Etik Sulistyorini
Universitas Negeri Semarang

Published : 2 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

MULTIDIMENSIONAL BURDEN of STUNTING in CHILDREN UNDER FIVE: A SYSTEMATIC REVIEUW of INDIVIDUAL, HOUSEHOLD, and COMMUNITY RISK FACTORS Etik Sulistyorini; Fitria Hayu Palupi; Ropitasari Ropitasari; Sri Handayani; Evi Widowati; Ani Nur Fauziah
Jurnal Kebidanan Indonesia Vol 17, No 2 (2026): JULI
Publisher : STIKES Mamba'ul 'Ulum Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36419/jki.v17i2.1761

Abstract

Background: Stunting among children under five remains a major public health concern, particularly in low- and middle-income countries. It reflects chronic undernutrition and is associated with impaired cognitive development, poor educational outcomes, and long-term socioeconomic disadvantages. Due to its complex and multilevel etiology, a comprehensive understanding of contributing factors is essential for effective intervention strategies. This study aims to systematically review and synthesize evidence on the determinants of stunting in children under five, focusing on risk factors at individual, household, and community levels.. Subjects and Method: A systematic literature search was conducted using databases including SpringerLink, ScienceDirect, Sage, and Taylor & Francis. Keywords such as “stunting,” “growth retardation,” “risk factor,” and “children under five” were applied. Articles were selected based on the PICO framework, with inclusion criteria limited to full-text, quantitative studies published between 2020 and 2025, focusing on children aged 0–59 months. A total of 23 eligible articles was guided by a PRISMA flow diagram and were analyzed using thematic narrative synthesis.Results: At the individual level, factors such as low dietary diversity, male gender, low birth weight, and inadequate immunization were associated with higher risk. At the household level, maternal education, household wealth, food insecurity, and poor sanitation were significant predictors. At the community level, geographic location, limited access to health services, and environmental conditions (e.g., water safety, sanitation) were critical contributors. Several studies employed multilevel and machine learning analyses, reinforcing the interrelated nature of risk factors. However, there remains a gap in longitudinal evidence, father involvement, and evaluation of integrated interventions.Conclusion: This review confirms the multifactorial nature of stunting and highlights the urgent need for context-specific, multisectoral strategies. Interventions should integrate nutrition education, WASH, maternal and child health, and poverty alleviation. Future studies should incorporate longitudinal, behavioral, and programmatic evaluations to better inform public health policy.
Pengaruh Faktor Individu, Sosial, Ekonomi dan Lingkungan terhadap Pemilihan Makanan Sehat pada Siswa SMA N 1 Polokarto, Sukoharjo Fitria Hayu Palupi; Etik Sulistyorini; Sri Handayani; Ropitasari
Indonesian Journal of Public Health and Nutrition Vol. 5 No. 2 (2025)
Publisher : Universitas Negeri Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15294/ijphn.v5i2.23234

Abstract

Latar Belakang: Pemilihan makanan sehat pada remaja dipengaruhi oleh berbagai faktor yang saling berinteraksi, seperti faktor individu, sosial, ekonomi, dan lingkungan. Remaja cenderung mengikuti tren dan pengaruh teman sebaya dalam menentukan pola makan, sehingga pemahaman mendalam terhadap faktor-faktor yang memengaruhi pemilihan makanan sehat sangat penting, khususnya pada masa transisi menuju kedewasaan. Tujuan: Penelitian ini bertujuan menganalisis pengaruh faktor individu, sosial, ekonomi, dan lingkungan terhadap pemilihan makanan sehat di kalangan siswa SMA N 1 Polokarto. Metode: Penelitian ini menggunakan desain kuantitatif analitik dengan pendekatan cross sectional, populasi seluruh siswa di SMA N 1 Polokarto sejumlah 500 siswa, sampel dengan aksidental sampling 78 siswa dengan kriteria inklusi siswa aktif kelas X,XI,XII dan bersedia mengisi kuesioner, berusia 14-19 tahun, sedangkan kriteria eksklusi adalah tidak bersedia menjadi responden, mengisi kuesioner secara tidak lengkap dengan uji statistik regresi linear ganda. Alat ukur yang digunakan adalah kuesioner terstruktur berdasarkan variabel independen faktor individu, faktor sosial, faktor ekonomi, faktor lingkungan dan variabel dependen pemilihan makanan sehat yang telah dilakukan uji validitas dan reliabilitas. Hasil: Mayoritas responden berada pada kelompok usia 16–17 tahun (59 siswa), disusul usia 14–15 tahun (18 siswa), dan hanya satu siswa berusia 18–19 tahun. Hasil analisis regresi menunjukkan nilai R sebesar 0,814 dan R square sebesar 0,663, artinya 66,3% variasi pemilihan makanan sehat dijelaskan oleh keempat faktor tersebut. Nilai F sebesar 35,924 dengan signifikansi 0,000 menunjukkan bahwa model regresi sangat signifikan. Estimasi standard error sebesar 4,448 menunjukkan tingkat kesalahan prediksi model yang relatif rendah. Secara spesifik, faktor individu memiliki pengaruh positif yang signifikan (p = 0,023), faktor sosial memiliki pengaruh negatif yang signifikan (p = 0,017), faktor ekonomi memiliki pengaruh positif yang sangat signifikan (p = 0,001), dan faktor lingkungan juga memiliki pengaruh positif yang signifikan (p = 0,027). Analisis juga menunjukkan bahwa siswa perempuan, sebagai mayoritas responden, cenderung memiliki kesadaran gizi lebih tinggi dan lebih selektif dalam memilih makanan sehat dibandingkan siswa laki-laki. Kesimpulan: Faktor individu, sosial, ekonomi, dan lingkungan memiliki pengaruh signifikan terhadap pemilihan makanan sehat di kalangan siswa SMA N 1 Polokarto. Faktor individu dan ekonomi berperan positif dalam mendorong pola makan sehat, sementara faktor sosial justru menjadi hambatan. Faktor lingkungan, seperti kebijakan sekolah dan akses terhadap makanan sehat, turut berkontribusi terhadap pembentukan kebiasaan makan sehat. Hasil ini memberikan dasar penting bagi pengembangan strategi intervensi gizi berbasis sekolah dan komunitas yang mempertimbangkan keberagaman faktor yang memengaruhi perilaku makan remaja.