Keaktifan belajar matematika siswa MAN 3 Boyolali terpantau rendah karena pembelajaran masih bergantung pada guru. Tujuan studi ini adalah menganalisis komparasi tingkat keaktifan belajar matematika antara siswa di kelas Teams Games Tournament (TGT) dengan kelas pembelajaran berbasis masalah (PBL) yang difasilitasi oleh LKPD kontekstual. Riset kuantitatif ini mengaplikasikan metode kuasi-eksperimen tanpa kelas kontrol, secara spesifik menggunakan posttest only nonequivalent group design. Populasi ditarik dari keseluruhan kelas X (157 siswa), di mana dua kelas ditetapkan sebagai sampel lewat penarikan acak berbasis area (cluster random sampling). Pengukuran tingkat keaktifan belajar siswa mengandalkan instrumen kuesioner yang kelayakan validitas serta reliabilitasnya telah teruji. Pengolahan data melalui statistik deskriptif, pengujian asumsi dasar, serta independent sample t-test. Temuan evaluasi mengindikasikan perbedaan keaktifan yang sangat besar antara kelompok TGT dan PBL, dibuktikan lewat angka signifikansi sebesar 0,0006 (p < 0,05). Kelompok yang menerima intervensi PBL terintegrasi LKPD kontekstual menunjukkan level keaktifan yang lebih tinggi daripada kelompok TGT. Tingginya skor tersebut didorong oleh peran instrumen berorientasi fenomena nyata yang bertindak sebagai scaffolding saat siswa berkolaborasi. Di sisi lain, suasana kompetitif pada kelas TGT justru memicu munculnya kecenderungan dominance effect serta social loafing. Riset ini menegaskan bahwa implementasi PBL dengan dukungan LKPD kontekstual terbukti lebih efektif untuk meningkatkan keaktifan belajar siswa selama pembelajaran matematika.