Claim Missing Document
Check
Articles

Found 3 Documents
Search

Implementasi Terapi Stimulasi Kognitif Sebagai Upaya Optimalisasi Fungsi Kognitif Lansia Di Panti Sasana Tresna Wreda Wonogiri Hendra Dwi Kurniawan; Rizki Aqsyari; Safaruddin Safaruddin; Rudi Suryo Handoyo
Abdimas Kosala : Jurnal Pengabdian kepada Masyarakat Vol 5 No 2 (2026): ABDIMAS KOSALA: Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat
Publisher : SEKOLAH TINGGI ILMI KESEHATAN PANTI KOSALA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37831/akj.v5i2.494

Abstract

Penurunan fungsi kognitif merupakan salah satu permasalahan utama pada lansia yang dapat menurunkan kemandirian, interaksi sosial, dan kualitas hidup, sementara implementasi Cognitive Stimulation Therapy (CST) di panti wreda masih terbatas. Kegiatan pengabdian kepada masyarakat ini bertujuan mengoptimalkan fungsi kognitif lansia melalui implementasi CST di Panti Sasana Tresna Wreda Wonogiri. Metode yang digunakan meliputi edukasi kesehatan, demonstrasi dan praktik CST, pendampingan, serta evaluasi fungsi kognitif menggunakan Mini Mental State Examination (MMSE) pada 24 lansia. Hasil kegiatan menunjukkan seluruh peserta mengikuti program dengan antusias dan terjadi peningkatan rerata skor MMSE dari 22,92 sebelum intervensi menjadi 24,13 setelah intervensi, dengan peningkatan rerata sebesar 1,21 poin. Selain itu, peserta menunjukkan peningkatan kemampuan berkonsentrasi, daya ingat, komunikasi, kepercayaan diri, dan interaksi sosial selama mengikuti aktivitas kelompok. Program juga meningkatkan kapasitas petugas panti dalam melaksanakan CST secara mandiri sehingga mendukung keberlanjutan implementasi sebagai bagian dari pelayanan rutin. Disimpulkan bahwa implementasi CST merupakan intervensi promotif dan preventif yang efektif untuk mengoptimalkan fungsi kognitif serta mendukung peningkatan kualitas hidup lansia di panti wreda. Kata kunci: Cognitive Stimulation Therapy; fungsi kognitif; lansia; MMSE Cognitive decline is a common health problem among older adults that can reduce independence, social interaction, and quality of life, while the implementation of Cognitive Stimulation Therapy (CST) in residential care facilities remains limited. This community service program aimed to optimize cognitive function among older adults through the implementation of CST at Sasana Tresna Wreda Nursing Home, Wonogiri. The program employed health education, CST demonstration and practice, mentoring, and cognitive assessment using the Mini-Mental State Examination (MMSE) involving 24 older adults. The results showed that all participants actively engaged in the program, with the mean MMSE score increasing from 22.92 before the intervention to 24.13 after the intervention, representing an average improvement of 1.21 points. Participants also demonstrated enhanced concentration, memory, communication, self-confidence, and social interaction during group activities. In addition, the program strengthened the capacity of nursing home staff to independently implement CST, supporting the sustainability of the intervention as part of routine elderly care. In conclusion, CST is an effective health promotion and preventive intervention for optimizing cognitive function and improving the quality of life of older adults living in residential care facilities. Keywords: Cognitive Stimulation Therapy; cognitive function; older adults; Mini-Mental State Examination
LITERASI PELAYANAN KESEHATAN DIGITAL BAGI REMAJA SEBAGAI UPAYA PENCEGAHAN DINI MASALAH KESEHATAN Hendra Dwi Kurniawan; Rizki Aqsyari; Risa Setia Ismandani
Abdimas Kosala : Jurnal Pengabdian kepada Masyarakat Vol 5 No 1 (2026): ABDIMAS KOSALA: Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat
Publisher : SEKOLAH TINGGI ILMI KESEHATAN PANTI KOSALA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37831/akj.v5i1.458

Abstract

Remaja merupakan kelompok usia yang rentan terhadap berbagai permasalahan kesehatan, sementara perkembangan teknologi digital membuka peluang pemanfaatan layanan kesehatan digital sebagai upaya pencegahan dini. Namun, rendahnya literasi kesehatan digital dapat meningkatkan risiko misinformasi dan pemanfaatan layanan yang tidak tepat. Kegiatan pengabdian masyarakat ini bertujuan meningkatkan pengetahuan remaja tentang literasi pelayanan kesehatan digital sebagai upaya pencegahan dini masalah kesehatan. Metode yang digunakan adalah ceramah dan tanya jawab interaktif kepada 36 siswa kelas XII SMA Negeri 1 Slogohimo. Ceramah digunakan untuk menyampaikan materi literasi kesehatan digital secara terstruktur, sedangkan tanya jawab bertujuan memperdalam pemahaman peserta. Hasil kegiatan menunjukkan respon siswa sangat antusias, ditandai dengan keaktifan dalam diskusi dan kemampuan menjawab pertanyaan evaluasi dengan tepat. Sebelum kegiatan, sebagian besar siswa belum memahami literasi kesehatan digital, namun setelah penyuluhan terjadi peningkatan pengetahuan dan pemahaman peserta terkait konsep, jenis layanan kesehatan digital, serta peran remaja dalam pemanfaatannya. Dapat disimpulkan bahwa kegiatan pengabdian masyarakat ini berjalan dengan baik dan efektif dalam meningkatkan pengetahuan siswa mengenai literasi pelayanan kesehatan digital sebagai upaya pencegahan dini masalah kesehatan di kalangan remaja. Kata kunci: literasi digital kesehatan, pencegahan masalah kesehatan, remaja Adolescents are a population group that is vulnerable to various health problems, while the rapid development of digital technology offers opportunities to utilize digital health services as an early prevention strategy. However, low levels of digital health literacy may increase the risk of misinformation and inappropriate use of health services. This community service activity aimed to improve adolescents’ knowledge of digital health service literacy as an effort to prevent health problems at an early stage. The methods employed were lectures and interactive question-and-answer sessions involving 36 twelfth-grade students of SMA Negeri 1 Slogohimo. Lectures were used to deliver structured material on digital health literacy, while the question-and-answer sessions were conducted to deepen participants’ understanding. The results showed that students responded very enthusiastically, as reflected by their active participation in discussions and their ability to answer evaluation questions accurately. Prior to the activity, most participants had limited understanding of digital health literacy; however, after the educational intervention, there was an improvement in students’ knowledge and understanding of digital health literacy concepts, types of digital health services, and the role of adolescents in utilizing them. It can be concluded that this community service activity was well implemented and effective in increasing students’ knowledge of digital health service literacy as an early prevention effort for health problems among adolescents. Keywords: adolescents, digital health literacy, health problem prevention
EDUKASI ANTI-BULLYING SEBAGAI UPAYA PENINGKATAN LITERASI AKSES LAYANAN KESEHATAN MENTAL REMAJA DI RUMAH SAKIT Risa Setia Ismandani; Rizki Aqsyari; Rudi Suryo Handoyo; Hendra Dwi Kurniawan
Abdimas Kosala : Jurnal Pengabdian kepada Masyarakat Vol 5 No 2 (2026): ABDIMAS KOSALA: Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat
Publisher : SEKOLAH TINGGI ILMI KESEHATAN PANTI KOSALA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37831/akj.v5i2.490

Abstract

Bullying merupakan salah satu permasalahan yang berdampak pada kesehatan mental remaja. Di sisi lain literasi mengenai layanan kesehatan mental di rumah sakit masih rendah sehingga remaja belum mengetahui kapan dan bagaimana memperoleh pertolongan profesional. Tujuan kegiatan ini meningkatkan pengetahuan remaja mengenai dampak bullying dan akses layanan kesehatan mental di rumah sakit melalui kegiatan edukasi. Kegiatan pengabdian masyarakat dilaksanakan di SMKN 1 Donorojo Pacitan pada Januari 2026 dengan melibatkan 30 siswa kelas XII. Metode yang digunakan berupa ceramah interaktif, diskusi, tanya jawab, dan ice breaking. Evaluasi dilakukan melalui umpan balik peserta terhadap pemahaman materi, kesiapan mengenali masalah kesehatan mental, pentingnya pencegahan bullying, dan pemahaman mengenai alur layanan kesehatan mental di rumah sakit. Kegiatan pengabdian masyarakat diperoleh  88% peserta menyatakan materi mudah dipahami, 75% merasa lebih siap mengenali tanda-tanda masalah kesehatan mental akibat bullying, 90% menyatakan pencegahan bullying sangat penting, dan 60% memahami alur pemanfaatan layanan kesehatan mental di rumah sakit. Dapat disimpulkan bahwa edukasi anti-bullying efektif meningkatkan literasi kesehatan mental remaja serta pemahaman mengenai akses layanan kesehatan mental di rumah sakit. Kegiatan serupa perlu dilaksanakan secara berkelanjutan melalui kolaborasi antara institusi pendidikan dan fasilitas pelayanan kesehatan. Kata kunci: bullying; kesehatan mental; literasi; remaja; rumah sakit Bullying is one of the major issues affecting adolescents' mental health. At the same time, adolescents' literacy regarding hospital-based mental health services remains limited, resulting in insufficient knowledge about when and how to seek professional help. This community service program aimed to improve adolescents' knowledge of the impacts of bullying and access to hospital-based mental health services through educational interventions. The community service program was conducted at SMKN 1 Donorojo Pacitan, Indonesia, in January 2026 and involved 30 twelfth-grade students. The intervention consisted of interactive lectures, group discussions, question-and-answer sessions, and ice-breaking activities. Program evaluation was carried out using participant feedback to assess their understanding of the educational materials, readiness to recognize mental health problems, awareness of the importance of bullying prevention, and understanding of the referral pathway to hospital-based mental health services. Result of the activity were obtained 88% of participants reported that the educational materials were easy to understand, 75% felt better prepared to recognize signs of mental health problems associated with bullying, 90% acknowledged the importance of bullying prevention, and 60% understood how to access hospital-based mental health services. It can be concluded that anti-bullying education effectively improved adolescents' mental health literacy and enhanced their understanding of access to hospital-based mental health services. Similar educational programs should be implemented continuously through collaboration between educational institutions and healthcare facilities. Keywords: adolescents; bullying; hospitals; mental health; mental health literacy