Gratitude is one of the internal factors that plays a role in enhancing an individual’s psychological well-being, particularly among adolescents facing various life demands. Adolescents who have siblings with intellectual disabilities often face emotional challenges and additional responsibilities that can affect their psychological well-being. This study aims to examine the relationship between gratitude and psychological well-being among adolescents with siblings with intellectual disabilities. The method used is a quantitative approach with a correlational design. The study participants consisted of 190 adolescents aged 13–20 years, selected using purposive sampling. The instruments used were the Gratitude Questionnaire–6 (GQ-6) to measure gratitude and the Psychological Well-Being Scale (PWB) based on Ryff’s model to measure psychological well-being. Data analysis was conducted using the Spearman’s rank correlation test. The results indicated a significant positive relationship between gratitude and psychological well-being (r = 0.379; p < 0.05) with a moderate strength of association. These findings suggest that the higher the level of gratitude adolescents possess, the higher their perceived psychological well-being. This study is expected to contribute to the development of gratitude-based psychological interventions to improve adolescents’ psychological well-being. ABSTRAK Kebersyukuran merupakan salah satu faktor internal yang berperan dalam meningkatkan kesejahteraan psikologis individu, khususnya pada remaja yang menghadapi berbagai tuntutan kehidupan. Remaja yang memiliki saudara kandung tunagrahita seringkali dihadapkan pada tantangan emosional dan tanggung jawab tambahan yang dapat memengaruhi kesejahteraan psikologisnya. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara kebersyukuran dan kesejahteraan psikologis pada remaja yang memiliki saudara kandung tunagrahita. Metode yang digunakan adalah pendekatan kuantitatif dengan desain korelasional. Partisipan penelitian berjumlah 190 remaja berusia 13–20 tahun yang dipilih menggunakan teknik purposive sampling. Instrumen yang digunakan adalah Gratitude Questionnaire–6 (GQ-6) untuk mengukur kebersyukuran dan Psychological Well-Being Scale (PWB) berdasarkan model Ryff untuk mengukur kesejahteraan psikologis. Analisis data dilakukan menggunakan uji korelasi Rank Spearman. Hasil penelitian menunjukkan adanya hubungan positif yang signifikan antara kebersyukuran dan kesejahteraan psikologis (r = 0,379; p < 0,05) dengan kekuatan hubungan pada kategori sedang. Temuan ini menunjukkan bahwa semakin tinggi tingkat kebersyukuran yang dimiliki remaja, semakin tinggi pula kesejahteraan psikologis yang dirasakan. Penelitian ini diharapkan dapat memberikan kontribusi dalam pengembangan intervensi psikologis berbasis kebersyukuran untuk meningkatkan kesejahteraan psikologis remaja.