Angga Sugara Febriantiko
Lapas Kelas III Rangkasbitung

Published : 1 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 1 Documents
Search

IMPLEMENTASI LAYANAN KONSELING INDIVIDU DENGAN TEKNIK REALITAS DALAM UPAYA PENANGANAN KESEHATAN MENTAL PADA WARGA BINAAN DI LAPAS KELAS III RANGKASBITUNG Moch. Nasef Fikri Muzaki; Arga Satrio Prabowo; Putri Dian Dia Conia; Angga Sugara Febriantiko
PAEDAGOGY : Jurnal Ilmu Pendidikan dan Psikologi Vol. 6 No. 3 (2026)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia (P4I)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/paedagogy.v6i3.12589

Abstract

ABSTRACT Correctional rehabilitation requires attention to psychological well-being, as incarcerated individuals' readiness to resume their social roles after release is closely associated with their mental health. Within this context, the present study examined the implementation of individual counseling based on the Want, Doing, Evaluation, and Planning (WDEP) technique as part of a rehabilitative support program at the Class III Rangkasbitung Correctional Institution. The study employed a Participatory Action Research (PAR) approach involving 50 early-adult inmates selected through purposive sampling. Data on participants' psychological needs and developmental progress were generated through the integration of the General Problem Disclosure Instrument (Alat Ungkap Masalah Umum/AUM), the Psychological Well-Being (PWB) instrument, semi-structured interviews, and participant observation. The findings revealed that the most prominent issues were related to family relationships, personal concerns, and the management of leisure time. Throughout the counseling process, participants demonstrated an enhanced ability to recognize their needs, reflect on their existing behaviors, and formulate realistic plans for change. These developments were accompanied by improvements in self-acceptance, emotional regulation, interpersonal relationships, and clarity of life purpose. The findings suggest that integrating psychological needs assessment with WDEP-based individual counseling extends the application of Reality Therapy within correctional rehabilitation while providing an alternative counseling approach to strengthen mental health services in correctional settings and offering a foundation for future intervention-based research in similar contexts. ABSTRAK Pembinaan di lembaga pemasyarakatan memerlukan perhatian terhadap aspek psikologis karena kesiapan warga binaan untuk kembali menjalankan fungsi sosial dipengaruhi oleh kondisi kesehatan mental yang dimilikinya. Dalam konteks tersebut, penelitian ini mengkaji implementasi layanan konseling individu berbasis teknik Want, Doing, Evaluation, dan Planning (WDEP) sebagai bagian dari penguatan layanan rehabilitatif di Lapas Kelas III Rangkasbitung. Kajian dilaksanakan melalui pendekatan Participatory Action Research (PAR) dengan melibatkan 50 warga binaan kategori dewasa awal yang dipilih secara purposive. Gambaran kebutuhan psikologis dan perkembangan peserta diperoleh melalui integrasi Alat Ungkap Masalah Umum (AUM), instrumen Psychological Well-Being (PWB), wawancara semiterstruktur, serta observasi partisipatif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa persoalan yang paling banyak teridentifikasi berkaitan dengan hubungan keluarga, diri pribadi, dan pengelolaan waktu senggang. Selama proses pendampingan, peserta memperlihatkan kemampuan yang semakin baik dalam mengenali kebutuhan, merefleksikan perilaku yang dijalani, serta menyusun rencana perubahan yang sesuai dengan kondisi nyata. Perubahan tersebut diikuti oleh berkembangnya penerimaan diri, pengelolaan emosi, kualitas hubungan interpersonal, dan orientasi hidup yang lebih jelas. Temuan ini memperlihatkan bahwa pengintegrasian asesmen kebutuhan psikologis dengan konseling individu berbasis WDEP memperluas implementasi Reality Therapy dalam pembinaan warga binaan sekaligus memberikan alternatif layanan yang mendukung penguatan kesehatan mental di lingkungan pemasyarakatan serta menjadi dasar pengembangan penelitian intervensi pada konteks serupa di masa mendatang.