Risa Setia Ismandani
STIKES PANTI KOSALA

Published : 6 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 6 Documents
Search

HUBUNGAN PEMBERIAN INFORMED CONSENT PRAOPERASI DENGAN TINGKAT KEPUASAN PASIEN DI RUMAH SAKIT Dr. OEN KANDANG SAPI SOLO Hendra Dwi Kurniawan; Muljadi Hartono; Risa Setia Ismandani; Natanael Natanael
KOSALA : Jurnal Ilmu Kesehatan Vol. 11 No. 1 (2023): KOSALA: Jurnal Ilmu Kesehatan
Publisher : Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan Panti Kosala

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37831/kjik.v11i1.270

Abstract

Pemberian informed consent pra operasi merupakan salah satu tindakan dalam upaya untuk meningkatkan kualitas pelayanan kesehatan. Pasien yang akan menjalani tindakan operatif seringkali merasakan kekhawatiran terhadap tindakan yang akan dijalaninya. Tenaga medis berkewajiban menyampaikan informasi terlebih dahulu dalam setiap tindakan yang akan dilakukan terhadap pasien untuk memberikan sebuah informasi yang cukup dan mendapatkan persetujuan tindakan dari pasien tersebut. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui hubungan pemberian informed consent pra operasi dengan tingkat kepuasan pasien di RUMAH SAKIT Dr. OEN KANDANG SAPI SOLO. Metode penelitian yang digunakan adalah analitik observasional dengan pendekatan cross-sectional.  Analisis data dalam penelitian ini menggunakan uji statistik chi-square dari data penelitian yang sudah terkumpul. Hasil pada penelitian ini menunjukkan secara statistik terdapat hubungan yang signifikan antara pemberian informed consent pra operasi dengan tingkat kepuasan pasien di RUMAH SAKIT Dr. OEN KANDANG SAPI SOLO (OR = 6,67; CI 95% = 0,97 hingga 45,8; p = 0,038). Kesimpulan dalam penelitian ini adalah ada hubungan yang signifikan secara statistik antara pemberian informed consent pra operasi dengan tingkat kepuasan pasien di RUMAH SAKIT Dr. OEN KANDANG SAPI SOLO.   Kata kunci: informed consent, kepuasan   Providing preoperative informed consent is one of the actions in an effort to improve the quality of health services. Patients who will undergo surgery often feel worried about the action they will be undergoing.  Medical personnel are obliged to convey information in advance in every action that will be carried out on the patient to provide sufficient information and obtain approval for the action from the patient. The purpose of this study was to determine the relationship between the provision of preoperative informed consent and the level of patient satisfaction at Dr. OEN KANDANG SAPI SOLO Hospital. The research method used is observational analytic with a cross-sectional approach. Data analysis in this study used the chi-square statistical test from research data that had been collected. The results of this study showed that there was a statistically significant relationship between the provision of preoperative informed consent and the level of patient satisfaction at Dr. OEN KANDANG SAPI SOLO Hospital (OR = 6,67; CI 95% = 0,97 hingga 45,8; p = 0,038). The conclusion in this study was that there was a statistically significant relationship between giving preoperative informed consent and the level of patient satisfaction at Dr. OEN KANDANG SAPI SOLO Hospital.   Keywords: Informed consent, satisfaction
PENYULUHAN KESEHATAN TENTANG PEMANFAATAN SISTEM INFORMASI KESEHATAN PADA SISWA SMA NEGERI 1 TAWANGSARI Lilik Sriwiyati; Hendra Dwi Kurniawan; Risa Setia Ismandani
Abdimas Kosala : Jurnal Pengabdian kepada Masyarakat Vol 2 No 1 (2023): Abdimas Kosala : Jurnal Pengabdian kepada Masyarakat
Publisher : SEKOLAH TINGGI ILMI KESEHATAN PANTI KOSALA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37831/akj.v2i1.251

Abstract

ABSTRAK. Keberhasilan manajemen kesehatan sangat ditentukan antara lain oleh tersedianya data dan informasi kesehatan. Dalam pencapaian pelayanan kesehatan yang optimal diperlukan sistem informasi kesehatan yang memadai. Dengan adanya perkembangan teknologi dan informasi, akan berdampak terhadap sistem informasi kesehatan yang ada di Indonesia. Banyak masyarakat yang belum mengenal bahkan memanfaatkan adanya sistem informasi kesehatan yang ada di Indonesia. Siswa SMA Negeri 1 Tawangsari sebagian besar belum mengetahui tentang sistem informasi kesehatan sampai dengan cara pemanfaatannya. Untuk itu perlu adanya sosialisasi tentang sistem informasi kesehatan. Kegiatan pengabdian masyarakat ini bertujuan untuk meningkatkan pengetahuan siswa SMA Negeri 1 Tawangsari tentang pemanfaatan sistem informasi kesehatan melalui pemberian penyuluhan kesehatan. Kata kunci: penyuluhan kesehatan, sistem informasi kesehatan
KEPUASAN TENAGA MEDIS DAN TENAGA KESEHATAN DALAM IMPLEMENTASI REKAM MEDIS ELEKTRONIK (RME) DI RUMAH SAKIT Dr. OEN KANDANG SAPI SOLO Risa Setia Ismandani; Anastasia Lina Dwi Nursanti; Lilik Sriwiyati; Hendra Dwi Kurniawan; Muljadi Hartono
KOSALA : Jurnal Ilmu Kesehatan Vol. 11 No. 2 (2023): KOSALA : Jurnal Ilmu Kesehatan
Publisher : Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan Panti Kosala

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37831/kjik.v11i2.305

Abstract

Penyelenggaraan pelayanan di rumah sakit yang professional dan bertanggung jawab dibutuhkan dalam mendukung upaya kesehatan dalam rangkaian pembangunan kesehatan secara menyeluruh dan terpadu. Tujuan pembangunan kesehatan dapat tercapai salah satunya dari mutu pelayanan kesehatan yang diberikan. Transformasi teknologi kesehatan merupakan wujud nyata yang relevan dengan situasi kesehatan dan era 4.0 saat ini. Salah satu bentuk transformasi digital yang bisa diterapkan di rumah sakit yaitu dengan penerapan rekam medis elektronik untuk mengelola dokumen rekam medis pasien. Diharapan dapat mempermudah dan mempercepat proses pelayanan. Namun salah satu tantangan yang dihadapi dalam penerapan rekam medis elektronik berkaitan dengan sumber daya manusia.  Beragamnya persepsi pengguna dalam implementasi rekam medis elektronik akan memperlama proses pelayanan dan menambah beban kerja yang mana hal ini mengurangi kepuasan kerja pengguna (tenaga medis dan tenaga kesehatan). Sehingga perlu dilakukan penelitian mengenai hal tersebut. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan kepuasan tenaga medis dan tenaga kesehatan dalam implementasi rekam medis elektronik. Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif. Sampel  yang digunakan adalah tenaga medis dan tenaga kesehatan di RUMAH SAKIT Dr. OEN KANDANG SAPI SOLO sejumlah 100 responden. Berdasarkan analisa univariat diperoleh hasil kepuasan tenaga medis dan tenaga kesehatan dalam implementasi rekam medis elektronik dilihat dari tujuh dimensi yaitu: dimensi content (89% responden puas dan 11% tidak puas), dimensi accuracy (86% responden puas dan 14% tidak puas), dimensi format (82% responden puas dan 18% tidak puas), dimensi easy to use (85% responden puas dan 15% tidak puas), dimensi timeliness (87% responden puas dan 13% tidak puas), dimensi security (95% responden puas dan 5% tidak puas), dan dimensi speed of response (84% responden puas dan 16% tidak puas).   Kata Kunci : kepuasan, rekam medis elektronik   Professional and responsible service delivery in hospitals is needed to support health efforts in a comprehensive and integrated health development series. One of the goals of health development can be achieved from the quality of health services provided. Health technology transformation is a concrete manifestation that is relevant to the current health situation and the 4.0 era. One form of digital transformation that can be applied in hospitals is the application of electronic medical records to manage patient medical record documents. Hopefully it can simplify and speed up the service process. However, one of the challenges faced in implementing electronic medical records is related to human resources. The various perceptions of users in the implementation of electronic medical records will prolong the service process and increase the workload which reduces the job satisfaction of users (medical personnel and health workers). So it is necessary to do research on this matter. This study is to describe the satisfaction of medical personnel and health workers in the implementation of electronic medical records. Sample in this study is 100 respondents that are medical and health professional at Dr. OEN KANDANG SAPI SOLO HOSPITAL. The conclussion of this study are medical and health professional in the implementation of electronic medical record satisfaction were seen from seven dimensions, that are: content dimensions (89% of respondents were satisfied and 11% dissatisfied), dimensional accuracy (86% of respondents were satisfied and 14% were dissatisfied), format dimensions ( 82% of respondents are satisfied and 18% are dissatisfied), the dimension is easy to use (85% of respondents are satisfied and 15% are not satisfied), the dimension of timeliness (87% of respondents are satisfied and 13% are not satisfied), the dimension of security (95% of respondents are satisfied and 5 % dissatisfied), and response speed dimensions (84% of respondents were satisfied and 16% were dissatisfied.   Keywords : electronic medical record, satisfaction
ANALISIS FAKTOR KENDALA KODING: STUDI KUALITATIF PADA MAHASISWA PRODI SARJANA ADMINISTRASI RUMAH SAKIT STIKES PANTI KOSALA Yovita Prabawati Tirta Dharma; Anastasia Lina Dwi Nursanti; Hendra Dwi Kurniawan; Risa Setia Ismandani
KOSALA : Jurnal Ilmu Kesehatan Vol. 12 No. 1 (2024): KOSALA : Jurnal Ilmu Kesehatan
Publisher : Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan Panti Kosala

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37831/kjik.v12i1.326

Abstract

Latar Belakang: sejak diberlakukannya Sistem Jaminan Sosial Nasional (SJSN) dalam penentuan tarif pasien Jaminan Kesehatan Nasional (JKN) yang menganut sistem pengelompokan diagnosis dan prosedur (casemix), menjadikan sistem pengkodingan menjadi penting dalam penentuan tarif pasien. Untuk itu diperlukan petugas yang kompeten di bidang pengkodingan. Sebagai upaya melatih kompetensi pengkodingan maka Prodi Sarjana Administrasi Rumah Sakit di STIKES Panti Kosala memberikan pembelajaran pada mahasiswa melalui praktik klinik. Namun dalam prosesnya mahasiswa mengalami hambatan dalam melakukan pengkodingan. Untuk itu perlu dikaji lebih dalam faktor apa saja yang menajdi kendala koding pada mahasiswa. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui faktor kendala koding pada mahasiswa sehingga dapat didentifikasi solusi yang tepat untuk mengatasi hambatan tersebut. Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif dengan desain kualitatif. Sampel dalam penelitian terdiri dari 5 informan kunci, 1 informan utama dan 1 informan tambahan. Analisis hasil penelitian dilakukan dengan analisis tematik. Hasil penelitian yang didapatkan adalah faktor kendala koding pada mahasiswa terdiri dari tulisan dokter yang sulit dibaca, diagnosis penyakit/tindakan tidak lengkap dan tidak spesifik, pengetahuan serta perbedaan penggunaan ICD. Kesimpulan faktor kendala koding bagi mahasiswa sebagian besar dikarenakan karena tulisan dokter sulit dibaca, diagnosis penyakit/ tindakan tidak lengkap dan tidak spesifik serta perbedaan panduan ICD yang digunakan institusi rumah sakit.   Kata kunci: koding, studi kualitatif   Background: since the implementation of the National Social Security System (SJSN) in determining the tariffs for patients covered by the National Health Insurance (JKN) who adhere to the diagnosis and procedure grouping system (casemix), the coding system has become crucial in tariff determination for patients. Therefore, competent personnel in the coding field are needed. In an effort to train coding competence, the Bachelor of Hospital Administration Program at STIKES Panti Kosala provides practical clinic learning to students. However, students encounter obstacles in the coding process. Hence, it is necessary to further examine the factors that hinder coding among students. The objective of this research is to identify the coding constraint factors among students so that appropriate solutions can be identified to overcome these obstacles. This research is descriptive with a qualitative design. The research sample consists of 5 key informants, 1 main informant, and 1 additional informant. The analysis of the research results is conducted through thematic analysis. The results of the study indicate that the factors hindering coding among students include illegible doctor's handwriting, incomplete and nonspecific disease/ procedure diagnoses, knowledge, and differences in the use of ICD. The conclusion is that the main factors hindering coding for students are largely due to illegible doctor's handwriting, incomplete and nonspecific disease/ procedure diagnoses, and differences in the ICD guidelines used by hospital institutions (International Classification of Diseases).   Keywords: diagnosis code, qualitative study
LITERASI PELAYANAN KESEHATAN DIGITAL BAGI REMAJA SEBAGAI UPAYA PENCEGAHAN DINI MASALAH KESEHATAN Hendra Dwi Kurniawan; Rizki Aqsyari; Risa Setia Ismandani
Abdimas Kosala : Jurnal Pengabdian kepada Masyarakat Vol 5 No 1 (2026): ABDIMAS KOSALA: Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat
Publisher : SEKOLAH TINGGI ILMI KESEHATAN PANTI KOSALA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37831/akj.v5i1.458

Abstract

Remaja merupakan kelompok usia yang rentan terhadap berbagai permasalahan kesehatan, sementara perkembangan teknologi digital membuka peluang pemanfaatan layanan kesehatan digital sebagai upaya pencegahan dini. Namun, rendahnya literasi kesehatan digital dapat meningkatkan risiko misinformasi dan pemanfaatan layanan yang tidak tepat. Kegiatan pengabdian masyarakat ini bertujuan meningkatkan pengetahuan remaja tentang literasi pelayanan kesehatan digital sebagai upaya pencegahan dini masalah kesehatan. Metode yang digunakan adalah ceramah dan tanya jawab interaktif kepada 36 siswa kelas XII SMA Negeri 1 Slogohimo. Ceramah digunakan untuk menyampaikan materi literasi kesehatan digital secara terstruktur, sedangkan tanya jawab bertujuan memperdalam pemahaman peserta. Hasil kegiatan menunjukkan respon siswa sangat antusias, ditandai dengan keaktifan dalam diskusi dan kemampuan menjawab pertanyaan evaluasi dengan tepat. Sebelum kegiatan, sebagian besar siswa belum memahami literasi kesehatan digital, namun setelah penyuluhan terjadi peningkatan pengetahuan dan pemahaman peserta terkait konsep, jenis layanan kesehatan digital, serta peran remaja dalam pemanfaatannya. Dapat disimpulkan bahwa kegiatan pengabdian masyarakat ini berjalan dengan baik dan efektif dalam meningkatkan pengetahuan siswa mengenai literasi pelayanan kesehatan digital sebagai upaya pencegahan dini masalah kesehatan di kalangan remaja. Kata kunci: literasi digital kesehatan, pencegahan masalah kesehatan, remaja Adolescents are a population group that is vulnerable to various health problems, while the rapid development of digital technology offers opportunities to utilize digital health services as an early prevention strategy. However, low levels of digital health literacy may increase the risk of misinformation and inappropriate use of health services. This community service activity aimed to improve adolescents’ knowledge of digital health service literacy as an effort to prevent health problems at an early stage. The methods employed were lectures and interactive question-and-answer sessions involving 36 twelfth-grade students of SMA Negeri 1 Slogohimo. Lectures were used to deliver structured material on digital health literacy, while the question-and-answer sessions were conducted to deepen participants’ understanding. The results showed that students responded very enthusiastically, as reflected by their active participation in discussions and their ability to answer evaluation questions accurately. Prior to the activity, most participants had limited understanding of digital health literacy; however, after the educational intervention, there was an improvement in students’ knowledge and understanding of digital health literacy concepts, types of digital health services, and the role of adolescents in utilizing them. It can be concluded that this community service activity was well implemented and effective in increasing students’ knowledge of digital health service literacy as an early prevention effort for health problems among adolescents. Keywords: adolescents, digital health literacy, health problem prevention
OPTIMALISASI LITERASI INFORMASI KESEHATAN DAN PENCEGAHAN PENYAKIT TIDAK MENULAR DI DESA POJOK KECAMATAN TAWANGSARI Risa Setia Ismandani; Yovita Prabawati Tirta Dharma; Hendra Dwi Kurniawan; Yulia Leemanza
Abdimas Kosala : Jurnal Pengabdian kepada Masyarakat Vol 5 No 1 (2026): ABDIMAS KOSALA: Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat
Publisher : SEKOLAH TINGGI ILMI KESEHATAN PANTI KOSALA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37831/akj.v5i1.459

Abstract

Penyakit tidak menular masih menjadi persoalan kesehatan di Indonesia. Penyakit tidak menular merupakan isu genting yang menyumbang angka kematian secara global (77%), regional (Asia Tenggara) maupun nasional. Perlu diketahui bahwa PMT sebagian besar bersifat kronis dan memerlukan pengobatan jangka panjang.  Hal ini menjadi perhatian penting bagi semua pihak untuk bisa berkontribusi dalam menangangi masalah PTM di masyarakat. Berdasarkan data Puskesmas Tawangsari sebagian masyarakat desa Pojok khususnya RW 06 masih banyak yang terdiagnosis mengalami penyakit degeneratif seperti diabetes melitus (2,8%) dan hipertensi (20%). Pihak Puskesmas sudah berupaya melakukan penyuluhan-penyuluhan kesehatan namun sampai saat ini belum terlihat hasil yang memuaskan dari upaya tersebut. Metode yang digunakan adalah ceramah, tanya jawab, serta demonstrasi. Kegiatan dilakukan dalam bentuk penyuluhan, serta pemberdayaan masyarakat khususnya kader kesehatan dan ketua PKK sebagai penggerak kegiatan. Kegiatan pengabdian masyarakat dilaksanakan pada tanggal 11-28 Juni 2025 di RW 06 Dusun  Jetis Desa Pojok Tawangsari. Kegiatan dilaksanakan melalui penyuluhan, aktivitas fisik (senam) serta pemberdayaan kader kesehatan. Kegiatan berjalan dengan lancar dan masyarakat antusias dalam mengikuti kegiatan. Kegiatan penyuluhan dan pemberdayaan masyarakat di Desa Pojok meningkatkan pengetahuan dan kesadaran masyarakat dalam pencegahan penyakit tidak menular melalui optimalisasi literasi informasi kesehatan. Kata kunci: informasi kesehatan, penyakit tidak menular, pencegahan, penyuluhan, pemberdayaan Non-communicable diseases (NCDs) remain a major health issue in Indonesia. NCDs are a critical global health concern, accounting for approximately 77% of deaths worldwide, both regionally (in Southeast Asia) and nationally. It is important to note that most NCDs are chronic and require long-term treatment. This situation calls for serious attention and collaboration from all sectors to contribute to addressing NCD problems within communities. Based on data from the Tawangsari Community Health Center (Puskesmas), many residents of Pojok Village still suffer from degenerative diseases such as diabetes mellitus and hypertension. Although the health center has made various efforts through health education programs, the outcomes have not yet shown significant improvement. The methods used were lectures, question and answer sessions, and demonstrations. The activities were conducted in the form of helath education and community empowerment, particulary involving health cadres and PKK leaders as drivers of the activities. The community service activities were carried out from June 11–28, 2025, in RW 06, Jetis Hamlet, Pojok Village, Tawangsari Sub-district. The activities consisted of health education sessions, physical activities (exercise), and empowerment of community health cadres. The program ran smoothly, and the community showed high enthusiasm and participation. Health education and community empowerment activities in Pojok Village improved public knowledge and awareness in preventing non-communicable diseases through the optimization of health information literacy. Keywords: empowerment, health education, health information, non-communicable diseases, prevention