena itu, perlunya penatalaksanaan nyeri yang efektif, baik secara farmakologi maupun nonfarmakologi. Salah satunya intervensi nonfarmakologi yaitu teknik relaksasi napas dalam. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui efektivitas pemberian terapi relaksasi napas dalam terhadap penurunan nyeri pada pasien DM tipe 2 post perawatan luka di Bangsal Raudhah RS PKU Muhammadiyah Yogyakarta. Metode: Penelitian ini menggunakan cros study askep dengan pendekatan asuhan keperawatan yang meliputi pengkajian, analisis data, intervensi, implementasi, hingga evaluasi. Subjek penelitiannya yaitu pasien DM tipe 2 post perawatan luka yang mengalami nyeri dengan skala 5. Penilaian tingkat nyeri menggunakan Numeric Rating Scale (NRS) sebelum dan sesudah pemberian intervensi teknik relaksasi napas dalam yang dilakukan selama 10 menit dalam tiga hari mulai dari tanggal 15-17 November 2025. Hasil: Setelah pemberian intervensi, terjadi penurunan tingkat nyeri pada pasien yang awalnya skala 5 menjadi skala 1 dan memberikan rasa nyaman. Simpulan: Dengan demikian, teknik relaksasi napas dalam efektif dalam menurunkan nyeri pada pasien DM tipe 2 post perawatan luka.
Asuhan Keperawatan Nyeri Akut pada Pasien BPH Post Operasi TURP Di Rumah Sakit PKU Muhammadiyah Yogyakarta Indah Pramesti; Widiastuti
Menulis: Jurnal Penelitian Nusantara Vol. 2 No. 7 (2026): Menulis - Juli
Publisher : PT. Padang Tekno Corp

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59435/menulis.v2i7.1324

Abstract

Pendahuluan: Beningn Prostatic Hyperplasia (BPH) atau sering dikenal dengan pembesaran prostat jinak adalah penyakit yang terjadi di saluran kemih bagian bawah. Kondisi ini disebabkan oleh peningkatan jumlah sel epitel dan stroma di transisi prostat. Berdasarkan data WHO 2022, penyakit di Indonesia terbanyak kedua setelah batu saluran kemih yaitu BPH. Prevalensi di Inondesia sebanyak 50%, dimana terjadi pada pria berusia di atas 50 tahun dengan angka kematian berkisar 0,5-1,5 per 100.000 kasus. Penatalaksanaan BPH yaitu melalui watchful waiting, terapi medis, dan operasi TURP. Setelah tindakan operasi akan membuat seseorang mengeluhkan nyeri pada area operasi TURP. Hal ini akan muncul masalah keperawatan nyeri akut. Penatalaksanaan nyeri yang dapat dilakukan yaitu melalui pemberian obat analgetik sebagai terapi farmakologi dan terapi nonfarmakologi salah satunya terapi relaksasi benson. Pemberian terapi ini diharapkan mampu menurunkan intensitas nyeri yang dirasakan pasien post operasi TURP. Selanjutnya, penelitian ini bertujuan untuk mengetahui efektivitas pemberian terapi relaksasi benson terhadap penurunan nyeri pada pasien BPH post operasi TURP di Bangsal Raudhah RS PKU Muhammadiyah Yogyakarta. Metode: Laporan kasus dengan pengumpulan data melalui observasi, pemeriksaan fisik, wawancara, serta rekam medis. Penilaian tingkat nyeri menggunakan Numeric Rating Scale (NRS) sebelum dan sesudah pemberian intervensi. Intervensi yang diberikan berupa teknik relaksasi benson yang dilakukan selama 10 menit dalam tiga hari mulai dari tanggal 15-17 November 2025. Hasil: Setelah pemberian intervensi, terjadi penurunan tingkat nyeri pada pasien yang awalnya skala 8 menjadi skala 3. Simpulan: Dengan demikian, teknik relaksasi benson efektif dalam menurunkan nyeri pada pasien BPH post operasi TURP.
GAMBARAN KARAKTERISTIK SOSIODEMOGRAFI LANSIADENGAN DIABETES MELITUS TIPE II DI POSYANDU LANSIA DUSUN DUKUH GEDONGKIWO Ruhyana; Widiastuti; Novita Savitri Anggraeni; Ruhyana Ruhyana; Widiastuti Widiastuti
Journal of Innovation Research and Knowledge Vol. 5 No. 10 (2026): Maret 2026
Publisher : Bajang Institute

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Diabetes Melitus Tipe II merupakan penyakit kronis yang banyak dialami oleh lansia dan dipengaruhi oleh berbagai faktor karakteristik individu. Penelitian ini bertujuan untuk menggambarkan karakteristik sosiodemografi lansia dengan Diabetes Melitus Tipe II meliputi usia, jenis kelamin, tingkat pendidikan, status ekonomi, dan status pernikahan. Penelitian ini menggunakan desain deskriptif kuantitatif dengan pendekatan cross-sectional. Sampel penelitian berjumlah 56 responden lansia penderita Diabetes Melitus Tipe II yang diambil menggunakan teknik purposive sampling. Pengumpulan data dilakukan melalui observasi dan wawancara menggunakan instrumen penelitian, kemudian dianalisis secara univariat menggunakan distribusi frekuensi dan statistik deskriptif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sebagian besar responden berada pada kelompok usia lanjut 60–74 tahun sebesar 66,1%, berjenis kelamin perempuan sebesar 75,0%, memiliki tingkat pendidikan rendah dengan lulusan Sekolah Dasar sebagai proporsi terbesar sebesar 28,6%, serta memiliki status ekonomi rendah dengan pendapatan kurang dari Rp500.000 sebesar 62,5%. Mayoritas responden berstatus menikah sebesar 69,6%. Temuan ini menunjukkan bahwa Diabetes Melitus Tipe II pada lansia lebih dominan terjadi pada kelompok usia lanjut, perempuan, berpendidikan rendah, dan berstatus ekonomi rendah, dengan sebagian besar masih memiliki pasangan hidup. Karakteristik tersebut perlu menjadi perhatian dalam perencanaan intervensi promotif dan preventif serta pengelolaan Diabetes Melitus Tipe II yang menekankan pada edukasi kesehatan, dukungan sosial, dan peningkatan akses layanan kesehatan bagi lansia