Ketidaksetaraan akses pendidikan bagi perempuan pada masa kolonial melahirkan pemikiran pendidikan dari seorang keturunan bangsawan Sunda, Raden Dewi Sartika, yang dikenal dalam sejarah sebagai pahlawan nasional pejuang emansipasi perempuan melalui pendirian Sekolah Isteri pada tahun 1904 di Bandung. Sekolah yang semula dikhususkan bagi perempuan tersebut, pada abad ke-21 telah bertransformasi menjadi lembaga pendidikan inklusif bagi laki-laki maupun perempuan, sebagaimana tercermin pada studi kasus penelitian ini, yaitu SMA Dewi Sartika Jakarta Selatan. Penelitian ini menggunakan pendekatan historis untuk mengkaji bagaimana gagasan pendidikan watak, kemandirian perempuan, dan keterampilan praktis/vokasional yang digagas Dewi Sartika diwariskan serta direkonstruksi dalam sistem pendidikan formal masa kini. Temuan menunjukkan bahwa pemikiran Dewi Sartika tidak terbatas pada pengajaran keterampilan domestik seperti menjahit dan memasak, melainkan turut membentuk kepercayaan diri, kemandirian ekonomi, serta kedudukan perempuan sebagai mitra sejajar dalam rumah tangga dan masyarakat. Nilai-nilai tersebut tetap relevan pada SMA Dewi Sartika Jakarta Selatan, terlihat dari visi sekolah yang mengintegrasikan semangat, kemandirian dan intelektualitas perempuan ke dalam kurikulum masa kini berorientasi kewirausahaan, penguasaan IPTEK, dan kesadaran lingkungan (Adiwiyata), meskipun sasaran pendidikannya sekarang tidak lagi dikhususkan hanya untuk perempuan saja. Penelitian ini menegaskan bahwa warisan pemikiran pendidikan Dewi Sartika bersifat menyesuaikan terhadap zaman, tanpa kehilangan substansi perjuangan awalnya dalam memberdayakan perempuan melalui jalur pendidikan.