Fenomena migrasi internasional sering kali memicu terjadinya disrupsi struktur keluarga, di mana anak-anak pekerja migran tumbuh tanpa kehadiran fisik orang tua yang lengkap. Kondisi ini menciptakan tantangan besar dan hambatan dalam pembentukan karakter dan moral anak. Di tengah kekosongan peran tersebut sanggar belajar (SB) hadir sebagai institusi alternatif yang mengambil alih fungsi pendidikan formal sekaligus informal. Banyaknya tantangan dan hambatan yang dihadapi anak pekerja migran seringkali membuat mereka memiliki tekanan emosional serta berpengaruh besar terhadap perkembangan perilaku mereka. Penelitian ini bertujuan untuk menelaah dinamika relasi guru dan anak di SB migran dalam mengimplementasikan proses penanaman Pendidikan akhlak ditengah situasi keluarga yang terdisrupsi. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode studi kasus. Data dikumpulkan melalui observasi di Sanggar Belajar, wawancara dengan pengelola sanggar, anak-anak migran, serta studi dokumentasi. Analisis data dilakukan melalui penyajian data, dan penarikan kesimpulan. Temuan penelitian menunjukkan bahwa pendidikan akhlak di Sanggar Belajar tidak hanya berlangsung secara pedagogis, melainkan berlandaskan pada pembangunan relasi pengganti (surrogate relationship) antara guru dan anak. Guru di SB Migran memainkan peran ganda sebagai pendidik sekaligus figur orang tua pengganti (foster parents). Dinamika relasi ini diwarnai oleh pendekatan emosional, keteladanan, dan pembiasaan nilai-nilai keagamaan. Meskipun menghadapi hambatan berupa keterbatasan waktu, trauma psikologis anak, pendekatan humanis dan komunikatif terbukti efektif dalam menjaga stabilitas moral dan membentuk akhlak mulia anak. Relasi sosial yang kuat dan empatik antara guru dan anak merupakan kunci keberhasilan pendidikan akhlak di tengah disrupsi keluarga. SB Migran tidak hanya berfungsi sebagai ruang pengajaran, tetapi juga sebagai ruang pemulihan sosial-emosional yang esensial bagi anak pekerja migran.