Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

Terapi puzzle untuk meningkatkan fungsi kognitif dan motorik pada lansia (Terapi Aktivitas Kelompok) Alfika Safitri; Prida Sahla Rizkiyyah; Nazhifa Salma; Laelatul Istianah; Napiyah Napiyah; Luisa Putri Syawalia; Friyanka Aisyah Sayyidha
JOURNAL of Public Health Concerns Vol. 6 No. 4 (2026): JOURNAL of Public Health Concerns
Publisher : Indonesian Public Health-Observer Information Forum (IPHORR) Kerja sama dengan: Unit Penelitian dan Pengabdian Kep Akademi Keperawatan Baitul Hikmah

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56922/phc.v6i4.3198

Abstract

Background: The aging process causes a decline in physical, cognitive, and psychosocial function in the elderly. Cognitive and motor decline are common problems and can impact the quality of life of the elderly. One non-pharmacological intervention that can be implemented is group activity therapy using the puzzle method. Purpose: To improve the cognitive and motor function of the elderly through puzzle therapy. Method: This community service activity was conducted on April 15, 2026, at Wisma Jeruk, Budi Mulia 2 Social Welfare Home, with seven elderly participants. The activity involved providing instructions and demonstrating how to play a puzzle game, which consists of a picture divided into pieces, dismantling and reassembling the puzzle within a specified timeframe. The puzzle game included material presentation, demonstrations, and hands-on practice. Evaluation was conducted through observation of the elderly's engagement, responses, and ability to solve the puzzle. Results: Showed improved cognitive function and memory, meaning the elderly were better able to recall previously learned instructions, patterns, or shapes. They were able to focus and concentrate on completing the game without being easily distracted or confused. This also demonstrated improved motor and visual development and physical coordination, with improvements in fine motor skills, as evidenced by the ease of holding, rotating, and placing puzzle pieces. The elderly were quicker to recognize shapes and colors and fit puzzle pieces into the appropriate spaces. Psychosocial and emotional aspects showed a decrease in stress and anxiety: the elderly appeared calmer and more relaxed, with reduced anxiety levels, increased self-confidence, and became more active in communicating, patiently waiting their turn, and able to socialize with other players. Conclusion: Group activity therapy with puzzle games is effective in improving cognitive and fine motor function in the elderly, particularly in hand-eye coordination. The elderly became more skilled in performing activities requiring precision and fine movements. From a psychosocial perspective, this activity can improve social interaction, reduce loneliness, and foster self-confidence and feelings of happiness in the elderly. Suggestion: It is hoped that puzzle therapy can become a routine activity for the elderly, as it has been proven to be beneficial in improving cognitive function, motor skills, and social interaction. Healthcare workers and nurses are also encouraged to develop other innovative group activity therapies and adapt the difficulty level of the activities to the elderly's condition to optimize therapy. Keywords: Cognitive function; Elderly; Motor function; Non-pharmacological therapy; Puzzle games Pendahuluan: Proses penuaan menyebabkan penurunan fungsi fisik, kognitif, dan psikososial pada lansia. Penurunan fungsi kognitif dan motorik merupakan masalah yang sering terjadi dan dapat mempengaruhi kualitas hidup lansia. Salah satu intervensi nonfarmakologis yang dapat dilakukan adalah terapi aktivitas kelompok dengan metode puzzle. Tujuan: Meningkatkan fungsi kognitif dan motorik lansia melalui terapi permainan puzzle. Metode: Kegiatan pengabdian masyarakat ini dilaksanakan pada tanggal 15 April 2026 di Wisma Jeruk, Panti Sosial Tresna Werdha Budi Mulia 2 dengan jumlah peserta sebanyak 7 lansia. Kegiatan dilaksanakan dengan memberikan petunjuk dan demonstrasi tatacara bermain puzzle yang berupa suatu gambar yang dibagi menjadi potongan-potongan dengan membongkar dan merangkai kembali dalam waktu tertentu. Permainan puzzle meliputi pemberian materi, demonstrasi, dan praktik langsung. Evaluasi dilakukan melalui observasi terhadap keterlibatan, respon, dan kemampuan lansia dalam menyelesaikan puzzle. Hasil: menunjukkan peningkatan fungsi kognitif dan daya ingat yaitu lansia lebih mampu mengingat instruksi, pola, atau bentuk potongan gambar yang telah dipelajari sebelumnya.lansia dapat fokus dan berkonsentrasi dalam menyelesaikan permainan tanpa mudah terdistraksi atau merasa kebingungan. Menunjukkan peningkatan perkembangan motorik dan visualkoordinasi fisik yaitu terjadi peningkatan keterampilan motorik halus, yang terlihat dari kemudahan memegang, memutar, dan menempatkan potongan-potongan puzzle, lansia lebih cepat mengenali bentuk, warna, dan menyesuaikan kepingan teka-teki dengan ruang kosong yang sesuai. Sedangkan aspek psikososial dan emosional menunjukkan penurunan stres atau kecemasan: yaitu lansia terlihat lebih tenang, rileks, tingkat kecemasannya berkurang, rasa percaya diri, lansia menjadi lebih aktif berkomunikasi, sabar menunggu giliran, dan mampu bersosialisasi dengan sesama pemain.         Simpulan: Terapi aktivitas kelompok dengan permainan puzzle efektif dalam meningkatkan fungsi kognitif dan motorik halus pada lansia terutama dalam koordinasi tangan dan mata. Lansia menjadi lebih terampil dalam melakukan aktivitas yang membutuhkan ketelitian dan gerakan halus. Dari aspek psikososial, kegiatan ini mampu meningkatkan interaksi sosial, mengurangi rasa kesepian, serta menumbuhkan rasa percaya diri dan perasaan senang pada lansia. Saran: Diharapkan terapi puzzle dapat dijadikan sebagai kegiatan rutin bagi lansia karena terbukti bermanfaat dalam meningkatkan fungsi kognitif, motorik, dan interaksi sosial. Bagi tenaga kesehatan atau perawat diharapkan juga dapat mengembangkan terapi aktivitas kelompok lainnya yang inovatif dan menyesuaikan tingkat kesulitan kegiatan dengan kondisi lansia agar terapi dapat berjalan lebih optimal.
Hubungan Tingkat Stres Dan Aktivitas Fisik Dengan Kejadian Insomnia Pada Lansia Di Rw 13 Kampung Tugu Kelurahan Bugel Kota Tangerang Nazhifa Salma; Rina Puspita Sari; Ayu Pratiwi
Jurnal Vokasi Kesehatan Vol 4 No 2 (2025)
Publisher : Gayaku Publisher

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.58222/juvokes.v4i2.1449

Abstract

Insomnia merupakan gangguan tidur yang banyak dialami lansia dan dapat berdampak pada penurunan kualitas hidup. Secara global, sekitar 19,1% populasi mengalami gangguan tidur, dengan prevalensi pada lansia mencapai 25–57%. Di Indonesia, 67% lansia dilaporkan mengalami gangguan tidur, seperti sulit tidur, sering terbangun, dan bangun terlalu pagi. Kondisi serupa ditemukan di RW 13 Kampung Tugu Kelurahan Bugel Kota Tangerang. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara tingkat stres dan aktivitas fisik dengan kejadian insomnia pada lansia. Desain penelitian ini adalah kuantitatif korelasional dengan pendekatan cross sectional. Teknik pengambilan sampel menggunakan total sampling, dengan jumlah responden sebanyak 87 orang lansia. Analisis data dilakukan secara univariat dan bivariat menggunakan uji Chi-Square pada taraf signifikansi 0,05. Hasil penelitian menunjukkan adanya hubungan signifikan antara tingkat stres (p = 0,000) dan aktivitas fisik (p = 0,000) dengan kejadian insomnia. Disimpulkan bahwa pengelolaan stres dan peningkatan aktivitas fisik penting dilakukan sebagai upaya pencegahan dan penanganan insomnia pada lansia.  Kata kunci: Aktivitas Fisik, Insomnia, Lansia, Tingkat Stres Insomnia is a common sleep disorder among the elderly and can negatively impact their quality of life. Globally, approximately 19.1% of the population experiences sleep disturbances, with prevalence among the elderly ranging from 25% to 57%. In Indonesia, 67% of older adults have been reported to suffer from sleep problems, including difficulty falling asleep, frequent awakenings, and early morning awakening. A similar condition was found in RW 13 Kampung Tugu, Bugel Subdistrict, Tangerang City. This study aimed to determine the relationship between stress levels and physical activity with the incidence of insomnia in the elderly. The study employed a quantitative correlational design with a cross-sectional approach. The sampling technique used was total sampling, involving 87 elderly respondents. Data analysis was conducted univariately and bivariately using the Chi-Square test at a significance level of 0.05. The results showed a significant relationship between stress levels (p = 0.000) and physical activity (p = 0.000) with the incidence of insomnia. It is concluded that stress management and increased physical activity are essential as preventive and therapeutic efforts for insomnia in the elderly. Keywords: Physical Activity, Insomnia, Elderly, Stress Level