Anggun Laily Hikmatur Roudloh
Universitas Muhammadiyah Sidoarjo

Published : 1 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 1 Documents
Search

Merawat Toleransi Melalui Komunikasi Budaya: Studi tentang Negosiasi Identitas pada Masyarakat Desa Balun Lamongan Anggun Laily Hikmatur Roudloh; Muhammad Aufarul Mawahib; Refalina Widiyastary; Kukuh Sinduwiatmo
Indonesian Journal of Multidisciplinary on Social and Technology Vol. 4 No. 3 (2026): Juli - Oktober
Publisher : PT Ilmu Data Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.69693/ijmst.v4i3.11767

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis proses negosiasi identitas dalam merawat toleransi melalui komunikasi budaya antarumat beragama di Desa Balun, Kabupaten Lamongan. Desa Balun dikenal sebagai wilayah multikultural yang masyarakatnya terdiri dari pemeluk agama Islam, Kristen, dan Hindu yang hidup berdampingan secara harmonis. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan jenis deskriptif. Pengumpulan data dilakukan melalui observasi, wawancara, dan dokumentasi, kemudian dianalisis menggunakan Teori Negosiasi Identitas dari Stella Ting-Toomey. Hasil penelitian menunjukkan bahwa toleransi di Desa Balun terbentuk melalui tiga proses utama, yaitu pengakuan dan penghormatan identitas, komunikasi budaya dalam menegosiasikan perbedaan, serta pembentukan identitas kolektif sebagai warga desa. Pengakuan dan penghormatan identitas terlihat dari sikap saling menghargai dalam pelaksanaan ibadah dan kegiatan keagamaan tanpa adanya diskriminasi sosial. Komunikasi budaya berlangsung secara terbuka melalui interaksi sehari-hari, musyawarah, dialog, serta peran tokoh masyarakat sebagai mediator dalam menjaga keharmonisan sosial. Selain itu, identitas kolektif sebagai warga Desa Balun terbentuk melalui kegiatan budaya dan sosial seperti gotong royong, Bersih Desa, dan kegiatan kebersamaan lainnya yang melibatkan seluruh warga tanpa memandang perbedaan agama. Berdasarkan teori yang digunakan, ditemukan bahwa proses negosiasi identitas yang meliputi pengakuan, penghormatan, penerimaan, serta komunikasi yang sadar (mindful communication) menjadi faktor penting dalam membangun toleransi antarumat beragama. Kesimpulannya, toleransi di Desa Balun tidak hanya bersifat normatif, tetapi telah menjadi budaya sosial yang mengakar melalui komunikasi budaya dan interaksi sosial yang berkelanjutan.