Wilayah perbatasan Jagoi Babang Bengkayang, Kalimantan Barat dan Serikin Sarawak, Malaysia, merupakan tempat bertemunya interaksi sosial, budaya dan ekonomi yang kompleks. Permasalahan dalam penelitian ini adalah bagaimana hubungan sosial budaya masyarakat Dayak Bidayuh membentuk jaringan ekonomi perbatasan yang berfungsi dalam memenuhi kebutuhan dasar hingga kesimbangan sosial. Penelitian ini bertujuan menjelaskan keterkaitan antara nilai sosial budaya dengan sistem ekonomi masyarakat perbatasan serta peranannya dalam menciptakan ketahanan ekonomi lokal. Metode penelitian yang digunakan adalah kualitatif dengan pendekatan etnografi melalui observasi lapangan, wawancara mendalam, dan analisis tematik terhadap praktik ekonomi dan budaya masyarakat Jagoi Babang-Serikin. Hasil penelitian menunjukkan bahwa jaringan ekonomi lintas batas terbentuk berdasarkan nilai kepercayaan (trust), gotong royong, dan timbal balik (reciprocity) yang berakar pada ikatan kekerabatan dan adat Dayak Bidayuh. Jaringan ini berfungsi sebagai modal sosial pengikat (bonding social capital) yang mengatur distribusi barang, tenaga, dan informasi di luar mekanisme pasar formal dan regulasi negara. Secara teoretis, temuan ini memperluas teori jaringan sosial dengan menegaskan bahwa jaringan ekonomi tidak hanya merupakan struktur relasi aktor, tetapi juga arena moral dan kultural yang mengarahkan tindakan ekonomi kolektif serta memperkuat ketahanan ekonomi masyarakat perbatasan. Kesimpulan penelitian ini menegaskan bahwa nilai-nilai sosial budaya berfungsi sebagai fondasi utama dalam membangun jaringan ekonomi perbatasan yang mandiri dan berkelanjutan, sekaligus memperluas pemahaman teori jaringan sosial melalui dimensi moral dan fungsional dalam konteks masyarakat perbatasan.