Bijih emas refraktori umumnya memiliki efisiensi ekstraksi yang rendah melalui metode sianidasi karena emas masih terinkapsulasi di dalam mineral sulfida sehingga kontak antara emas dan larutan sianida menjadi terbatas. Salah satu metode pre-treatment yang digunakan untuk mengatasi permasalahan tersebut adalah roasting, yaitu pemanasan bijih pada temperatur tinggi untuk mengoksidasi mineral sulfida, meningkatkan porositas batuan, dan membebaskan emas dari matriks mineral. Penelitian ini bertujuan menganalisis pengaruh suhu dan waktu roasting terhadap perubahan karakteristik bijih emas serta efektivitas proses pelindian menggunakan metode sianidasi. Penelitian menggunakan sampel bijih emas Desa Lantung berukuran 200 mesh dengan variasi suhu roasting 550°C, 650°C, dan 750°C serta waktu 2, 4, dan 6 jam. Karakterisasi dilakukan menggunakan X-Ray Fluorescence (XRF), X-Ray Diffraction (XRD), dan Atomic Absorption Spectrophotometry (AAS). Pelindian dilakukan menggunakan larutan NaCN 500 ppm pada pH 10–11, temperatur 40°C selama 120 menit dengan rasio padat-cair 1:10. Hasil penelitian menunjukkan bahwa roasting menyebabkan perubahan karakteristik mineralogi yang ditandai oleh perubahan intensitas puncak difraksi, peningkatan kristalinitas, dan transformasi fase mineral. Persen ekstraksi emas meningkat dari 66,81% pada sampel tanpa roasting menjadi 91,05% pada suhu roasting 550°C selama 6 jam sebagai kondisi optimum. Peningkatan suhu hingga 650°C dan 750°C menurunkan persen ekstraksi akibat terjadinya sintering yang mengurangi porositas batuan. Dengan demikian, roasting pada suhu 550°C selama 6 jam merupakan kondisi optimum untuk meningkatkan efektivitas sianidasi bijih emas Desa Lantung.