Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

Peningkatan Kompetensi Web Modern melalui Pelatihan Framework Next.js bagi siswa SMKN 7 Bandar Lampung Febri Dwi Irawati; Mika Alvionita Sitinjak; Ardika Satria; Ahmad Luky Ramdani; Ira Safitri; Tirta Setiawan; Luluk Muthoharoh; Rohmi Dyah Astuti; Yoga Aji Sukma; Dimas Dwi Randa; Vina Nurmadani; Yustida Bellini
Journal Social Science And Technology For Community Service Vol. 7 No. 1 (2026): Volume 7 Nomor 1 Maret 2026
Publisher : Universitas Teknokrat Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33365/jsstcs.v7i1.1689

Abstract

Kesenjangan kompetensi siswa Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) dengan kebutuhan industri pengembangan perangkat lunak yang dinamis menjadi latar belakang utama pelaksanaan pengabdian ini. Framework Next.js, sebagai teknologi modern berbasis React, dipilih untuk meningkatkan kapasitas teknis siswa dalam membangun aplikasi web modern dan berkinerja tinggi. Kegiatan ini bertujuan untuk meningkatkan pemahaman dan keterampilan praktis siswa SMKN 7 Bandar Lampung melalui metode project-based learning. Subjek pengabdian terdiri dari 56 siswa yang dievaluasi menggunakan instrumen pre-test dan post-test. Analisis data dilakukan secara komprehensif menggunakan statistika deskriptif dan inferensia non-parametrik Wilcoxon Signed-Rank Test karena distribusi data yang tidak normal (p < 0,05). Hasil analisis menunjukkan adanya peningkatan skor rata-rata yang signifikan dari 28,39 menjadi 37,04. Wilcoxon test menghasilkan nilai statistik V = 3 dengan signifikansi p < 0,001, yang mengonfirmasi adanya perbedaan kompetensi yang nyata setelah intervensi diberikan. Selain itu, capaian effect size sebesar 0,571 (kategori besar) memperkuat bukti bahwa metode pelatihan berbasis praktik efektif dalam mereduksi disparitas pemahaman siswa, terutama pada indikator inisiasi proyek dan struktur folder. Kesimpulannya, pelatihan ini berhasil mentransformasi pengetahuan siswa dari kategori ragu-ragu menjadi paham, sekaligus memberikan fondasi teknologi yang relevan dengan standar industri terkini.
Klasterisasi spatio-temporal komparatif untuk deteksi gempa bumi bermagnitudo tinggi: analisis k-means dan DBSCAN terhadap seismisitas zona subduksi Andri Dermawan; Dimas Dwi Randa
JRTI (Jurnal Riset Tindakan Indonesia) Vol. 11 No. 2 (2026): JRTI (Jurnal Riset Tindakan Indonesia)
Publisher : IICET (Indonesian Institute for Counseling, Education and Therapy)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29210/30037009000

Abstract

Sumatera merupakan salah satu wilayah dengan aktivitas seismik tertinggi di dunia akibat interaksi konvergen Lempeng Indo-Australia dan Lempeng Eurasia serta keberadaan Sesar Besar Sumatera. Pemahaman terhadap pola kegempaan yang bersifat spatio-temporal menjadi penting sebagai dasar mitigasi bencana. Penelitian ini bertujuan mengidentifikasi pola pengelompokan gempa bumi di Sumatera menggunakan dua algoritma eksplorasi data yang berbeda paradigma, yaitu K-Means (berbasis partisi) dan DBSCAN (berbasis kepadatan). Data yang digunakan adalah katalog gempa United States Geological Survey (USGS) periode Januari 2015 hingga Desember 2025 pada rentang 6,5°LU–6,5°LS dan 94°–107°BT. Setelah praproses dan penerapan ambang kelengkapan magnitudo Mc = 4,0, diperoleh 2.834 kejadian. Lima fitur digunakan sebagai masukan clustering, yaitu lintang, bujur, waktu kejadian, kedalaman, dan magnitudo, yang seluruhnya distandardisasi menggunakan z-score. Jumlah klaster optimal K-Means ditentukan melalui Elbow Method dan Davies–Bouldin Index yang keduanya konvergen pada k = 6, sedangkan parameter DBSCAN ditetapkan melalui grafik k-distance dan penelusuran grid dua dimensi sehingga diperoleh ε = 0,7 dan minPts = 20. Hasil penelitian menunjukkan bahwa K-Means membagi kegempaan Sumatera menjadi enam klaster yang secara konsisten memisahkan segmen utara (Aceh–Simeulue) dan segmen selatan (Bengkulu–Lampung), masing-masing terpecah lagi menjadi dua periode waktu (2015–2020 dan 2020–2025), ditambah satu klaster zona Benioff berkedalaman menengah (rerata 173,7 km) dan satu klaster bermagnitudo tinggi (rerata 5,40). DBSCAN menghasilkan tiga klaster dengan 633 titik (22,3%) diklasifikasikan sebagai noise. Temuan paling menonjol adalah bahwa seluruh 27 gempa bermagnitudo M ≥ 6,0 diklasifikasikan sebagai noise oleh DBSCAN, dan magnitudo titik noise secara signifikan lebih besar dibandingkan titik terklaster (uji Mann–Whitney U, p < 0,001). Nilai Silhouette K-Means (0,260) lebih tinggi dibandingkan DBSCAN (0,214), namun DBSCAN unggul pada Davies–Bouldin Index (0,890 berbanding 1,207). Disimpulkan bahwa kedua metode bersifat komplementer: K-Means efektif untuk segmentasi zona seismik, sedangkan DBSCAN efektif sebagai detektor kejadian anomali yang berpotensi merusak.