Kebutuhan telur yang terus meningkat menuntut tersedianya sistem penetasan yang mampu menghasilkan daya tetas tinggi secara stabil. Salah satu komponen penting dalam proses penetasan adalah kestabilan dan keseragaman temperatur di dalam inkubator. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis kinerja sistem pemanas inkubator telur berbasis lampu pijar terhadap distribusi temperatur internal serta pengaruhnya terhadap persentase penetasan telur. Inkubator bertingkat berkapasitas 400 telur dirancang menggunakan bahan tripleks berisolasi serbuk kayu, dilengkapi thermostat digital, thermohygrometer, ventilasi udara, wadah air, serta variasi jumlah lampu pijar sebanyak 4, 6, 8, 10, dan 12 unit. Pengujian dilakukan pada dua kondisi, yaitu tanpa dan dengan penggunaan plat seng di bawah lampu pijar sebagai penyebar panas. Pengukuran temperatur dilakukan pada beberapa titik untuk mengetahui tingkat keseragaman suhu di dalam inkubator. Hasil penelitian menunjukkan bahwa semakin banyak jumlah lampu pijar yang digunakan, maka perbedaan temperatur antar titik semakin kecil. Penggunaan plat seng terbukti mampu menurunkan beda temperatur dan meningkatkan keseragaman distribusi panas, dengan selisih temperatur terkecil sebesar 0,36°C pada penggunaan 12 lampu pijar. Uji penetasan menunjukkan bahwa baik pada kondisi tanpa maupun dengan plat seng, dari 45 butir telur yang diuji diperoleh jumlah menetas sebanyak 44 butir atau setara dengan persentase penetasan sebesar 97%. Dengan demikian, meskipun plat seng meningkatkan keseragaman temperatur, keberadaannya tidak memberikan pengaruh signifikan terhadap besar kecilnya tingkat keberhasilan penetasan. Faktor utama yang memengaruhi keberhasilan penetasan adalah kestabilan suhu inkubator secara keseluruhan.