Nancy Naomi G.P. Aritonang
Universitas HKBP Nommensen

Published : 2 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

GAMBARAN PENERIMAAN DIRI PADA LANSIA YANG DITINGGAL PASANGAN KARENA KEMATIAN Maria Tabitha Grace Simangunsong; Nancy Naomi G.P. Aritonang
PAEDAGOGY : Jurnal Ilmu Pendidikan dan Psikologi Vol. 6 No. 3 (2026)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia (P4I)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/paedagogy.v6i3.13793

Abstract

ABSTRACT The death of a spouse in later life represents a major life transition that reshapes older adults' emotional, social, and psychological well-being. Within this context, self-acceptance becomes an essential adaptive process through which older adults reconstruct meaning and continue their daily lives following bereavement. This study explored how self-acceptance develops among older adults who have lost their spouses due to death and identified the factors that facilitate this process. A descriptive qualitative approach was employed involving two older adults from Perkebunan Panigoran Village, North Sumatra, selected through purposive sampling. Data were generated through in-depth interviews, non-participant observation, and documentation, and were analyzed using Creswell's qualitative analysis procedures, including data organization, comprehensive reading, coding, theme development, and interpretation. The findings revealed that although both participants experienced distinct bereavement trajectories, they demonstrated the stages of denial, anger, bargaining, and acceptance, while depression did not emerge as a dominant characteristic. Self-acceptance was reflected in their ability to perceive the loss as part of God's will, establish a renewed sense of balance, and maintain adaptive engagement in everyday activities. This adaptive process was strengthened by religiosity, family support, broader social support, and participation in religious as well as community activities. These findings suggest that self-acceptance following spousal loss is a highly contextual and individualized experience shaped by the interaction of psychological, spiritual, and social resources, thereby enriching the understanding of bereavement adaptation among older adults in everyday life. ABSTRAK Kematian pasangan hidup pada usia lanjut tidak hanya menghadirkan kehilangan secara emosional, tetapi juga menuntut penyesuaian terhadap perubahan peran, rutinitas, dan cara memaknai kehidupan. Dalam situasi tersebut, penerimaan diri menjadi bagian penting dari proses adaptasi yang berlangsung secara berbeda pada setiap individu. Artikel ini mengeksplorasi bagaimana penerimaan diri terbentuk pada lansia yang kehilangan pasangan akibat kematian sekaligus mengidentifikasi faktor-faktor yang berkontribusi terhadap proses tersebut. Kajian dilakukan dengan pendekatan kualitatif deskriptif terhadap dua lansia di Desa Perkebunan Panigoran, Sumatera Utara, yang dipilih melalui purposive sampling. Data diperoleh melalui wawancara mendalam, observasi nonpartisipan, dan dokumentasi, kemudian dianalisis menggunakan tahapan analisis kualitatif Creswell yang meliputi pengorganisasian data, pembacaan menyeluruh, pengodean, pengembangan tema, dan interpretasi. Analisis menunjukkan bahwa kedua partisipan menempuh perjalanan berduka yang tidak seragam, meskipun sama-sama memperlihatkan dinamika denial, anger, bargaining, dan acceptance, tanpa dominasi karakteristik depression. Penerimaan diri berkembang melalui kemampuan memaknai kehilangan sebagai bagian dari kehendak Tuhan, mempertahankan keberfungsian dalam kehidupan sehari-hari, serta membangun keseimbangan hidup yang baru. Religiusitas, dukungan keluarga, dukungan sosial, dan keterlibatan dalam aktivitas sosial maupun keagamaan menjadi sumber daya yang saling melengkapi selama proses adaptasi. Temuan ini menegaskan bahwa penerimaan diri pada lansia setelah kehilangan pasangan merupakan pengalaman yang kontekstual, dipengaruhi oleh interaksi antara aspek psikologis, spiritual, dan sosial dalam kehidupan sehari-hari.
GAMBARAN AVOIDANT ATTACHMENT PADA PEREMPUAN DEWASA AWAL DENGAN KECENDERUNGAN ALEXITHYMIA Inka Nefas Yahya Lase; Nancy Naomi G.P. Aritonang
PAEDAGOGY : Jurnal Ilmu Pendidikan dan Psikologi Vol. 6 No. 4 (2026)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia (P4I)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/paedagogy.v6i4.15997

Abstract

ABSTRAK Difficulty understanding and communicating emotions may shape how individuals manage closeness in interpersonal relationships. During early adulthood, this issue becomes particularly relevant as the need for meaningful relationships coexists with the need to maintain autonomy and personal boundaries. This study explored how avoidant attachment is experienced and interpreted by early-adult women with high tendencies toward alexithymia using a descriptive phenomenological approach. Two women aged 20 and 24 years were purposively selected following screening with the Toronto Alexithymia Scale-20 (TAS-20), with scores of 77 and 67, respectively. The instrument was used for screening purposes rather than clinical diagnosis, while two close friends were involved as supporting informants. Participants’ experiences were explored through in-depth semi-structured interviews, observation, and documentation conducted in Medan from May to August 2026. The data were examined using Reflexive Thematic Analysis through repeated reading, coding, theme development, and theme review, with source triangulation used to strengthen the interpretation. Four themes emerged: regulating boundaries and access to closeness, relying on oneself, withdrawing when relationships become uncomfortable, and seeking closeness while maintaining distance. These experiences suggest that closeness is negotiated through privacy, autonomy, and a sense of safety, indicating that avoidant attachment does not necessarily represent rejection of interpersonal relationships. ABSTRAK Kesulitan memahami dan menyampaikan emosi dapat membentuk cara seseorang mengelola kedekatan dalam hubungan interpersonal. Pada masa dewasa awal, kondisi tersebut menjadi menarik untuk ditelaah karena kebutuhan akan hubungan yang bermakna berjalan berdampingan dengan kebutuhan mempertahankan otonomi dan batas personal. Penelitian ini menelusuri bagaimana avoidant attachment dialami dan dimaknai oleh perempuan dewasa awal dengan kecenderungan alexithymia tinggi melalui pendekatan fenomenologi deskriptif. Dua perempuan berusia 20 dan 24 tahun dipilih secara purposive setelah melalui screening menggunakan Toronto Alexithymia Scale-20 (TAS-20), dengan skor 77 dan 67. Instrumen tersebut digunakan untuk screening, bukan diagnosis klinis, sementara dua teman dekat dilibatkan sebagai informan pendukung. Pengalaman partisipan digali melalui wawancara mendalam semi-terstruktur, observasi, dan dokumentasi pada Mei–Agustus 2026 di Kota Medan. Data ditelaah menggunakan Reflexive Thematic Analysis melalui pembacaan berulang, pengodean, pengembangan serta peninjauan tema, dengan triangulasi sumber untuk memperkuat interpretasi. Empat tema ditemukan: pengaturan batas dan akses terhadap kedekatan, pengandalan diri, penarikan diri ketika relasi terasa tidak nyaman, serta keinginan untuk dekat tanpa kehilangan jarak. Pengalaman tersebut memperlihatkan bahwa kedekatan dinegosiasikan melalui privasi, otonomi, dan rasa aman, sehingga avoidant attachment tidak semata-mata berarti penolakan terhadap hubungan.