Penelitian ini dilatarbelakangi oleh minimnya bukti empiris tentang penerapan 5S di laboratorium jasa pengujian Indonesia, yang umumnya hanya terfokus pada manufaktur dan gudang. Padahal, laboratorium uji memiliki tuntutan khas seperti akurasi pengujian, ketertelusuran alat, dan keselamatan kerja, sehingga 5S dipilih sebagai fondasi lean yang paling relevan untuk mengatasi penataan ruang, visualisasi, kebersihan, standardisasi, dan disiplin. Tujuan penelitian adalah menganalisis perubahan implementasi 5S dan kinerja karyawan di PT. Surveyor Indonesia Cabang Batam. Metode yang digunakan adalah kuantitatif studi kasus dengan desain one-group pretest-posttest, melibatkan 20 karyawan (total sampling). Pengumpulan data melalui observasi, wawancara, dokumentasi, checklist audit 5S, dan kuesioner skala Likert. Analisis mencakup persentase implementasi, uji instrumen, uji normalitas selisih skor, paired t-test, serta Cohen's dz. Hasil penelitian menunjukkan peningkatan implementasi 5S dari 44,8% (cukup) menjadi 84,2% (sangat baik), dengan lonjakan tertinggi pada Shitsuke (47 poin) dan Seiri (45 poin). Uji paired t-test mengonfirmasi perbedaan kinerja karyawan yang signifikan pada taraf 5%, dengan ukuran efek besar (dz = 1,77-2,01). Temuan ini mengindikasikan bahwa 5S berkontribusi lebih dari sekadar housekeeping, melainkan sebagai mekanisme pembentukan budaya kerja yang tertata, aman, dan berorientasi mutu. Kebaruan penelitian terletak pada konteks laboratorium jasa pengujian di Indonesia serta integrasi audit 5S, pengukuran kinerja, ukuran efek, dan pembahasan validitas internal secara komprehensif.